
Sejak pertengkaran Tama dengan Mamanya malam itu, dia menjadi lebih pendiam dan bertambah benci pada Naura. Bahkan kini dia merencanakan misinya yang sesungguhnya untuk membuat Naura menyerah dan meminta cerai darinya.
Aku tidak akan pernah menceraikan Naura. Aku tidak mau disalahkan dan dianggap buruk oleh mama dan orang-orang. Aku akan membuat Naura sendiri yang meminta cerai dariku dan aku akan menambahkan bumbu-bumbu agar orang-orang menganggap perceraian ini kesalahan Naura.
Tama sudah bertekad. Dia memulai dengan bersikap baik pada Naura, dia bahkan mencarikan Naura pekerjaan.
Malam ini kedua mertuanya dan Naura sedang mengobrol santai di depan televisi. Tama datang menghampiri mereka.
"Nak Tama mau kemana?" Yani bertanya saat Tama melangkah mendekati mereka.
"Tidak kemana-mana, bunda. Sengaja mau ikut mengobrol."
"Lah ayok sini, mari duduk sini di dekat Naura."
Tama pun duduk di sebelah Naura yang tampak tersenyum senang. Karena memang selalunya Naura terlihat bahagia dengan pernikahannya dihadapan kedua orangtuanya.
"Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan pada ayah sama bunda."
"Silahkan, katakan saja." Rudi mengecilkan volume tv untuk mendengar apa yang ingin disampaikan menantunya itu.
"Begini, ayah, bunda. Beberapa hari yang lalu tidak sengaja aku bertemu teman lama yang ternyata menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah swasta yang baru di buka tahun lalu."
"Jadi?" Rudi tampak tidak sabaran. Dia seakan mengerti arah pembicaraan itu.
"Kebetulan dia sedang mencari seseorang untuk menjadi staf Tata Usaha disekolahnya. Nah aku menawarkan Naura padanya." Tama melirik kearah Naura yang tampak bingung.
"Lalu, apakah dia mau menerima Naura?"
"Iya, ma. Selama Naura mau, maka dia dengan senang hati menerima Naura untuk menjadi staf tata usaha disekolahnya."
"Bagaimana Naura? Apakah kamu mau bekerja sebagai staf TU, nak?"
Rudi bertanya terlebih dahulu pada Naura, karena dia tahu Naura sangat tidak suka bekerja yang melibatkan banyak orang disana. Sebab hal itu jugalah yang membuat Naura belum mendapat pekerjaan hingga saat ini.
Jika aku tolak kesempatan ini, ayah pasti akan sangat kecewa. Aku tahu Ayah sangat ingin aku memiliki pekerjaan. Karena bagi ayah saat aku yang sudah menjadi sarjana lalu aku memiliki pekerjaan adalah bukti suksesnya ayah menjadi seorang ayah.
"Iya ayah, bunda, mas Tama, aku setuju untuk bekerja sebagai staf tata usaha sekolah swasta yang mas Tama maksud."
Naura lagi lagi mengorbankan kebahagiaannya demi membahagiakan kedua orangtuanya. Dia tidak tahu, apakah nanti dia bisa bekerja sebagai seorang staf tata usaha atau malah pekerjaan itu membuatnya merasa terbebani.
Bagi seorang yang introvert seperti Naura, bekerja dilingkungan yang baru dan tentunya akan berinteraksi dengan banyak orang adalah sesuatu hal yang sangat melelahkan dan membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Bismillah. Semua ini demi kebahagiaan ayah. Toh kalau aku bekerja, sudah pasti aku punya penghasilan sendiri dan aku tidak harus mengharapkan mas Tama memberikan uang belanja lagi. Semangat!
.
.
.
Hari pertama masuk kerja. Naura bangun lebih awal, selesai sholat subuh dia langsung membuatkan sarapan untuk suaminya, lalu memasak untuk nanti makan siang. Sedangkan bundanya, membantu membereskan pekerjaan rumah lainnya sebelum berangkat bekerja.
"Bunda aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
Naura berpamitan pada bundanya setelah sarapan. Dia berangkat ke sekolah bersama ayahnya. Maklum saja Naura tidak punya motor. Satu-satunya motor hanya punya ayah. Jadi Naura dibonceng ayah sampai ke sekolah tempat ayah bekerja. Kemudian, barulah Naura menyetir motor sendiri menuju sekolahnya yang lebih jauh dari sekolah tempat ayahnya bekerja.
Yani juga akhinya meninggalkan rumah untuk pergi bekerja. Setelah rumah menjadi sunyi barulah Tama bangun dan langsung kerumah mamanya.
"Tama! Tumben pagi-pagi sudah kerumah mama, selalunya kamu datang sore atau malam."
