
Selesai masak-memasak, Naura mandi kemudian sholat asar. Dan saat bersamaan ayah dan bunda pulang. Mereka tahu Naura sedang sholat jadi mereka tidak mengganggu dan melanjutkan kegiatan mereka masing masing.
Setelah sholat Naura pun bermenung sejenak, kemudian dia teringat untuk membuka akun facebooknya. Dia berencana untuk mengganti foto profil facebooknya dengan foto dirinya dan Tama saat memakai baju adat pernikahan mereka.
"Harusnya foto yang mana ya?"
Naura mulai mentransfer foto-foto pernikahannya dari dalam laptopnya ke memori hp. Setelah memilih beberapa foto, Naura pun akhirnya login ke akun facebooknya. Tapi, begitu baru masuk beranda facebook, cuitan Tama beberapa jam yang lalu pun muncul paling atas.
Mata Naura membola, wajahnya berubah sendu, napasnya terasa sesak hingga air matanya menetes saat membaca cuitan Tama yang sepertinya ditujukan untuknya. Terlebih komentar-komentar teman-teman yang memojokkannya, bahkan ada yang mengatainya berselingkuh dengan Rian yang satu-satunya manusia membela dirinya disana.
"Ya Allah, apa lagi ini? Mengapa mas Tama sejahat ini padaku." Naura menutup facebooknya dan melemparkan hp-nya sembarangan.
"Rasanya sakit sekali ya Allah." Naura menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia tidak bisa bernapas untuk beberapa saat, kemudian dia berteriak dengan membekap mulutnya dengan bantal agar suara teriakannya tidak terdengar sampai keluar kamar.
Semoga ini hanya salah paham. Bisa saja kan mas Tama tidak bermaksud mengatai aku istri durhaka. Bisa saja itu dia tujukan untuk orang lain. Aku akan menanyakan saat mas Tama pulang nanti.
Naura berusaha mengajak hati dan pikirannya untuk berkompromi tidak bersuudzon pada suaminya. Berat memang untuk berhusnudzon pada suaminya setelah melihat sendiri apa yang telah terjadi, tapi tetap saja Naura berusaha untuk berhusnudzon pada suaminya dan bertekad untuk bertanya langsung terkait status facebook suaminya itu.
Dan tepat setelah Naura sholat magrib Tama tiba di rumah. Naura menyambutnya dengan baik seperti biasa. Kemudian, setelah Tama mandi dan berganti pakaian, barulah Naura bertaya perihal status facebook yang menyudutkannya itu.
"Mas apa maksud dari status facebook mas kali ini?"
"Apa lagi sih, ribet banget." Tama tidak suka dengan pertanyaan Naura barusan.
"Mas, coba jawab jujur. Sebenarnya ini mas tujukan padaku kan? Mas mengatakan aku istri durhaka?"
"Apaan sih." Tama hendak meninggalkan kamar, tapi cepat ditahan oleh Naura.
"Maksud status facebook mas ini apa? Aku tidak paham jadi tolong jelaskan dengan sejujurnya mas."
"Ya pikirkan saja sendiri."
"Mas, mas…"
Naura mencoba meraih tangan Tama untuk menahannya agar tidak pergi, tapi terlambat karena Tama sudah keluar dari kamarnya begitu cepat. Naura mengejar dan saat Naura keluar dari kamarnya rupanya bunda melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Mas mau kemana? Aku belum selesai ngomong…" Naura ingin berteriak tapi ditahannya hingga akhirnya dia hanya bisa melihat Tama yang sudah melajukan sepeda motornya menuju kearah rumah mamanya.
Naura benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Napasnya terasa semakin sesak karena dia menahan diri untuk tidak berteriak dan menangis.
Aku harus menyusul mas Tama. Aku ingin semuanya jelas, bukan menjadi prasangka seperti ini.
Naura mengendarai sepeda motor ayahnya untuk menyusul Tama yang diyakini mendatangi rumah mamanya. Benar dugaan Naura, suaminya berada di rumah mamanya. Dengan cepat Naura melangkah masuk ke rumah itu bahkan sampai lupa mengucapkan salam. Namun, saat langkahnya hampir tiba di ruang keluarga, Naura tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kamu berantam ya sama Naura?"
"Nggak tau la ma. Malas aku membahas dia."
Naura mendengarkan perbincangan mereka dibalik tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.
"Ada apa lagi kali ini?"
