Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 45 Takdir cinta Naura


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Bahkan tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Hubungan Naura dan Lutfi masih canggung seperti dulu. Naura masih tetap kokoh menutup rapat hatinya. Dan Lutfi pun akhirnya berubah haluan. Dia memutuskan melamar seorang wanita asal Surabaya.


"Selamat ya, mas." Ucap Naura pada Lutfi yang datang berkunjung ke rumahnya.


Mereka duduk di teras depan rumah. Naura menjamu Lutfi dengan secangkir kopi dan juga gorengan.


"Maafkan aku Naura. Aku tidak sekuat itu untuk menunggu sampai kamu siap." Ujar Lutfi merasa tidak enak pada Naura.


"Tidak apa, mas. Jodoh sudah tertulis di lauhul mahfudz bahkan sebelum kita diciptakan. Dan sepertinya takdir kita untuk saling mengenal, berakhir sebagai keluarga bukan sebagai pasangan." Sahut Naura tampak tenang dengan pembawaannya yang terlihat sudah sangat ikhlas dengan segala takdir yang digariskan untuknya.


"Aku doakan semoga kamu dipertemukan dengan jodohmu segera, Naura."

__ADS_1


"Terimakasih, mas."


Mereka pun berbincang, seperti Lutfi yang menanyakan bagaimana respon ayah dan bunda saat mengetahui dia telah melamar seseorang. Lalu Lutfi juga menanyakan bagaimana keadaan kedua adik Naura yang saat ini sudah mulai masuk kuliah.


Lalu, akhirnya Lutfi pun pamit izin pada Naura.


Setelah Lutfi pergi, Naura kembali masuk ke rumahnya. Dia menuju kamarnya dan mengambil selembar foto Lutfi yang didapatnya di mobil Lutfi sebulan yang lalu.


Ya, sebenarnya Naura sudah hampir membuka hatinya untuk Lutfi. Tapi, tepat saat hatinya mulai terbuka, seorang wanita anggun nan sholehah pun hadir dalam kehidupan Lutfi.


Naura tersenyum bahagia saat itu. Padahal dia juga istikhoroh dan hatinya sudah bisa menerima Lutfi, bahkan andai jawaban Istikhoroh Lutfi adalah dirinya, maka Naura akan langsung menerima lamaran Lutfi. Sayangnya takdir masih belum mengizinkannya bertemu dengan jodohnya.

__ADS_1


Air mata Naura menetes di sudut matanya. Rasanya sakit. Tentu. Sebagai manusia biasa, Naura merasakan sakit dalam hatinya. Tapi, dia tidak meyalahkan takdir sama sekali. Karena dia dan Lutfi sama sama sudah meminta jawaban dari Allah melalui istikhoroh mereka. Nyatanya jawaban mereka berbeda. Dan itulah takdir yang harus diterima oleh Naura dan Lutfi dengan lapang dada tanpa menyalahkan siapapun.


Yani menelpon Naura setelah mendapat kabar langsung dari Lutfi bahwa Lutfi telah melamar wanita lain.


"Naura, kamu baik baik saja, nak?" Tanya Yani Khawatir.


Sebenarnya dua hari yang lalu Naura mengatakan pada Yani bahwa dia mulai membuka hati untuk Lutfi dan dia juga sudah istikhoroh dan jawabannya hatinya sudah terbuka untuk menerima Lutfi. Tapi, keesokan harinya, Naura malah mengabarkan bahwa Lutfi telah melamar wanita lain.


"Tidak bunda. Aku tidak baik baik saja." Jawab Naura sambil terisak.


"Yang sabar, nak. Allah sangat menyayangimu. Hanya kamu yang mampu menerima semua ujian ini. Percayalah, Allah telah menyiapkan hadiah terindah untukmu, sayang."

__ADS_1


"Iya bunda. Doakan aku supaya tetap tegar dan sabar dalam menerima semua ujian ini. Meski permainan takdir ini sangat melukai hatiku."


Yani ikut menangis mendengar suara tangisan putrinya. Naura benar benar sabar dan tegar dengan segala takdir yang dihadapinya. Tapi, sepertinya kali ini Naura benar benar terluka. Ya, bagaimana dia tidak terluka. Saat Lutfi mencoba meyakinkannya, hatinya masih belum bisa percaya. Namun, saat hatinya mulai terbuka perlahan lahan, wanita lainpun masuk dalam kehidupan Lutfi dan pada akhirnya Lutfi memilih wanita sholehah itu.


__ADS_2