
Azan magrib berkumandang. Naura terbangun dia tidak melihat suaminya di ranjang sebelah. Rupanya Tama sedang mandi.
"Dek, mau ikut magrib berjamaah?"
Tama bertanya begitu keluar dari kamar mandi.
"Tapi aku belum mandi, mas."
Naura menjawab sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih memakai baju tipis itu.
"Mandilah dulu. Mas tunggu."
Tama tersenyum, senyuman itu membuat Naura merasa sedikit lebih tenang. Dia segera mandi, dan berwudu.
Mereka melaksanakan sholat magrib berjamaah. Setelah sholat Tama bahkan berdoa yang mendoakan agar pernikahan mereka dipenuhi dengan keberkahan dan kebahagiaan.
Kenapa perlakuan mas Tama berubah rubah. Atau mungkin, mas Tama sedang berusaha untuk mencintaiku?
Dia bahagia saat mengaminkan doa yang diucapkan suaminya. Meski sejujurnya hatinya masih terasa sakit dengan perlakuan kasar suaminya beberapa jam yang lalu.
"Dek, kita makan di luar aja ya malam ini."
Tama mulai mebereskan perlengkapan sholatnya.
"Iya, mas."
"Kalau gitu ganti baju gih kita ke mall. Mas mau membeli beberapa barang."
Naura mengangguk ragu. Meski begitu, dia langsung bersiap.
Tama menunggu di depan kamar kos. Duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Matanya lagi lagi dikejutkan dengan tampilan Naura yang terlihat seperti hendak pergi pengajian.
Ini mau ke mall, Naura. Kenapa sih nggak bisa lebih modis dikit gitu. Rutuk Tama dalam hati.
"Kenapa, mas? Apa aku terlihat aneh?" Tanya Naura saat melihat raut wajah Tama yang tampak jelas tidak suka.
"Tidak kok. Ya udah yok kita ke mall."
Tama sudah memanggil taksi untuk menjemput mereka. Dan kali ini Naura yang merasa terkejut. Ini kali pertamanya naik taksi. Dan ia tidak tahu akan semahal apa ongosnya dari kos ke mall yang terbilang jauh.
"Ayo naik. Tunggu apa lagi…"
"Ii… iya, mas."
__ADS_1
Setelah Naura naik, taksi langsung melaju mengantar mereka ke mall. Taksi itu akhirnya berhenti di depan mall. Benar saja perkiraan Naura, biaya yang harus dibayar senilai dengan ongkos ketika dia belasan kali naik angkot kesana kemari.
Naura yang berasal dari keluarga biasa, merasa sangat menyayangkan memberikan uang sebanyak itu pada sopir taksi. Meski bukan uangnya, tetap saja dia merasa terlalu banyak membuang uang.
Tama berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan Naura yang melangkah cepat mengekor dibelakangnya. Bisa nggak sih jalannya pelan pelan saja. Gumamnya dalam hati.
Naura merasa salah satu bagian tubuhnya terasa nyilu dan itu membuatnya susah untuk berjalan cepat mengikuti Tama. Langkah Tama menuju ke bagian make up dan alat alat untuk merawat diri lainnya.
Tama mulai mendorong troli, lalu mengambil handbody lotion ukuran besar. Kemudian, dia mengambil sabun pencuci wajah pria ukuran besar. Dilanjutkan dengan sampo, sikat gigi, pepsoden, air untuk berkumur, pisau cukur, tisu, parfum, minyak rambut dan lain lain.
Sedangkan Naura tidak mengambil apapun. Dia hanya menemani suaminya saja. Setelah dirasa cukup, Tama pun langsung kekasir untuk membayar belanjaannya.
"Dek, kamu tidak membeli apapun?"
"Tidak mas."
"Kenapa? Beli saja, mau beli apapun. Mas yang bayar kok." Tama menawarkan dan tampak serius dari raut wajahnya.
"Memang tidak ada yang mau di beli kok, mas."
Tama mengangguk paham. Ternyata Naura tidak pandai merawat diri. Dia pelit dengan dirinya sendiri. Gumam Tama dalam hati.
