Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 23 Hanya berpura-pura


__ADS_3

Hari hari selanjutnya Naura jalani dengan lebih baik dari hari sebelumnya. Dia terus tersenyum saat sedang bersama rekan- rekan kerjanya. Tama juga mulai bersikap manis padanya meski tidak ada orang lain didekat mereka. Dan Tama juga untuk pertama kalinya memberikan uang bulanan pada Naura sebanyak satu juta dua ratus, karena bisnisnya dengan bang udin berjalan lancar.


Bahkan sesekali Tama juga mengantar jemput Naura kesekolah saat dia sedang senggang. Naura merasa sangat bahagia dan merasa doanya terkabul. Hati suaminya benar-benar melembut dan mulai menerimanya sebagai seorang istri. Sangking bahagianya, Naura bahkan tidak tahu bahwa suaminya hanya berpura-pura.


Hingga suatu malam Naura dan Tama baru selesai makan malam. Mereka telah kembali ke kamar dan melakukan aktivitas masing masing. Naura mengerjakan tugasnya sebagai TU, sedangkan Tama bermain game seperti biasanya.


"Mama mau kita pindah ke rumahnya." Tama mengatakan itu tiba tiba tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Pindah?"


"Iya pindah. Mama bilang kita harus pindah ke rumahnya."


"Kenapa mama mendadak meminta kita untuk pindah, mas. Apa mama sakit?"


Naura menghentikan kegiatannya. Dia menatap wajah serius suaminya yang fokus menatap layar hp-nya.


"Mama sehat kok. Mama hanya ingin kita pindah."


"Tapi, aku belum siap kalau harus segera pindah, mas. Terlebih aku baru saja beberapa minggu bekerja dan aku belum bisa menyesuaikan diri antara pekerjaanku dan tugasku sebagai istri dan menantu. Takutnya nanti malah merepotkan Mama."


"Ya sudah kalau tidak mau juga tidak apa apa."


"Bukan tidak mau, mas. Hanya belum siap. Aku mau pindah ke rumah mama, tapi nanti setelah aku bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan tugasku sebagai seorang istri ya, mas."


Naura mencoba memberi alasan yang tepat pada suaminya. Tapi, sepertinya alasan yang diutarakan Naura tidak memberikan respon baik maupun buruk dari suaminya itu.


"Mas, maafkan aku ya. Aku masih belum siap untuk pindah kerumah mama." Naura mendekati suaminya. Dia duduk di pinggir kasur tepat disamping suaminya.


"Iya nggak apa-apa. Nanti aku bilang sama mama." Tama menegakkan kepalanya untuk menatap wajah menyesal Naura. Kemudian dia tersenyum manis pada Naura.


Ini pertama kalinya aku melihat senyum mas Tama semanis ini. Huh, andai aku bisa melihat senyum itu setiap saat.


Naura pun tersenyum membalas senyuman manis suaminya. Bahkan tangan Naura mulai perlahan menyentuh jemari tangan suaminya.

__ADS_1


Aku izinkan kamu menyentuh tanganku malam ini, karena jawaban jujurmu barusan, rencanaku akan berjalan lancar kali ini.


Tama membiarkan Naura menggenggam jemarinya. Kemudian tangan satunya mulai melepaskan earphone dan menaruh hp-nya di atas kasur begitu saja, lalu dia menarik Naura mendekat padanya.


"Tunaikan kewajibanmu sebagai istri malam ini. Aku sudah sangat lama tidak merasakan sensasi indah bersamamu." Tama membisikkan kalimat yang membuat Naura merinding seketika.


Naura memejamkan matanya, lalu dia merasakan hangat hembusan napas suaminya tepat didepan wajahnya. Naura berharap mendapat sentuhan hangat dan penuh kasih sayang malam ini dari suaminya. Namun, harapan Naura kembali pupus malam ini, karena Tama menyentuhnya selalu dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


Tangan Naura mere-mas kuat sprei dan membungkam mulutnya sekuat yang dia bisa. Sementara air mata menetes dikedua ujung matanya.


Rasa apa ini? Kenapa hanya rasa sakit yang selalu mas Tama berikan padaku. Meski perlakuannya mulai manis padaku tapi tetap saja aku tidak bisa merasakan kasih sayang darinya.


Naura memejamkan matanya dan membiarkan air matanya menetes beriringan dengan setiap hentakan menyakitkan yang dilakukan Tama padanya.


