Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 18 Lima puluh ribu per hari


__ADS_3

Setelah Yani meninggalkan rumah. Tama kembali ke kamar untuk tidur. Tadinya dia keluar kamar untuk minum. Tapi gagal karena mertuanya masih belum berangkat kerja.


"Mas, sarapan dulu." Naura mengetuk pintu kamar untuk mengajak Tama sarapan.


"Aku belum lapar."


"Ya sudah. Aku sarapan duluan."


Tidak ada jawaban dari Tama. Naura pun langsung menyantap sarapan sampai kenyang. Setelah itu dia berberes rumah, kemudian setelah semuanya selesai Naura berganti pakaian.


Aku akan mencari pekerjaan di pasar. Apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang.


Naura berpakaian seperti biasa. Dia memakai dress panjang dan jilbab yang juga lebar dan panjang. Naura juga memakai cadar agar wajahnya tidak dikenali oleh orang orang saat dia bekerja di pasar nanti, itupun kalau ditawari pekerjaan yang cocok tentunya.


"Mas, aku mau ke pasar dulu ya." Naura berbisik ditelinga Tama yang masih tertidur. Lalu dia mengambil tangan Tama untuk berpamitan. Tapi, saat Naura akan mencium punggung tangan Tama, dia malah terbangun dan menepis tangan Naura.


"Kalau mau pergi ya pergi sana. Jangan ganggu aku lah, aku ngantuk tau." Tama merutuk kesal pada Naura.


"Maaf mas. Aku hanya ingin berpamitan."


"Ya sudah sana!" Hardik Tama tanpa menoleh pada Naura.


Dengan berat hati Naura segera meninggalkan rumah. Dia pergi kepasar dengan menaiki angkot.


Untung saja saat keluar dari rumah tidak ada yang melihatku. Dan sekarangpun di angkot tidak ada orang yang mengenalku. Bismillah, semoga ini awal yang baik. Aamiin.


Setelah beberapa menit kemudian, angkot berhenti di terminal pasar. Naura pun membenarkan cadarnya, kemudian barulah dia turun dari angkot.


Langkah kaki Naura menyusuri pasar secara perlahan sambil melihat apakah ada orang yang membutuhkan jasanya atau adakah lowongan kerja yang cocok untuknya. Hingga akhirnya langkah kakinya berhenti tepat di depan toko hijab yang bertuliskan menerima keryawati dengan syarat harus memakai jilbab dan berusia maksimal 23 tahun.


Naura tersenyum. Dia yang baru berusia dua puluh satu tahun dan berhijab langsung memasuki toko hijab tersebut.


"Assalamualaikum, bu."


"Waalaikumsalam…"


Seorang wanita separuh baya yang pakaian syar'i menyambut Naura dengan ramah. Dia sepertinya adalah pemilik toko hijab.


"Mari duduk dulu, nak."

__ADS_1


Naura dipersilahkan duduk oleh ibu itu. Kemudian ibu itu menawarkan segelas air putih pada Naura.


"Terimakasih banyak bu." Naura yang memang sudah kehausan langsung mereguk air putih tersebut.


"Kalau ibu boleh tahu nama anak siapa?"


"Saya Naura, bu."


Ibu itu tersenyum dan menatap cukup lama wajah Naura yang tersembunyi dibalik cadarnya.


"Apa nak Naura kemari untuk melamar pekerjaan?"


"Iya bu. Saya mau bekerja disini jika diizinkan."


Wah ibu ini bisa tahu tujuanku. Pasti terlihat jelas dari mataku bahwa aku sangat membutuhkan pekerjaan.


"Nak Naura sudah membaca syaratnya, kan?"


"Sudah bu."


Ibu itu mengangguk, kemudian dia menatap Naura sambil tersenyum. "Selain dari persyaratan yang nak Naura ketahui, saya masih punya beberapa sayarat lagi. Jika nak Naura memenuhi beberapa syarat ini, maka nak Naura bisa bekerja hari ini juga."


"Syarat lainnya, yaitu masalah gaji. Saya memberikan gaji perhari dan nominalnya sebanyak lima puluh ribu, kemudian jam kerja dimulai dari pukul sembilan sampai pukul tiga sore. Dan yang terakhir harus masih lajang."