Diam diam dia menatap penampilan Naura dari ujung kaki hingga kepala. Tama bahkan menggeleng miris melihat wajah Naura yang tidak memaki bedak sama sekali. Bibirnya pun dia biarkan tanpa polesan lipstik.
Setelah selesai berbelanja keperluan perawatan diri, Tama mengajak Naura menuju lantai atas untuk membeli baju. Tama membawa Naura ke toko baju pria, disana dia membeli tiga baju kaos tangan pendek yang harga satu baju itu tiga ratus ribu.
"Mahal." Gumam Naura dalam hati.
Naura tidak biasa berbelanja semahal itu. Untuk Naura, harga satu baju kaos Tama bisa untuk membeli dua sampai tiga baju.
Gaya hidupku dan mas Tama sangat jauh berbeda. Aku hanya wanita dari kalangan bawah, sementara mas Tama…
Setelah membeli baju, Tama mengajak Naura ke toko pakaian wanita.
"Mbak, bisa pilihkan gamis yang tampak elegan dan mewah untuk istri saya!"
Tama meminta penjaga toko memilihkan baju untuk Naura. Dan itu membuat hati Naura tersanjung.
"Tapi baju disini mahal mahal loh mas."
"Tidak masalah. Lagian aku yang membayarnya."
Tama tersenyum saat penjaga toko membawakan gamis keluaran baru yang sedang trend di kalangan wanita seusia Naura.
__ADS_1
"Coba gamisnya!"
Dengan berat hati, Naura mencoba gamis itu. Dia keluar dari ruang ganti dengan memakai gamis pilihan penjaga toko. Tama tersenyum senang. Dia merasa puas, karena Naura tampak lebih modis dan cantik dengan gamis itu.
"Mbak gamisnya langsung di pakai."
Naura hanya bisa tersenyum, meski hatinya merasa tidak enak dan tidak suka. Gamis ini sangat mahal. Pikir Naura.
Dia melihat harga gamis yang dipakainya saat ini, tadi di ruang ganti. Gamis itu seharga enam ratus ribu. Seberapa banyak sih uang mas Tama? Naura mulai penasaran. Tapi, tidak mungkin dia menanyakan pertanyaan itu pada suaminya.
Setelah membeli pakaian, Tama mengajak Naura untuk membeli pakaian dalam. Saat dalam perjalanan menuju toko pakaian dalam, mereka berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenal Tama.
"Pak Arjune!"
Sapa Tama pada pria yang tengah berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik seusia Naura. Pria itu menoleh dan menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di sebut.
"Pak Arjune. Oh sungguh saya tidak menyangka bisa bertemu dengan pak Arjune."
"Ee… dokter Tama, kan?"
Pria bernama Arjune itu terlihat mencoba mengingat.
"Iya, pak Arjune. Saya Tama. Tapi belum menjadi dokter, hanya perawat saja."
Naura hanya menunduk sejak tadi sambil menenteng beberapa paper bag belanjaan Tama. Sementara wanita yang menggandeng erat pergelangan tangan Arjune hanya tersenyum mendengar perbincangan Tama dengan calon suaminya itu.
"Ini…" Arjune menatap kearah Naura.
"Ah iya, pak Arjune. Ini istri saya, Naura."
Tama menarik tangan Naura mendekat padannya. Dia bahkan merangkul bahu Naura saat memperkenalkan pada Arjune.
"Hai Naura. Aku Queen, tunangan Arjune."
Tiba tiba Queen langsung mengulurkan tangannya pada Naura.
"Saya Naura."
"Saya Arjune…" Mengukurkan tangan pada Naura.
Namun, Naura hanya menatap tangan yang terulur milik Arjune. Ingin rasanya dia menyambut uluran tangan itu. Tapi, Naura sudah tidak mau bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahromnya setidaknya sejak satu tahun terakhir. Dia sedang belajar untuk istiqomah dalam hijrahnya.
"Saya Naura, pak Arjune." Jawab Naura sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Arjune langsung menarik kembali tangannya. Dia mengerti mengapa Naura tidak mau menjabat tangannya.