"Nggak tau ma. Aku malas membahas tentang dia. Mengingatnya saja membuat aku muak."
Napas Naura semakin berat, tangannya menggenggam erat ujung jilbabnya. Naura menahan rasa yang berkecamuk dalam hatinya.
Air mata Naura menetes, dia tidak bisa melanjutkan niatnya untuk menemui suami atau mama mertuanya.
Sebaiknya aku pulang saja. Kehadiranku hanya akan membuat mas Tama semakin membencinku.
Perlahan Naura melangkah keluar dari rumah itu. Dia mengendarai sepeda motor ayahnya lagi untuk kembali ke rumah. Dan sepanjang perjalanan Naura menangis bahkan sampai terisak.
Begitu tiba di depan rumah, bunda menyambutnya dengan heran karena Naura menangis. Untungnya saat itu tidak ada ayahnya, kebetulan ayah sedang di masjid sejak magrib tadi dan pulannya setelah sholat isa.
"Ada apa, nak?" Yani langsung memeluk Naura begitu tiba di dalam rumah.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"
Naura tidak menjawab, dia hanya terus menangis sambil memeluk erat bundanya. Tangisannya terdengar sangat memilukan hingga Yani pun ikut menangis bersama Naura. Hingga setelah cukup lama Naura menangis, akhirnya dia melepas pelukan bundanya.
Yani menghapus sisa-sisa air mata di pelupuk mata Naura dan juga di pipinya.
__ADS_1
"Ada apa, nak? Kenapa menangis seperti ini. Cerita sama bunda."
Naura menggeleng, dia berusaha untuk menahan semuanya sendiri. Awalnya dia tidak ingin menceritakan masalah rumah tangganya pada bundanya, tapi hatinya terasa sangat sakit dan mungkin akan meledak jika terus terusan disimpannya sendiri.
"Bunda!" Naura kembali memeluk bundanya.
"Iya sayang. Bunda akan mendengarkan, jangan menyimpannya sendiri. Jika berat untuk menceritakan masalahmu pada bunda, ceritakan pada mama mertuamu saja. Mungkin akan lebih baik begitu dari pada memendam sendiri."
Tidak bunda. Aku tidak mau menceritakan masalah rumah tanggaku pada mama. Karena sudah pasti mama akan membela mas Tama.
"Mas Tama mengatakan aku istri durhaka. Mas Tama memposting tentang itu difacebooknya, bunda." Akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Naura.
"Apa? Istri durhaka."
Yani melepas pelukannya. Dia menatap dalam-dalam wajah sedih Naura.
"Apa yang telah kamu lakukan pada suamimu hingga dia mengatakan kamu istri durhaka, nak?"
Naura menggeleng. "Aku tidak tahu bunda. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku sampai-sampai mas Tama mengataiku istri durhaka."
"Astaghfirullah."
"Aku baru tahu tadi sore tentang perkataannya yang menyatakan aku istri durhaka di facebooknya itu bunda. Aku menunggu mas Tama pulang untuk bertanya apa yang telah aku lakukan. Tapi, mas Tama malah pergi begitu saja ke rumah mama. Bunda tahu apa yang dikatakan mas Tama tentang aku pada mama?"
Naura menatap wajah khawatir bundanya dengan tatapan sendu dan mata yang masih berkaca kaca. "Mas Tama bilang dia muak sama aku."
"Astaghfirullah."
Yani kembali memeluk Naura. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Tama begitu membenci Naura. Padahal dalam pandangannya selama ini Tama adalah keponakan sekaligus menantu yang terbaik.
"Bunda, jangan ceritakan masalah ini pada ayah. Aku tidak mau ayah kecewa karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas Tama." Ucap Naura dalam tangisannya.
Yani mengangguk. Dia memeluk erat tubuh putri sulungnya yang tengah menghadapi badai rumah tangga diawal pernikahannya.
"Sekarang, kamu kembali ke kamar. Sholat hajat lah, minta pertolongan sama Allah, nak."
__ADS_1
Naura mengangguk. Dia menghapus air matanya dibantu oleh bundanya. Kemudian, dia langsung ke kamarnya melaksanakan apa yang disarankan bundanya barusan. Dan Yani pun juga kembali ke kamarnya. Dia membasuh wajahnya agar tidak terlihat baru selesai menangis oleh suaminya yang sebentar lagi akan pulang.