Mendengar persyaratan terakhir membuat Naura menghela napas. Haruskah aku berbohong demi pekerjaan ini? Tapi kalau aku berbohong nanti gaji yang aku dapatkan malah tidak barokah.


"Tapi saya sudah menikah, bu."


Ibu itu tersenyum menatap Naura yang tampak sedih. "Saya tahu nak Naura sudah menikah. Tapi, saya akan memberi pengecualian asalkan nak Naura menyetujui persyaratan lainnya."


"Saya setuju bu." Naura begitu antusias untuk bisa bekerja di toko ini. Dia tidak mempermasalahkan gajinya yang sedikit sama sekali. Selama jam kerjanya sesuai dengan jadwalnya saat harus menjadi seorang istri.


Seperti saat jam delapan pagi kedua orangtuanya sudah berangkat bekerja dan pulang pukul empat sore. Jadi tidak akan ketahuan kegiatannya oleh kedua oragtuanya. Sedangkan suaminya masih akan terus tidur dan kalau pun bangun tidak akan peduli dengan keberadaannya.


"Kalau begitu nak Naura boleh langsung bekerja."


"Terimakasih banyak bu."


Naura merasa sangat bersyukur karena akhirnya dia memiliki pekerjaan dan dia akan mendapatkan uang, meski sedikit tapi cukup untuk membelikan daging dan ikan untuk suaminya setiap hari. Karena suaminya tidak akan mau makan kalau tidak ada ayam, daging atau ikan sebagai lauk untuk makan.

__ADS_1


.


.


.


Naura mulai bekerja. Dia yang tidak punya pengalaman menjadi penjaga toko sama sekali sebelumnya merasa khawatir dan takut jika nanti pelanggan tidak jadi membeli, mereka malah kabur karena takut padanya.


"Bismillah saja dulu." Gumamnya.


Justru, apa yang dikhawatirkan Naura sangat jauh berbeda. Saat pelanggan mulai berdatangan, Naura menyambut mereka dengan ramah dan sangat sopan. Mereka bahkan merasa nyaman berbelanja ditoko hijab itu.


Alhamdulillah ya Allah. Senang rasanya hari ini banyak yang datang untuk membeli jilbab.


Ada juga beberapa pelanggan yang meminta pendapat Naura tentang hijab yang cocok untuk mereka. Naura memberikan saran yang disukai oleh mereka.


Ternyata menyenangkan juga menyambut para pelanggan yang datang. Meski sangat melelahkan, tapi melihat senyum bahagia mereka saat mendapatkan jilbab yang mereka suka membuat rasa lelahku sedikit terobati.


Tidak terasa adzan zuhur berkumandang. Tapi masih ada pelanggan yang memilih jilbab sehingga Naura tidak berani meninggalkan pelanggan untuk sholat Zuhur. Dia pun menunggu hingga pelanggan itu selesai berbelanja.


"Nak Naura, sholat zuhur dulu. Biar ibu yang gantian jaga toko."


"Iya bu."


Naura langsung bergegas kebelakang untuk sholat. Kemudian, setelah selesai sholat dia kembali menjaga toko dan pelanggan masih terus menerus berdatangan untuk membeli jilbab di toko mereka.


Hingga akhirnya tidak terasa sudah waktunya Naura pulang. Dia berpamitan pada ibu pemilik toko yang juga langsung memberikan amplop gaji untuk Naura sesuai perjanjian.


"Terimakasih banyak, bu."


"Iya. Besok jangan lupa datang lebih awal."


"InsyaAllah bu."


Naura pun berpamitan dan langsung pulang. Tidak lupa Naura melepas cadarnya sebelum naik angkot. Tujuannya agar nanti tidak dicurigai oleh tetangga yang biasanya jam segini mereka suka ngumpul di depan rumah.


Sebelum naik angkot, Naura membeli ayam terlebih dahulu. Dia teringat perkataan mama mertuanya yang mengatakan bahwa suaminya Tama menyukai semur ayam.


"Alhamdulillah atas rezeki hari ini ya Allah." Naura pulang dengan perasaan lega dan senang.

__ADS_1


"Maafkan aku mas. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan pekerjaanku. Aku hanya takut mas akan merasa terganggu saat mengetahui aku mulai bekerja di pasar." Gumamnya.


__ADS_2