Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 20 Salah tempat mengadu


__ADS_3

Hari terus berganti, dan berlalu begitu saja dengan sangat cepat tanpa permisi.


Naura masih terus bekerja ditoko hijab dan setiap harinya pulang dengan membawa lauk pauk kesukaan suaminya. Sejauh ini baik kedua orangtunya dan suaminya tidak ada yang mengetahui tentang kesibukan barunya itu.


Dan Tama juga punya kebiasaan baru, dia selalu pulang saat magrib dan pergi lagi setelah isa, pulang lagi pukul dua pagi dan bukannya langsung tidur dia memilih bermain game sampai subuh, lalu tidur saat Naura bangun untuk sholat subuh. Sehingga saat Naura berangkat kerja sampai pulang kerja Tama masih tidur.


Bukannya marah atau kesal dengan kebiasaan baru suaminya, Naura malah semakin berusaha untuk mendekati dan memberi perhatian pada suaminya. Banyak moment dimana Naura berusaha memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada Tama meski tidak pernah direspon baik oleh Tama. Semakin Naura berusaha memberikan perhatian pada suaminya maka suaminya semakin menjauh darinya.


Bahkan beberapa malam terakhir, Tama kembali meletakkan guling sebagai pembatas diantara mereka saat tidur. Naura membuang guling itu kelantai, lalu dia bergeser mendekat untuk memeluk suaminya itu. Yang terjadi selanjutnya, Tama langsung menjauhkan diri dari Naura dia bahkan mengelap bagian tubuhnya yang tersentuh oleh tangan Naura langsung dihadapan Naura.


Kenapa mas Tama melakukan itu? Apakah dia jijik padaku? Atau jangan jangan mas Tama sudah menceraikan aku tanpa sepengetahuanku? Terlebih sebulan terakhir mas Tama tidak pernah lagi menyentuhku.


Berbagai macam pikiran aneh terus terlintas dikepala Naura sejak kejadian malam itu.


"Apakah mas sangat membenci aku…"


"Sudahlah Naura. Aku capek."


Malam ini bahkan Tama memilih tidur di lantai dari pada tidur diranjang yang sama dengan Naura.


"Mas, tidurlah di ranjang. Aku akan tidur diluar." Naura membawa bantalnya dan selimut keluar dari kamar. Dia tidur di sofa depan televisi sendirian. Untungnya malam itu kedua orangtuanya sedang tidak dirumah, mereka pergi ke desa sebelah menghadiri acara pernikahan sepupu ayahnya.


Hampir dua bulan pernikahan, Naura masih belum bisa mendekati suaminya yang memasang tembok dihatinya. Meski begitu Naura masih tetap berusaha. Dia tidak mudah menyerah begitu saja.


Aku akan terus berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku, mas.


Malam berikutnya Tama dirumah saja dia tidak pergi meski sudah pukul sembilan malam. Dia tampak asyik menonton di hp-nya sambil berbaring nyaman dikasur. Naura ikut berbaring di sebelah suaminya, tapi langsung ditatap sinis oleh suaminya itu.


"Apaan sih jauh jauh sana, gerah." Kebencian Tama semakin terlihat jelas dari hari kehari, dan Naura masih terus berusaha mendekati Tama, tapi tembok pertahanan Tama malah semakin tinggi dan kokoh.


Aku tidak akan menyerah.

__ADS_1


Malam berikutnya Naura kembali mencoba berbaring di sebelah suaminya sambil mengelus lembut rambut sang suami.


Apakah cara ini bisa melembutkan sedikit hati suamiku?


Naura terus mengelus rambut suaminya. Merasa tidak ada penolakan, Naura semakin mendekat dia bahkan berbaring di lengan suaminya dan ikut menonton drama Turki yang sedang ditonton oleh suaminya itu.


Ya Allah, semoga hati suamiku sudah sedikit melembut.


Namun, belum dua menit, Tama bergerak dan langsung berdiri. Hal itu membuat Naura terkejut.


"Mas mau kemana?"


Tama sudah meletakkan hp-nya di atas meja rias, kemudian dia mulai memakai celana jeans dan juga kemejanya.


"Mas ada apa? Mas mau kemana?"


"Aku tidak suka diganggu."


