
Hari ini gajian pertama Naura. Bukan jumlah yang banyak tapi cukup membuat Naura merasa bahagia.
"Naura, mau kakak beri tawaran bagus nggak?" Mutia menghampiri Naura diruangannya yang sedang bersiap untuk pulang.
"Tawaran bagus apa, kak?"
Mutia mengeluarkan handphone android dari dalam tasnya. "Kakak membeli handphone yang baru, jadi yang ini sudah tidak dipakai lagi. Nah kalau kamu tertarik kakak kasih harga murah deh khusus untuk kamu."
Naura melirik hp android yang diletakkan Mutia diatas meja kerjanya.
Aku bahkan belum pernah memiliki android selama ini. Dan sepertinya memang sudah saatnya aku punya android, terlebih aku harus update juga di grup whatsap majelis guru supaya tidak ketinggalan berita.
"Mmm, berapa kak?"
"Enam ratus."
Sebentar Naura terlihat seperti menghitung. "Oke, aku setuju."
"Ini masih baru kok. Kakak baru memakainya kurang lebih sembilan bulan. Cuma karena kakak sudah bosan jadi ganti hp deh."
"Terimakasih ya kak."
"Sama sama."
Naur mengambil hp itu, dia mulai memeriksa. "Kakak baik banget sih sama aku."
"Karena kamu pantas mendapatkannya."
Naura terharu dengan kebaikan Mutia padanya. Sejak awal bekerja Mutia satu satunya yang mencoba mendekati Naura yang tampak menutup diri. Hingga akhirnya Mutia berhasil mendapat kepercayaan Naura dan mereka berteman baik.
"Ya sudah yuk kita pulang."
"Mmm."
Mereka pun pulang. Mutia menawarkan tumpangan pada Naura, tapi Naura menolak karena sudah berjanji ayahnya akan menjemputnya. Dan benar saja, saat mereka tiba di parkiran motor, ayah Naura juga tiba di depan sekolah.
__ADS_1
"Nah itu ayah sudah datang. Aku duluan ya kak."
"Iya, hati-hati."
Mutia menatap kepergian Naura yang dibonceng oleh ayahnya.
Sepertinya hubungan Naura dengan suaminya tidak seperti yang dia ceritakan.
Saat sedang berkumpul dengan majelis guru lainnya, dan mereka menanyakan suami Naura, dia akan menjawab bahwa dia bahagia dengan pernikahannya dan suaminya sangat penyayang. Dia mengatakan sambil tersenyum bahagia untuk menipu semua orang. Tapi tidak dengan Mutia, dia merasa ada yang tidak beres dengan suami Naura.
Naura sagat tertutup dan mencoba terlihat baik baik saja dihadapan orang-orang. Itulah mengapa aku menyukai kamu Naura.
Mutia pun juga langsung pulang. Sementara Naura mengajak ayahnya singgah di pasar untuk membeli keperluan masak.
"Alhamdulillah aku sudah dapat gaji pertama loh, yah."
"Alhamdulillah. Jangan lupa sisihkan sedikit untuk di tabung. Terus jangan lupa juga berbagi sama anak yatim setidaknya sepuluh ribu saja juga tidak masalah yang penting ada niat untuk sedekah."
"Iya ayah."
Naura memang berencana membelikan buku tulis, pena dan pensil untul beberapa orang anak yatim yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Bukan hanya kali ini Naura berbagi dengan anak anak yatim itu, selalunya menjelang puasa Ramadhan dan menjelang lebaran Naura juga membagikan sedikit rezekinya. Meski bukan barang mewah atau uang yang banyak, tapi apa yang Naura bagikan pada mereka membuat mereka senang dan sangat terbantu.
Naura kini sendirian di rumah. Dia tidak tahu kemana perginya suaminya. Naura sudah terbiasa dengan tanpa kehadiran suaminya karena memang selalunya seperti itu. Kalaupun Naura menanyakan keberadaan suaminya, tetap tidak akan mendapat jawaban juga. Jadi tidak perlu merepotkan diri untuk bertanya. Ya Naura sudah sampai dititik itu menghadapi suaminya yang super cuek dan dingin itu.
Setelah sholat zuhur, mencoba hp baru yang tadi dibelinya dari Mutia. Dia mulai mengaktifkan hp itu menggunakan kartu sim yang lama. Lalu, Naura juga membuat akun email, whatsap san instagram. Sementara facebook sendiri Naura sudah punya akun sejak lama, jadi dia tinggal login saja ke akun facebooknya tersebut.