Maysaroh heran melihat Tama sudah datang sepagi ini dengan wajah yang bahkan belum menyentuh air.
"Aku lapar ma, mau makan." Tama langsung menuju dapur dan mengambil makanan yang telah disediakan dimeja makan.
"Naura tidak masak ma. Hari ini kan hari pertama dia bekerja jadi tidak sempat masak."
"Tidak sempat masak?" Maysaroh tampak tidak suka dengan apa yang diceritakan Tama.
"Harusnya dia itu jadi istri yang diam dirumah saja Layani suami dengan baik. Toh dia punya suami yang bisa mencukupi semua kebutuhannya. Mama kecewa sama Naura. Dulu mama sangat memujinya karena mama pikir dia wanita yang perhatian, lemah lembut dan penurut."
"Itu karena mama menilai buku hanya dari sampulnya."
"Bujuk Naura untuk pindah kerumah mama. Mama akan mengajarkan dia bagaimana menjadi istri yang baik meski harus bekerja."
Tama malah terdiam mendengar pernyataan mamanya barusan. Dia pikir mamanya akan langsung murka dan tidak percaya dengan aduannya. Tapi ternyata mamanya percaya dan malah memintanya membawa Naura pindah kerumah mamanya.
Sementara itu Naura baru saja tiba di SMA Swasta. Dan berhubung hari ini senin, Naura diajak untuk mengikuti upacara rutin setiap hari senin.
"Selamat datang buk Naura." Sambut kepala sekolah dan beberapa guru lainnya pun ikut menyapa Naura.
"Nanti setelah upacara, sebelum bubar saya akan mempersilahkan ibu Naura untuk memperkenalkan diri pada siswa dan juga majelis guru yang lain."
"Baik pak."
__ADS_1
Upacara akhirnya dimulai. Naura ikut berdiri di barisan para guru. Mereka menghadap kearah siswa yang juga sudah berbaris sangat rapi.
Mengikuti upaca di hari senin mengingatkan masa masa masih menjadi siswa dulu.
Acara upacara pengibaran bendera merah putih di hari senin berlangsung dengan khidmat dan lancar tanpa terhalang oleh apapun. Kemudian, setelah upacara selesai bapak Kepala sekolah langsung mengumumkan agar siswa tetap dibarisan mereka masing masing.
Apa ini saatnya aku harus memperkenalkan diri? Ya Allah lindungi hambamu ini. Rasanya deg deg-an sekali. Ini pertama kali aku harus berbicara didepan banyak orang.
Pak Kepsek memberikan microphone pada Naura untuk segera memperkenalkan dirinya dihadapan semua siswa dan juga para majelis guru.
"Silahkan bu Naura!"
Naura menghela napas, dia tampak gugup.
"Asalamualaikum, selamat pagi anak anak!" Naura akhirnya mulai bicara dan direspon dengan penuh semangat oleh siswa.
"Waalaikumsalam, selamat pagi bu!" Serentak siswa menjawab salam dari Naura.
"Mmm, perkenalkan nama ibu Hanna Naura. Kalian boleh memanggil dengan apa saja selama masih nama yang sama. Ibu adalah staf tata usaha dan baru mulai bekerja hari ini. Ibu harap kerjasama dari kalian semua."
Naura mengakhiri perkenalan itu setelah mengucapkan salam. Kemudian siswa dan para majelis guru memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Naura.
Huh, rasanya jantungku mau copot. Tapi respon mereka cukup membuatku merasa sedikit lebih tenang. Terimakasih semuanya.
Setelah perkenalan singkat itu, Naura langsung diantar oleh salah satu guru cantik untuk menuju ruangan tempatnya bekerja. Naura rupanya ditunjuk kepala sekolah sebagai kepala bagian tata usaha, bukan sebagai staf tata usaha.
"Ini ruangan bu Naura. Di dalam laptop ini sudah ada file lengkap data sekolah, data majelis guru dan data siswa. Bu Naura bisa mempelajari terlebih dahulu tugas tugas dasar sebagai kepala bagian tata usaha. Jika bu Naura menemukan kesulitan untuk memahami, silahkan bertanya kepada saya."
Guru cantik yang menjelaskan pada Naura itu adalah guru dengan predikat teladan di sekolah ini. Namanya Mutia dan dipanggil bu Mumu oleh siswa dan guru.
"Terimakasih bu Mutia."
"Tidak usah sungkan, bu Naura. Mmm, apa ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Untuk sementara sepertinya tidak."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."
Naura mengangguk dan tersenyum sebagai respon dari ucapan permisi bu Mutia.
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Akhirnya aku mulai bekerja. Semoga saja kedepannya aku akan lebih leluasa lagi di tempat ini. Aamiin.
__ADS_1