
Yani memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Nasi goreng buatannya memiliki rasa yang membuat Tama ketagihan.
"Bunda yang masak nasi goreng ini?"
"Iya, kenapa nak. Apa rasanya tidak enak?"
Yani merasa khawatir, dia bahkan berhenti menyuap nasi goreng dipiringnya. Rudi dan Naura pun ikut berhenti untuk mendengar komentar Tama.
"Justru ini sangat enak bunda."
Yani, Rudi dan Naura menghela napas lega. Mereka tersenyum dan kembali melanjutkan sarapan.
"Rasa nasi goreng buatan bunda persis seperti nasi goreng yang selalu aku makan saat masih menjadi mahasiswa dulu."
"Ah nak Tama bisa saja. Palingan juga bohong, kan?" Yani mengatakan itu sambil tersenyum malu malu.
"Benar kok bunda."
Suasana sarapan pagi ini terasa spesial menurut Yani dan Rudi karena kehadiran Tama. Maklum saja, mereka tidak pernah merasakan sarapan bersama seorang putra, karena mereka hanya punya tiga putri.
Yani, Rudi dan Tama menyantap sarapan sambil sesekali saling melontarkan candaan dan tertawa bersama. Naura ikut tersenyum senang karena Tama membuat kedua orangtuanya bahagia. Naura juga merasa senang saat melihat perlakuan lembut dan sopan Tama pada kedua orangtuanya.
Melihat suasana ini membuatku semakin penasaran. Benarkah mas Tama mencintaiku? Tapi, entah mengapa sejak akad dan sampai saat ini, aku tidak bisa melihat cinta untukku di mata mas Tama.
Naura memperhatikan mimik wajah Tama secara diam diam. Semoga saja itu hanya tebakanku yang salah. Toh yang terpenting saat ini, aku harus belajar menjadi istri yang terbaik untuk mas Tama.
Suasana menghangatkan, candaan kedua orangtuanya dan menantu mereka, benar benar menyejukkan hati Naura.
Satu menit…
Dua menit…
Hingga sepuluh menit kemudian, akhirnya sarapan selesai. Naura membantu bunda membereskan meja makan, mencuci piring dan juga membersihkan dapur. Sedangkan Tama sudah kembali ke kamar untuk bersiap. Dia akan segera berangkat ke kota untuk mengikuti pelatihan khusus tenaga medis sepertinya.
Dia sudah berpamitan pada Rudi dan Yani, sementara dia sama sekali tidak memberitahu Naura tentang hal itu.
"Sudah nak, biar bunda saja yang membereskan dapur. Kamu pergi sana bantu suamimu siap siap…" Celoteh Yani menyarankan.
"Siap siap untuk apa, bunda…"
Naura bertanya dengan suara yang sangat kecil hingga tidak terdengar oleh Yani. Dia terlihat bingung.
"Katanya suamimu akan segera berangkat ke kota pukul sembilan pagi ini."
Naura semakin bingung. Tapi dia tidak mau bertanya pada bundanya, karena akan sangat terlihat bahwa dia tidak tahu tentang suaminya. Jika bertanya pasti akan membuat bundanya curiga. Jadi, Naura pun langsung melangkah masuk ke kamarnya menyusul Tama. Dia akan langsung menanyakan pada suaminya.
"Mas mau kemana?"
"Aku ada pelatihan khusus untuk tim medis di kota."
__ADS_1
Tama menjawabnya tanpa menoleh pada Naura. Dia malah sibuk menatap layar ponselnya.
"Berapa lama, mas?"
"Satu minggu."
"Terus aku bagaimana, mas?" Lanjut Naura bertanya.
"Bagaimana apanya?" Kali ini Tama menatap wajah bingung Naura untuk sebentar.
"Ya, kita baru menjadi suami istri, terus mas mau pergi selama satu minggu…"
Naura tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Tama tiba tiba mengecup keningnya. "Satu minggu itu hanya sebentar kok. Aku akan segera kembali."
Apakah mas Tama mencintaiku? Naura kembali berdialog dengan pikirannya.
Tidak, tidak. Aku yakin mas Tama belum mencintaiku. Aku harus bertanya langsung? Tapi, bagaimana kalau mas Tama malah tidak suka dengan pertanyaan itu.