Naura memohon maaf sambil memegang tangan suaminya, tapi langsung di tepis kuat oleh Tama hingga tangan Naura terhantuk kepinggir meja riasnya.


"Aku malas di ganggu. Apa susahnya sih untuk tidak menyentuhku, atau mengangguku. Aku tidak suka ya, kamu mengelus rambutku, menyentuhku apa lagi sok mau bermanja padaku. Itu sungguh sangat men-ji-jik-kan!"


Tama menatap penuh kebencian pada Naura yang terdiam mematung merasakan sakit teramat sakit di hatinya dan juga pergelangan tangannya.


"Aku mau tidur ke rumah mama."


Tama hendak membuka pintu kamar, tapi dengan cepat Naura menghalanginya dengan berlutut dan memegang erat kaki suaminya.


"Maafkan aku mas. Aku tidak akan pernah mengganggu mas Tama lagi."


"Lepas!"

__ADS_1


"Ini sudah larut, mas. Aku mohon jangan pergi. Aku janji tidak akan pernah menyentuh ataupun mengganggu mas lagi."


Naura terisak sambil perlahan melepaskan kaki suaminya. Tama menghela napas berat. Lalu dia melepas kembali kemeja dan celana jeansnya. Dia kembali ke tempat tidur dan melanjutkan aktivitas menontonnya seperti sebelumnya.


Sementara Naura masih menangis tertahan. Dia merasa sangat sedih dan terluka. Tapi setidaknya dia lega, karena Tama tidak jadi pergi dan berharap kedua orangtuanya tidak mengetahui pertengkaran mereka malam ini. Seperti itulah yang selalu terjadi setiap kali Naura mencoba mendekati suaminya.


Ya Allah, apakah ini kode dari suamiku agar aku menyerah dengan pernikahan ini?


Naura mengambil bantal dan selimutnya, kemudian dia berbaring atas karpet yang terbentang di lantai.


Sungguh aku sudah lelah dengan pernikahan ini. Tapi, aku tidak mau mengecewakan ayah dan bunda. Ya Allah, berilah petunjuk tentang apa yang seharusnya aku lakukan? Haruskah aku bertahan lebih lama ataukah aku harus segera merelakan rumahtanggaku?


Naura bertahan dengan pernikahan ini hanya demi kedua orangtuanya. Sebab Tama selalu memperlakukannya dengan sangat baik bahkan mesra dihadapan kedua orangtuanya dan juga mama mertuanya. Jadi, Naura tidak punya alasan untuk menyerah dengan kehidupan rumah tangganya.


Pernah saat menginap di rumah mama mertuanya, Naura menceritakan tentang Tama yang selalu pulang malam.


"Ma, coba mama nasehatkan mas Tama. Hampir setiap malam mas Tama pulangnya sangat larut bahkan kadang jam dua pagi."


"Mama kan sudah pernah bilang sama kamu, Tama memang seperti itu. Mama sudah sering menasehati tapi tidak dia dengarkan. Harusnya kamu sebagai istrinya berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk Tama supaya dia bisa betah dirumah."


Pelayanan yang baik? Seperti apa itu pelayanan yang baik? Aku bahkan sudah berusaha semampuku memberi pelayanan yang bahkan jauh lebih baik menurutku, tapi tetap saja tidak bisa merubah mas Tama.


"Oh iya, Tama bilang kamu selalu menyuruhnya untuk mencari pekerjaan. Mama rasa itu hal yang konyol, sayang."


Maysaroh mengelus lembut tangan Naura. "Jangan meminta suamimu untuk bekerja, karena meski tidak bekerja uang selalu masuk ke rekeningnya. Jumlahnya bahkan cukup banyak."


Begitukah mama? Wah sungguh aku baru tahu ternyata mama mertuaku dan suamiku sama sama gi-la.


Dia sangat terkejut ternyata mama mertuanya malah membela suaminya yang jelas jelas tidak bertanggung jawab pada istrinya.


Haruskah aku ceritakan semua tentang mas Tama yang tidak memberikan nafkah lahir padaku sejak awal pernikahan? Haruskah aku katakan bahwa selama ini mas Tama hanya berakting baik padaku?

__ADS_1


__ADS_2