Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 28 Membolak-balikkan fakta


__ADS_3

Rudi masih menonton televisi bahkan sampai pukul satu pagi. Dia sengaja belum tidur untuk menunggu menantunya yang memang selalu pulang larut malam. Recananya malam ini Rudi tidak akan diam saja seperti sebelumnya, dia akan bicara untuk menasehati menantunya agar tidak pulang larut malam terus-terusan.


"Kenapa masih belum pulang juga?"


Rudi menyibak gorden untuk melihat keluar. Tidak ada yang terlihat selain kesunyian diluar sana.


"Apa mungkin terjadi sesuatu? Selalunya Tama pulang jam satu pagi. Ini sudah hampir jam dua pagi."


Dia merasa khawatir, hingga akhirnya dia putuskan untuk bertanya pada Naura.


Tok, tok…


"Naura, nak!"


"Naura, apakah kamu sudah tidur?"


Naura mendengar panggilan ayahnya. Karena dia belum tidur, dia tidak bisa tidur karena masih terus memikirkan bagaimana caranya untuk bicara berdua secara baik-baik dengan suaminya.


"Iya ayah!" Serunya dari dalam kamar sambil menghapus air matanya.


"Suamimu kenapa belum pulang?"


Apa yang harus aku katakan pada Ayah?


"Apakah dia memberitahu kapan dia pulang?"


"Iii... iya ayah. Mas Tama menginap di rumah bang Udin." Jawab Naura berbohong.


"Menginap di rumah Udin?"


"Iya ayah. Mas Tama sama bang Udin mengerjakan proposal katanya."


Rudi mengangguk paham dan percaya saja. "Mmm begitu. Ya sudah kalau begitu lanjut lagi tidurnya. Ayah juga mau kembali ke kamar mau tidur."


"Iya ayah." Jawab Naura dari dalam kamarnya.


Dia tidak bisa menemui ayahnya, karena matanya sangat bengkak dan juga hidungnya tersumbat akibat menangis terlalu lama.


Sedangkan Tama saat ini tengah asik main game bersama teman-temannya.


"Bro sudah hampir jam dua nih, loh nggak pulang?"


Akmal yang melontarkan pertanyaan itu, karena dia merasa kasihan pada Naura yang mungkin tengah menunggu suaminya itu pulang.


"Malas pulang gue bro."


"Kenapa malas bro. Bukannya malah asik pulang ada istri yang menunggu untuk dikeloni." Teman-teman lain mulai menggoda Tama.


"Boro-boro dikeloni bro, di sentuh saja tidak boleh."


Mereka saling bersitatap dan berakhir menatap tajam pada Tama untuk meminta penjelasan dari ucapannya barusan.

__ADS_1


"Iya benaran. Istri gue nggak mau disentuh. Dia lebih milih tidur dilantai dari pada harus tidur di ranjang yang sama dengan gue."


Begitu ringan lidah itu berucap membolak-balikkan fakta.


"Serius bro?"


"Jadi, selama ini loe belum pernah melakukan itu sama Naura?"


"Pernah lah bro. Tapi itu dulu waktu masih baru-baru nikah. Lah sekarang hampir tiga bulanan gue nggak bisa menyentuhnya lagi. Gue haus belaian bro." Jawab Tama dengan berpura-pura menjadi korban.


Akmal hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Tama. Ada perasaan iba untuk Naura saat mendengar Tama menjelekkan istrinya itu.


"Ya paksa saja bro. Toh dia halal untuk loe."


"Gue mau banget memaksa dia bro. Tapi, gue nggak mau nanti malah difitnah sebagai suami yang menyiksa istri dan memaksa istri."


"Jadi status facebook loe benar-benar ditujukan untuk si Naura?"


"Iyalah. Dia itu istri yang sangat tidak baik. Dia tidak mau melayani gue lahir dan batin. Gue tersiksa bro."


"Udahlah bro ceraikan saja si Naura."


Teman-teman Tama merasa kesal pada Naura setelah mendengar pengakuan Tama.


"Nggak bisa bro. Mama sangat menyayangi Naura."


"Sudahlah Tama, kita pulang sekarang yok." Ajak Akmal. Dia merasa buruk untuk Naura saat mendengar penuturan Tama yang semakin kesana semakin kesini.


Penuturan Tama semakin membuat Akmal merasa muak dan tidak menyangka sahabatnya itu ternyata memiliki mulut yang berbau sampah. Dengan tanpa merasa bersalah membuka keburukan istrinya dihadapan teman-temannya.


.


.


.


Semalam Tama akhirnya pulang ke rumah mamanya. Dia tidur di kamarnya dengan sangat nyaman tanpa harus tidur di pinggir untuk menjauhi Naura. Sedangkan Naura sendiri, hampir tidak tidur semalaman dan terus-terusan menangis. Hingga pagi ini dia bangun hampir pukul delapan tepat setelah ayah dan bunda pergi bekerja.


