
Bagitu tiba di rumah, Tama baru saja bangun. Naura hanya bisa tersenyum menatap wajah baru bangun tidur suaminya.
"Mas baru bangun?"
"Mmm." Tama mengambil handuk, kemudian dia berlalu menuju kamar mandi.
Ya Allah, berilah aku kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi suamiku.
Naura meninggalkan kamar. Dia pergi kedapur untuk menyiapkan makanan, karena sebentar lagi ayahnya akan pulang. Dan saat Naura menyiapkan makanan di dapur, Tama selesai mandi. Dia langsung berpakaian rapi dan siap untuk berangkat.
"Mas mau kemana!" Naura menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari kamar dengan tampilan yang sangat rapi.
"Mau menemui bang Udin. Katanya dia mau ada bisnis gitu."
"Bisnis apa mas?"
"Mana aku tahu. Ini baru mau cari tahu."
Tama menjadi kesal karena Naura terlihat seakan mencurigainya.
"Ya sudah kalau begitu hati hati ya mas."
Naura mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan suaminya. Tapi, Tama malah menepis tangan Naura begitu saja.
"Sudah aku bilang berkali kali kan, aku tidak suka hal hal lebay seperti itu." Ujar Tama yang sudah melangkah keluar dari rumah
Untukku mencium tangan suami adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Tapi, bagi suamiku hal itu adalah perkara lebay.
Naura kembali ke dapur dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Sedangkan Tama sudah melajukan motornya keluar dari perkarangan rumah tanpa menyadari dari arah yang berlawanan ayah mertuanya menatap kearahnya.
"Mau kemana Tama sore sore begini?" Rudi memarkirkan motornya di depan rumah. Kemudian dia segera masuk untuk menanyakan pada putrinya, mau kemana menantunya itu.
"Asslamualaikum."
"Waalaikumsalam, ayah. Sudah pulang!"
Naura menghampiri ayahnya, kemudian dia mencium punggung tangan ayahnya.
"Bundamu belum pulang?"
"Belum. Bunda pulangnya sorean katanya. Soalnya bunda dapat pelanggan baru lagi loh yah."
Rudi mengangguk menanggapi ocehan Naura. "Suamimu mau kemana? Tadi ayah lihat dia di depan."
"Mau menemui bang Udin katanya. Ada bisnis baru gitu, yah."
"Udin siapa?" Rudi duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Itu lo yah, bang Udin yang dari Desa sebelah. Bang Udin keponakan almarhum papanya mas Tama."
Rudi mengangguk sambil mengingat, "Mmm, Fahrudin." Akhirnya Rudi mengingat siapa itu bang Udin yang dimaksud Naura.
"Iya ayah bang Fahrudin. Orang orang lebih mengenalnya dengan panggilan bang Udin."
Rudi mengangguk saja menanggapi penuturan Naura tentang si Udin.
"Ya sudah, kalau gitu ayah mandi dulu. Belum sholat asar soalnya."
Rudi bangkit dari kursi, kemudian dia langsung melangkah menuju kamarnya. Sementara Naura hanya mengangguk sambil tersenyum melihat langkah ayahnya menuju kamar.
Semoga mas Tama mendapat pekerjaan kali ini. Aamiin.
Selesai menyiapkan makanan, Naura pun kembali ke kamarnya. Dia pun segera mandi, sholat dan istrirahat sejenak sambil menunggu kepulangan suaminya.
.
.
.
Di rumah Udin, Tama dan beberapa orang lainnya sedang serius membahas sesuatu.
"Rencananya abang mau membuat kelompok khusus tani. Jadi kita yang ada disini malam ini adalah anggota kelompok tani berkah."
"Yang lain sajalah bang yang membuat proposal. Aku kurang paham soal begituan." Tama menolak perintah dari Udin.
"Tugasnya gampang kok, nggak usah khawatir. File proposalnya sudah abang siapkan. Kamu hanya tinggal mengedit sedikit lah untuk menyesuaikan dengan tujuan kita."
Tama mengangguk paham. "Oke lah bang, aku coba dulu semampuku."