Pagi harinya Naura bangun terlambat dari biasanya. Dia merasa sangat lelah setelah terpaksa mengikuti keinginan Tama yang menurutnya seperti kesetanan semalam. Meski begitu Naura tetap harus berangkat kerja. Saat Naura berangkat bekerja, Tama pun langsung pulang ke rumah mamanya.


"Istri kamu tidak masak lagi?" Maysaroh langsung menebak saat melihat Tama yang sudah duduk nyaman di meja makan sambil menyantap nasi gorengan buatannya.


Tama memperlakukan Naura lebih baik dan sangat manis dihadapan, mamanya ayah bunda dan orang orang. Tapi setiap kali dia datang kerumah Mamanya tanpa Naura, dia malah mengeluhkan bahwa Naura memperlakukannya dengan buruk.


"Loh kenapa dia bersikap seperti itu. Apa karena dia merasa sudah lebih hebat dari kamu karena dia sudah bekerja sebagai seorang honorer sementara kamu masih kerja serabutan."


"Sepertinya begitulah Ma. Bahkan tadi aku bangunnya agak terlambat dari biasanya. Dia menutup pintu kamar dengan kuat sambil merutuk, katanya aku selalu bangun siang dan tidak punya pekerjaan loh Ma."


"Makanya cepat ajak dia pindah kesini. Biar mama ajarkan dia bagaimana cara menjadi istri yang baik dan tunduk patuh pada suami meski punya pekerjaan yang bagus dari suami."


"Aku sudah mengajaknya pindah kesini ma, tapi dia nggak mau. Katanya dia nggak bisa menyesuaikan diri dengan perlakuan mama, dia tidak nyaman katanya."


Begitu entengnya lidah itu mengatakan fitnah tidak berdasar itu. Sungguh Tama sudah sangat keterlaluan.


"Naura yang bilang begitu?"


"Iyalah ma. Nggak mungkin orang lain, kan menantu mama ya Naura."

__ADS_1


Maysaroh terdiam sesaat. Dia mencoba mengingat kira-kira perlakuannya yang mana yang membuat Naura merasa tidak nyaman.


"Sudahlah ma tidak usah dipikirkan. Aku akan membujuknya lagi untuk pindah kesini."


"Mmm, cobalah bujuk Naura lagi. Bilang sama dia, mama akan berusaha memperlakukannya sebaik mungkin dan berusaha membuatnya nyaman." Maysaroh mengatakan itu dengan suara serak dan agak terbata bata.


Sementara itu Naura saat ini sudah berada diruangannya. Dia tampak sibuk mempelajari beberapa file yang berhubungan dengan tugas tugas kepala tata usaha. Terlebih sebentar lagi ujian akhir semester akan dilaksanakan dan Naura harus memahami beberapa file yang berhubungan dengan hal tersebut.


Tok, tok…


Mutia mengetuk pintu ruangan Naura. "Bu Naura! Boleh saya masuk?"


"Ya silahkan, bu Mumu."


Mutia langsung memasuki ruangan itu dan duduk di kursi yang ada didepan meja Naura.


"Ada apa bu Mumu?"


"Nggak ada apa-apa, cuma mau numpanng sitirahat saja sejenak." Mutia langsung merebahkan kepalanya diatas meja kerja Naura tepat disamping laptopnya.


"Bu Mumu bisa beristirahat di sana. Lebih nyaman." Naura menunjuk sofa panjang yang memang terlihat lebih nyaman untuk berbaring diatasnya.


"Terimakasih Nana." Mutia melangkah menuju sofa itu, kemudian dia tertidur nyaman diasana tanpa memperdulikan Naura yang bersungut aneh mendengar Mutia memanggilnya Nana bukan bu Naura atau Naura saja.


"Bu Mumu sakit?"


"Nggak kok. Aku sehat wal'afiat kok. Hanya saja rasanya hari ini terlalu melelahkan tanpa alasan yang pasti."


"Ya sudah bu Mumu istirahat saja." Naura kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Panggil kak Mumu saja saat hanya ada kita atau saat sedang tidak dilingkungan sekolah. Aku mau berteman akrab dengan kamu Nana."


Mutia mengatakan itu tanpa menoleh pada Naura yang terperangah mendengar kalimat yang dikatakan Mutia barusan secara tiba-tiba.

__ADS_1


Terimakasih kak Mumu. Aku juga mau lebih akrab dengan kak Mumu.


Kedua sudut bibir Naura terangkat sempurna. Sepertinya dia akan betah ditempat ini untuk waktu yang lama.


__ADS_2