Naura dilema. Dia sangat ingin bertanya tentang perasaan Tama padanya, setidaknya sebelum Tama pergi.
"Mas…"
Naura memanggil Tama saat Tama hendak keluar dari kamar.
"Apa." Tama menoleh.
Naura akhirnya bertanya. Dia menundukkan pandagannya menunggu jawaban Tama.
"Huhh…"
Tama mendengus kesal. Dia melangkah mendekati Naura, lalu memeluk lagi tubuh Naura.
"Jika aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku menikahimu Naura."
Bibir Naura tersenyum mendengar jawaban Tama. Tapi, hatinya merasa sedih. Dia akhirnya tahu Tama tidak mencintainya sama sekali.
Naura seorang introvert yang bisa membaca perilaku seseorang lewat mimik wajah, nada bicara dan sentuhan orang tersebut. Dan saat Tama memeluknya, bukan kehangatan yang dia rasa, tapi justru terasa sangat dingin. Jawaban Tama pun terdengar jelas bahwa dia mengatakan; Aku terpaksa menikahimu. Jadi jangan berharap apapun dariku, Naura. Kalimat itulah yang ditangkap oleh Naura dari jawaban yang diberikan Tama barusan.
"Naura ayok. Antar aku kedepan."
"Iya, mas!"
Naura langsung bergegas menyusul Tama.
"Sudah mau berangkat, nak?" Sapa Rudi.
"Iya ayah. Sebentar lagi temanku datang menjemput."
"Nak, bawalah ini…"
__ADS_1
Yani berlari dari dapur membawa sekotak makanan yang dibungkusnya dengan plastik hitam.
"Apa ini, bunda?"
Tama bertanya sambil mengambil alih plastik hitam itu dari tangan Yani.
"Serundeng daging sapi. Sisa pesta kemarin. Tapi sudah bunda panaskan kok. Dan dijamin masih enak."
Tama tersenyum. "Terimakasih bunda. Nanti aku bagikan juga sama teman teman, boleh kan bunda?"
"Tentu boleh, nak."
Yani benar benar merasa senang dan bahagia bisa merasakan punya seorang anak laki laki.
"Nah itu sepertinya mobil teman nak Tama."
Rudi ke luar rumah. Mobil BMW merah berhenti tepat di depan rumah mereka. Mereka pun segera keluar dari rumah rumah. Maysaroh dan Tania turun dari mobil itu. Mereka menumpang untuk melihat keberangkatan Tama, sekalian mau bertemu dengan Naura.
"Kalau begitu aku pamit, ayah."
"Bunda, aku pamit ya. Jaga Naura selama aku pergi."
Tama menyalami Rudi dan Yani bergantian. Tama juga meminta agar Yani menjaga Nuara dan itu membuat Yani merasa semakin bahagia.
"Dek, mas pergi dulu ya."
Tama bahkan memeluk dan mengecup kening Naura untuk memperlihatkan betapa ia mencintai Naura dihadapan Mamanya dan juga orangtua Naura.
Naura mencium punggung tangan Tama. "Iya mas, hati hati."
"Jangan lama lama perginya. Kasihan Naura…"
Maysaroh merangkul Naura dan mengelus pelan punggungnya mencoba menghibur menntunya itu.
"Iya ma. Cuma seminggu kok."
Tama memeluk dan mencium mamanya. Lalu dia juga mengusak kepala Tania sambil berpamitan. Naura menyaksikan perilaku Tama kepada mamanya dan Tania adiknya.
Tentu saja mas Tama mencintai mereka, karena mereka keluarganya. Sedangkan aku hanya orang asing baginya.
"Bye bye…"
Tama melambaikan tangan. Dia bahkan sampai memberikan kiss bye yang diarahkan pada Naura yang terus tersenyum seperti orang bodoh sejak tadi. Tangan Naura bahkan ikut melambai lambai mengiringi kepergian suaminya.
Setidaknya mas Tama memperlakukan aku dengan mesra dihadapan kedua orangtuaku.
"Naura tidak usah sedih ya sayang. Nanti mama ajak jalan jalan ke pasar, terus kita makan makanan yang enak."
Naura mengangguk sambil tersenyum. Ajakan mama seakan menyuruhku untuk berbelanja sayur ke pasar, terus aku pasti di suruh masak di rumahnya, baru setelah itu makan bersama.
__ADS_1