
Hari pertama Naura tinggal di rumah Mama mertua. Dia bangun sebelum subuh untuk membantu mama mertua menyiapkan bahan untuk menu sarapan sekaligus makan siang, padahal Naura hanya tidur kurang dari dua jam tadi malam. Setelah itu dia sholat subuh dan menyiapkan sarapan untuk suami dan adik iparnya. Sementara mama mertua sudah berangkat ke butiknya setelah sholat subuh tadi.
Setelah menyiapkan sarapan di meja makan, Naura dan Tania sarapan bersama. Sedangkan Tama masih tertidur lelap karena memang dia baru tidur begitu azan subuh berkumandang.
"Mbak, kita berangkat bareng. Nanti aku antar mbak dulu kesekolahan tempat mbak kerja, baru deh aku kesekolahku." Tutur Tania yang membuat Naura mengerutkan keningnya.
Tama benar-benar tidak bertanggung jawab.
"Nanti kamu terlambat loh dek, lebih baik duluan saja. Mbak masih harus menyapu rumah dan menjemur pakaian."
"Terus nanti mbak perginya bagaimana?"
"Kan ada mas Tama yang ngantar." Naura menjawab dengan percaya dirinya.
"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya mbak."
__ADS_1
"Iya. Hati-hati diperjalanan, dek."
Setelah Tania pergi, Naura langsung menyapu rumah dan menjemur pakaian yang sudah dicucinya subuh tadi. Setelah semua pekerjaan selesai, Naura pun membangunkan Tama untuk mengantarnya seperti janjinya waktu itu.
"Apaan sih. Sana naik angkot kek atau apa gitu. Jadi perempuan itu jangan manja, mandiri dikit apa susahnya sih." Rutuk Tama saat Naura membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
Dasar suami tidak bertanggung jawab.
Naura merutuk dalam hati sambil meninggalkan kamar itu. Dia berangkat bekerja naik angkot dan harus naik turun ganti angkot untuk menuju sekolah tempatnya bekerja.
"Mas, apa mas lupa janji mas waktu itu sebelum aku pindah ke rumah ini?" Naura bertanya saat memiliki kesempatan bicara berdua dengan suaminya itu yang kebetulan belum pergi untuk nongkrong bersama teman-temannya.
"Nggak usah membahas janji, aku lagi banyak masalah. Kamu tidak tahu kan, ladang kedelai kebakaran. Semua kedelai sudah mulai tumbuh dan sekarang habis terbakar."
"Apa mas pernah bercerita padaku tentang tanaman kedelai atau tentang ladang itu sebelumnya?" Naura sedit berteriak.
__ADS_1
Tama menatap penuh amarah pada Naura. "Ini nih benar-benar istri durhaka. Berani membentak suami."
"Aku tidak bermaksud membentak..."
"Sudahlah. Aku sudah muak dengan semua ini. Asal kamu tahu, aku tidak pernah menyetujui pernikahan gila ini. Aku hanya terpaksa. Paham!" Tama mendorong kening Nuara dengan jari telunjuknya.
Tama memakai jaketnya, lalu menyandang tasnya dan meraih kunci motor yang tergeletak diatas kasur.
"Jika memang mas tidak menyetujui pernikahan ini sejak awal, kenapa mas menyentuhku?" Naura bertanya sambil menatap tajam wajah Tama.
Tama mendekat pada Naura, lalu dia mendekatkan wajahnya kewajah Naura sangat dekat. Hingga membuat Naura menundukkan pandangannya, dia benci menatap kedua bola mata Tama yang menatap jijik padanya.
"Karena aku lelaki normal, aku tidak mau hanya menatap makanan di meja sementara makanan itu halal untuk aku makan." Bisik Tama namun dengan nada tegas.
Entah bagaimana caranya, air mata langsung menetes dari kedua pelupuk mata Naura saat mendengar kalimat yang diucapkan Tama barusan.
__ADS_1
Menyerahlah Naura. Cepat gugat aku. Supaya orang-orang menganggap kamu istri durhaka yang tidak mau mengikuti ajakan suamimu.