"Nanti sajalah login facebooknya, aku mau membuat kue dulu."
Naura meninggalkan hp nya begitu saja diatas tempat tidur. Dia pun bergegas menuju dapur dan mulai memasak kue untuk menyambut ayah dan bunda yang nanti pulang kerja. Naura juga langsung melanjutkan memasak untuk makan malam nanti.
Sementara Naura sedang sibuk di dapur, saat ini Tama sedang mengobrol bersama bang Udin di teras rumahnya.
"Kamu ada masalah apa dengan Naura?" Bang Udin bertanya setelah anggota yang lain pada bubar dan hanya tersisa dia dan Tama saja.
"Biasalah bang, wanita kalau sudah punya penghasilan mereka akan merasa lebih tinggi dan hebat dari laki-laki."
__ADS_1
"Maksud kamu Naura merasa lebih tinggi dari kamu karena sudah punya pekerjaan?"
"Iyalah bang. Menyesal rasanya aku mencarikan pekerjaan untuknya."
Udin tersenyum menanggapi kekesalan Tama pada Naura.
"Tadi pagi saja dia membanting pintu kamar waktu mau berangkat, padahal aku masih tidur bang. Kaget aku jadinya."
"Naura melakukan itu?"
"Iya bang. Nah abang sendiri nggak percaya kan Naura memiliki sifat yang tidak tahu hormat pada suami? Apa lagi aku bang. Aku kira Naura wanita lemah lembut dan bisa menjadi istri sholehah, eh ternyata…"
"Ya menurut abang sih meskipun Naura mungkin memang seperti yang kamu ceritakan, harusnya kamu tidak mengekspos keburukannya di akun facebookmu. Kesannya kekanakan sih kalau menurut abang."
Udin memberikan nasehat pada Tama sebagai seorang sepupu. Tapi ekspresi Tama tampak tidak suka saat Udin mengatainya kekanakan. Udin tahu itu, tapi dia memilih untuk tersenyum saja.
"Habisnya kalau aku tidak membuat status di facebook aku harus bagaimana bang. Memendamnya? Aku sudah nggak kuat bang. Hampir empat bulan hidup bersama dengan Naura membuat aku tertekan."
"Lah kenapa tertekan?"
"Naura itu sangat tidak menghormati aku sebagai suaminya bang. Naura itu mengatakan aku pengangguran, enak-enakan dirumah makan tidur saja."
"Naura mengatakan seperti itu?" Udin merasa Tama hanya mengarang cerita bohong.
"Tuh kan abang masih tidak percaya."
"Bukannya tidak percaya, tapi sepenglihatan abang Naura justru sangat menghormati kamu sebagai suaminya loh."
"Entahlah bang, terserah abang mau percaya atau tidak. Yang jelas aku merasa sudah semakin tidak nyaman tinggal di rumah mertuaku bang. Rasanya mereka seperti memojokkan aku karena tidak punya pekerjaan. Padahal aku bekerja loh. Ini juga kerja dan sudah mulai menghasilkan uang kok."
Udin hanya menganggukkan kepala menanggapi ocehan Tama yang semakin melantur kemana-mana.
Aku kira kamu sama dewasanya dengan umurmu, terlebih kamu berpendidikan loh dek. Ternyata benar kata almarhum papamu yang dulu selalu mengeluhkan keegoisan kamu yang sama dengan mamamu, tapi lucunya aku malah membela dan sok-sok menasehati almarhum.
"Ajaklah Naura bicara baik-baik. Bicarakan dengan kepala dingin, diskusikan keluhan kamu pada Naura. Abang yakin Naura pasti akan mendengarkan kamu dan kalian bisa mencari solusi bersama."
__ADS_1
"Sudah bang. Aku mengajak Naura pindah kerumah mama. Tapi, Naura malah tidak mau. Dia marah sama aku sampai-sampai tidak boleh disentuh sedikitpun. Abang bayangin saja, sebagai seorang lelaki normal yang beristri, tapi hasrat tidak tersalurkan hampir dua bulan terakhir, rasanya bagaimana bang?"
Tama semakin melantur kemana-mana. Begitu ringan lidahnya berucap menceritakan sesuatu yang sangat berlawanan dengan apa yang sebenarnya yerjadi. Udin bahkan nyaris percaya dengan apa yang dikatakan Tama barusan. Sebagai lelaki pastinya Udin bisa melihat ekspresi dan tingkah laku seorang suami yang hasratnya sudah lama tidak tersalurkan.