MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Arnaf Yang Sebenarnya..


__ADS_3

Aku tahu, dan itu bukan perbuatan Arnaf.."


Semua yang ada disana tercengang dengan pembelaan Sasti. kecuali Arnaf. Dia ingat saat surat kecil yang dia baca mengatakan kalau Citra hamil dan dia akan di jebak.


"Bukan perbuatan Arnaf? maksudnya Sas?"


Sasti tersenyum menatap semua orang yang juga menatapnya dengan perasaan heran dan penasaran.


"Mas Arnaf memang selingkuh tapi mas Arnaf tidak pernah berbuat zina dengan selingkuhannya.." ucapan Sasti yang tenang membuat semua yang mendengarnya terperangah.


"Mana mungkin Sas? bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya salah satu sepupu Arnaf.


"Aku tahu, aku mengenal siapa Arnaf."


"Terus gimana kamu bisa yakin kalau arnaf nggak pernah berbuat zina dengan selingkuhannya?" Tanya salah satu tantenya.


"Karena dari awal dia selingkuh aku sudah mengawasinya tante.."


Deggg


Hati Arnaf mencelos mendengar sebuah kenyataan dari bibir istrinya.


"Arnaf itu bukan playboy, Arnaf tidak bisa merayu wanita. Bukankah dulu pas jadian, aku yang mengejar Arnaf? Dan aku tahu saat dimana dia jujur atau tidak. Aku sudah menyadari ada keanehan, ditambah lagi sikapnya yang beda. Daripada bertanya dan ujung ujungnya ribut, aku memilih diam seakan tak tahu apa apa, tanpa Arnaf ketahui aku dan teman temanku menyelidikinya.."


Semua terdiam. antara percaya dan tidak percaya. begitu juga Arnaf, rasa sesalnya semakin menyeruak.


"Perempuan itu hamil dengan pria lain sebelum dekat dengan Arnaf. Pria itu tak mau tanggung jawab karena dia sudah mempunyai istri. Wanita itu yang menggoda Mas Arnaf dan berusaha menjebaknya. "


Kembali semuanya terhenyak mendengar pengakuan Sasti.


"Sebelum kecelakaan itu, aku sudah mengikuti Arnaf kemanapaun. Hingga pas di cafe dia bersama wanita itu dan disitulah kesempatanku membongkar semuanya. Setelah itu aku pergi tanpa pamit sama kalian karena aku terlanjur sakit hati, dan ingin segera melupakannya.." suara Sasti kini terdengar bergetar. nenek yang berada disebelah Sasti memberi pelukan hangat.


"Maafkan kami ya Sas, maafkan nenek.."


"Nenek tidak salah, mungkin itu memang jalanku nek.."


"Jadi kecelakaan itu terjadi, karena kepergianmu Sas?"


"Bukan.." kali ini Arnaf mencoba bersuara, dan semua menoleh ke arah laki laki yang matanya sudah memerah.


"Saat itu aku sedang bertengkar karena wanita itu menuduh Sasti bohong dan merekayasa semuanya. padahal sudah jelas jelas di ponsel sudah banyak video tak pantas milik perempuan itu.."


"Apa?" semua nampak terkejut. Yang terjadi benar benar diluar pemikiran mereka.


Tentu saja mereka syok dengan apa yang mereka dengar. karena mereka berpikir saat itu Arnaf sedang bersenang senang dengan selingkuhannya.


"Dia tak mau aku putuskan, jadi aku ngajak mati bareng dia.."


"Apa? Kamu gila!!" Teriak salah satu Omnya


"Iya Om, mungkin aku memang gila, Saat itu aku bener bener marah dengan perbuatanku sendiri."


Semua terdiam, tak bisa berkata kata lagi. Bahkan mereka tak percaya jika Arnaf memutuskan bunuh diri.


"Sudah sudah, jangan diteruskan, ini acara tasyakurannya sebentar lagi di mulai, mending siap siap oke.." Ucap Salah satu Om Arnaf yang lain. Dan semunya beranjak sesuai tujuan masing masing.


Untuk sesaat mata Sasti dan Arnaf beradu. Mereka seakan akan berbicara melalui sorot mata mereka.


"Ayo Sas ikut ke dapur.." Sebuah tepukan dipundak dan suara ajakan memutusakan pandangan mereka.

__ADS_1


"Eh iya tante.."


Dan sasti pun ikut beranjak menuju dapur ikut membantu menyiapkan hidangan.