"Nah gitu dong semangat." Udin memberi dukungan pada Tama.
"Jika kita berhasil, kelompok tani ini akan membuat kita sukses besar dan mendapat banyak keuntungan. Inilah bisnis yang sesungguhnya. Kalian harus pahami hal ini."
Tama dan anggota lainnya mengangguk saja menanggapi ocehan Udin barusan yang sangat optimis bahwa bisnisnya kali ini akan kembali sukses seperti sebelum sebelumnya.
"Bisnis abang belum pernah ada yang gagal sebelum sebelumnya. Noh tanah seluas satu hektar itu adalah buktinya."
Udin menunjuk tanah luas khusus untuk bercocok tanam tidak jauh dari rumahnya. Tanah itu adalah tanah pemberian seorang saudagar kaya yang mempercayakan tanah tersebut pada Udin dengan cara bagi hasil. Pembagian hasil tentunya menguntungkan Udin.
"Kali ini rencana abang mau menanam apa bang?" Tanya salah seorang anggota.
"Kali ini abang mau menanam kedelai. Harganya sangat bersaing saat ini dipasaran. Percayalah kita bisa untung banyak kali ini."
Baik Tama maupun anggota lainnya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Udin barusan.
__ADS_1
"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?" Semua orang menggeleng.
"Kalau tidak ada, rapat kita sore ini cukup sampai disini. Kalian boleh pulang, kecuali Tama."
Semua orang meninggalkan rumah Udin dengan perasaan penuh harapan agar bisa mendapat keuntungan besar dari bisnis kali ini.
"Kamu ikut abang ke Kota sekarang." Udin langsung menyandang tasnya.
"Sekarang bang?"
"Iya kita berangkat sekarang."
Udin meraih jaket kulit dan helemnya. Mereka akan ke kota dengan mengendarai motor.
"Kabari Naura dulu, karena mungkin kita tidak pulang malam ini."
Tama mengangguk sambil mengetik pesan untuk Naura. Dia memberitahukan bahwa dia akan ke kota bersama Udin untuk mengurus bisnis baru mereka.
Dan saat membaca pesan itu, Naura merasa lega dan senang karena suaminya memberi kabar. Setidaknya Naura bisa memberi jawaban pada ayah dan bunda jika mereka bertanya kenapa menantu mereka itu tidak pulang malam ini.
Benar saja saat makan malam, ayah dan bunda menanyakan keberadaan menantu mereka yang tidak terlihat sejak tadi dan juga tidak ikut makan malam. Padahal biasanya meski tidak ada dirumah seharian, Tama akan hadir saat makan malam.
"Mas Tama ke kota bersama bang Udin."
"Naik apa?"
"Motor, bunda."
"Harusnya naik bis saja. Kota itu jauh loh." Celoteh Yani mengkhawatirkan menantunya.
"Urusan apa Tama harus ke kota malam malam begini?"
"Nggak tahu pasi sih, yah. Tapi, mas Tama bilang dia di ajak bang Udin untuk menemui Kepala bagian pertanian di kantor pertanian. Bang Udin mau membentuk kelompok tani yang baru katanya."
"Kelompok tani?"
"Iya ayah, bunda. Bang Udin terkenal sukses dalam membentuk kelompok tani. Bukan kali ini saja loh, tapi sudah pernah sebelumnya dan kelompok taninya sukses besar. Kalau tidak salah waktu itu bang Udin dan kelompoknya menanam nanas dan semangka. Mereka mendapat keuntungan yang besar loh."
Naura menjelaskan berdasarkan pengetahuannya yang dia dengar dari tetangga yang sering membicarakan tentang kesuksesan bang Udin.
"Jadi Tama ikut keanggotaan kelompok tani Fahrudin?"
"Iy ayah."
"Bagus itu, akhirnya suami kamu punya kegiatan lagi."
Rudi merasa lega dan ikut senang, karena akhirnya menantunya itu mendapat pekerjaan dan akan mulai sibuk. Tidak lagi seperti sebelumnya yang uring uringan dirumah seharian.
__ADS_1