Naura menyuruh ayahnya berangkat duluan, karena dia berjanji akan dijemput oleh Mutia. Tapi, itu hanya alasan saja. Naura memilih untuk tidak masuk kerja, karena kondisi matanya yang benar-benar sangat bengkak. Jika dia masuk kerja yang ada akan menimbulkan kecurigaan dari semua rekan kerja dan bahkan mungkin murid-murid pun akan mencurigainya juga.


"Aku juga tidak ingin dirumah. Rasanya sangat pengap."


Naura mandi dan bersiap. Dia pergi ke pasar untuk sekedar berjalan-jalan mengelilingi pasar menatap suasana keramaian untuk mengalihkan rasa sedihnya. Matanya yang bengkak dia tutup menggunakan kacamata hitam.


Saat Naura sedang di pasar, Yani pulang ke rumah untuk memeriksa apakah Naura masih dirumah atau sudah berangkat kerja.


"Sepertinya Naura sudah berangkat kerja."


Yani melihat kamar Naura yang sudah rapi dan Naura tidak lagi berada disana. Jadi dia pikir Naura sudah berangkat kerja.


Saat bersamaan, Tama pulang bersama Udin. Dia datang ke rumah untuk berganti baju dan mengambil berkas proposal karena Udin mengajaknya menemui salah seorang kenalannya.

__ADS_1


"Bunda, belum berangkat kerja?"


Tama menyapa Yani sambil tersenyum seperti biasanya. Sayangnya Yani yang sudah mengetahui perlakuan buruk Tama pada Naura membuat Yani tidak lagi mampu membalas senyuman menantunya itu.


"Kenapa pulang?"


"Hah, maksud bunda?"


"Kenapa pulang? Harusnya tidak usah pulang saja sekalian. Alasan tidur diluar untuk mengerjakan bisnis. Dasar pembohong." Celoteh Yani begitu saja tanpa bisa disaring lagi ucapannya.


"Bunda kenapa sih?"


"Sudahlah tidak usah sok-sok bingung seperti itu. Aku pikir kamu berpendidikan dan dewasa. Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan anak-anak kecil."


Celotehan Yani terdengar sampai keluar, Udin mendengar jelas kalimat itu.


Apa yang terjadi? Bisik Udin sambil melangkah perlahan memasuki rumah.


"Ini nih kalau apa-apa diceritakan sama orangtua. Istri tidak bisa menyimpan rahasia rumah tangga."


"Ya. Karena sifat buruk kamu itu memang harus diceritakan."


"Sudahlah. Ini masih pagi, aku harus segera pergi bekerja. Mengomel saja kerjaannya." Tama hendak melangkah masuk ke kamar.


"Dasar kekanak-kanakan. Aku pikir kamu suami yang baik yang menyayangi Naura. Ternyata kamu hanya berpura-pura baik pada Naura, kan? Sungguh licik."


Yani semakin memaki Tama tanpa ampun. Udin mendengar makian itu pun langsung menghampiri untuk melerai pertengkaran mertua dan menantu itu.


"Bude, sebaiknya kita bicara baik-baik ya."


"Oh kamu datang untuk membela Tama?"


"Tidak bude, saya datang untuk…"


"Untuk apa? Untuk menghakimi Naura sama seperti Tama."


"Tidak bu…"


"Sudahlah bang, nggak usah diladeni." Tama melangkah masuk kekamar, sebentar kemudian keluar lagi membawa tas tempat file proposal.


"Kenapa kamu mengatakan Naura istri durhaka!" Teriak Yani dengan penuh emosi.


"Memang anak bunda itu durhaka pada suaminya."


"Tama sudah, ayok kita pergi." Ajak Udin.


"Jawab dulu pertanyaanku. Apa kesalahan Naura sampai kamu mengatainya istri durhaka!"


Yani menarik tanga Tama, lalu memukul kuat beberapa kali punggung Tama. Udin mencoba melerai, tapi malah ikut dipukul oleh Yani. Sampai akhirnya Tama menyanggah tangan Yani yang memukulnya, lalu dia menghempaskan tangan mertuanya itu dengan kuat.


"Naura itu berjanji mau ikut aku pindah ke rumah mama. Tapi, sampai sekarang dia masih tidak mau ikut pindah ke rumah mama. Aku sudah tidak betah tinggal dirumah ini. Setiap pulang malam, ayah sama bunda mengawasiku. Ayah sama bunda diam-diam merendahkan aku karena tidak punya pekerjaan. Kalian pikir aku tidak tahu tentang semua itu?"

__ADS_1


Tama berteriak sambil menunjuk-nunjuk wajah Yani saat mengatakan hal itu. Matanya tampak merah, napasnya tidak beraturan, Tama bahkan mengepalkan tinjunya, pada saat itulah Udin dengan cepat menarik Tama keluar dari rumah itu.


__ADS_2