Sedangkan Arnaf, dia memilih menyendiri di taman belakang. Mau bantu bantu pun percuma. Toh kondisinya juga sudah jelas terlihat bagaimana. Meski seminggu rutin terapi namun belum siap kakinya digunakan.


Pikirannya terus teringat dengan pengakuan Sasti. Bahkan disaat keluarganya meragukan dia, Sasti dengan yakin membelanya kalau dia tak pernah zina dengan Citra.


"Aku kejam ya Sas, aku kejam banget sama kamu, aku bahkan berniat menggantikanmu dengan wanita itu" gumamnya penuh penyesalan.


"Sekarang kamu sadar kan bagaimana hati Sasti?"


Arnaf tertegun, dia menoleh ke sumber suara.


"Papah.."


"Bahkan nenek dan yang lain langsung percaya pada ucapannya." Ucap Bagus yang mendudukan diri di kursi sebelah Arnaf berada.


"Aku yang terlalu bodoh pah,"


"Apa hubungan kalian sudah membaik?"


"Sedikit, seenggaknya akhir akhir ini kita ada waktu ngobrol.."


"Baguslah, terus wanita itu? apa benar benar sudah menghilang?"


"Mungkin, aku sudah nggak mau tahu lagi tentang dia.." Dan sang ayah hanya menganggukan kepalanya.


"Masuk lah, acara tasyakuran akan di mulai.."


"Iya.."


"Kamu tidur disini aja ya Sas, nenek pengin ngobrol sama kamu?" Tanya nenek beberapa saat setelah acara tasyakuran selesai.


Sasti nampak berpikir, jika dia tidur disini sudah pasti dia akan tidur dengan Arnaf. Tapi dia juga tak mampu menolak perempuan tua yang sangat menyayanginya itu.


"Baik lah nek, Sasti mau.." Akhirnya dia pasrah.


"Bapak sama ibu kabarnya gimana nak?"


"Mereka baik nek.."


"Sekali kali suruh mereka main, nenek kangen sama mereka.."


"Baik, nanti Sasti kabarin yah?" Dan si nenek hanya mengangguk pelan namun senyumnya tak kunjung pudar.


"Dulu nenek sempat sakit loh Sas saat tahu hubungan kamu sama Arnaf kandas." Ucap salah satu tante.


"Parah nggak Tan? Wah, maaf ya nek Sasti nggak tahu.."


"Nggak apa apa Sasti yang penting sekarang kamu ada disini.."


"Coba kalau aku nggak pergi.." Sesal Sasti.


"Hust, udah, lupakan, Arnaf mana? kok tidak kelihatan?" Begitu nenek menyebut kata Arnaf, mata Sasti pun ikut berkeliling. Benar saja Arnaf tak kelihatan.


"Arnaf lagi istirahat di kamar.." kata Mia dari arah dapur.


"Kamu lebih baik istirahat sana nak, besok temenin nenek jalan jalan ya?"

__ADS_1


"Baik nek, ya sudah, Sasti ke kamar dulu, kamarnya masih sama kan Mah?"


"Masih Sas.."


"Ya udah Sasti ke kamar dulu ya, selamat malam semuanya.."


Dan beberapa orang yang ada disitu pun membalas ucapan Sasti.


Tok tok tok..


mendengar suara ketukan, Arnaf yang lagi berbaring namun tak tidur membuka matanya.


"Siapa? Masuk saja nggak dikunci?"


Dan perlahan pintu pun terbuka. Mata Arnaf membulat begitu melihat siapa yang datang.


"Sasti? Ada apa? mau pulang?"


"Kenapa kamu sembunyi disini? keluarga pada ngumpul malah kamu nggak gabung?"


"Tadi sedikit lelah aja, mau pulang?"


"Nggak.."


"Terus?"


Terlihat Sasti sedikit berpikir.


"Ada apa?"


"Kita disuruh nginep."


"Kamu nggak mau?"


"Nggak enaklah sama nenek, dia yang minta.."


"Ya sudah kita nginep.."


"Tapi aku nggak ada baju ganti?"


"Baju bajumu yang lama masih ada tuh dilemari.."


"Apa? baju aku?"


"Iya, baju bajumu yang dulu jika kamu nginep disini, tuh dilemari.."


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah, semua yang berhubungan dengan kamu masih ada semua di dalam kamar ini.."


"Apa.!!"


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? Seru tak? jangan lupa kritik dan sarannya ya? kritik dan saran juga termasuk dukungan buat Author loh....


...Sambil nunggu cerita ini up, gimana kalau reader juga baca karya ku yang lain. Yang pasti tak kalah seru. coba deh simak karya di bawah ini...


__ADS_1



__ADS_2