Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 13 Senyum palsu


__ADS_3

Kini Naura sudah tiba di kampus. Dia tampak sudah lebih baik dan mulai mengobrol dengan teman temannya. Bahkan sesekali Naura tersenyum malu saat teman temannya menggoda dirinya yang terlihat mempesona sebagai pengantin baru. Setidaknya itu yang dikatakan teman temannya.


Dari kejauhan Zahra melihat senyum bahagia diwajah sahabatnya itu merasa sedikit lega.


"Zahra!"


Naura berteriak memanggilnya. Tangannya ia lambaikan kearah Zahra yang berdiri mematung memperhatikannya dari kejauhan. Zahra tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Nauara. Ia melangkah mendekati sahabatnya itu.


"Kangen banget!"


Naura langsung memeluk Zahra.


"Aku juga."


Zahra memilih pura pura tidak bertemu Naura tadi malam. Dia memilih diam karena sepertinya Tama juga tidak memberitahu Naura bahwa tadi malam Zahra ikut mengantarnya kerumah sakit.


Aku senang kamu sudah baik baik saja Naura. Aku juga berdoa semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu.


Setelah cukup puas saling mengobrol hal hal yang menggembirakan, Zahra dan Naura harus berpisah. Karena mereka mengikuti gladi bersih sesuai fakultas dan jurusan masing masing.


Acara gladi bersih berjalan dengan lancar. Semua peserta calon wisudawan wisudawati terlihat sangat antusias dan bahagia mengikuti acara tersebut. Mereka diberikan waktu istirahat untuk makan siang dan sholat bagi yang muslim. Kemudian acara kembali berlanjut hingga pukul lima sore.


Sementara itu saat ini Tama baru saja terbangun. Dia langsung mandi, lalu bersiap membeli makanan setelah menanyakan kapan Naura pulang.


Dan setelah acara selesai Naura langsung pulang. Dia tiba di kos disambut oleh Tama dengan penuh perhatian.


"Dek, kita makan dulu yok. Kamu pasti lapar, kan?"


Tama sudah menyiapkan makanan yang tadi dibelinya dan sengaja menunggu Naura untuk makan bersama.


"Iya, mas. Aku cuci tangan dulu."


Naura ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan juga wajahnya. Setelah selesai mereka pun akhirnya makan bersama. Dan saat makan, Tama menjadi lebih peduli pada Naura. Dia bahkan bertanya tentang acara gladi hari ini, juga tentang bagaimana tanggapan teman-teman Naura saat mengetahui Naura sudah menikah.


Dengan senang hati Naura menceritakan semua yang terjadi siang ini pada suaminya. Ternyata benar, suami adalah tempat ternyaman untuk kita berkeluh kesah setelah melalui berbagai hal seharian.


Setelah makan, Naura mandi. Kemudian, setelah itu mereka sholat magrib berjamaah.


"Dek, nanti mas mau main futsal sama teman teman."

__ADS_1


"Malam ini, mas?" Tanya Naura yang sedang membereskan mukena dan sajadah.


"Iya. Bentar lagi, habis isa mas berangkat."


"Terus pulangnya jam berapa, mas?"


"Sepertinya tidak pulang. Aku menginap di rumah temanku." Jawab Tama yang mulai menggunakan panggilan aku kamu lagi.


"Nih pakai baju ini, cepatan."


Tama melemparkan gaun malam yang dibelikannya kemarin malam di mall.


"Loh, bukannya mas mau pergi sebentar lagi, kan?"


"Ya makanya, cepat pakai bajunya. Aku sudah tidak kuat ini."


Tama mengatakan dengan nada suara memaksa. Mau tidak mau, akhirnya Naura memakai baju yang dibencinya itu lagi. Setelah itu, Tama pun langsung melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini lebih cepat, karena dia harus segera pergi.


Begitu selesai, Tama langsung mandi dan pergi begitu saja meninggalkan Naura yang lagi lagi merasa dirinya seperti wanita peng hi bur.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Rasanya, aku seperti wanita murahan.


.


.


.


Tama benar benar tidak pulang. Naura bahkan hampir tidak bisa tidur semalaman. Dia bahkan membaca Qur'an sampai subuh untuk mengusir pikiran pikiran aneh yang mulai membuatnya goyah untuk mempertahankan pernikahannya yang belum genap dua minggu itu.


Hari ini keluarga di kampung akan tiba. Naura sudah memesankan satu rumah kontrakan yang sedang kosong di samping rumah kosnya. Rumah itu untuk tempat tinggal keluarga sementara selama mereka di kota.


Naura juga mendapat kabar, bahwa keluarganya sudah berangkat menuju kota. Dan kabar itu sudah Naura sampaikan pada suaminya lewat pesan sms.


Tidak jauh berbeda dengan Naura. Zahra juga sedang menunggu keluarga besarnya dan suaminya yang sedang dalam perjalanan menuju kota.


Sembari menunggu kedatangan keluarga dari kampung, Zahra dan Baim mengajak Naura untuk berbelanja makanan ke pasar. Mereka menjemput Naura ke kos nya dengan menggunakan mobil yang sengaja dirental oleh Baim.


"Mas Tama mana, Na?" Tanya Zahra heran saat tadi menjemput Naura, ia tidak melihat Tama.

__ADS_1


"Mas Tama baru saja berangkat ke rumah temannya. Ada beberapa hal yang harus di urus katanya."


Zahra tahu Naura berbohong. Dia sudah mengenal Naura sejak SMP hingga saat ini. Tentu sudah pasti dia tahu saat Naura sedang berbohong ataupun sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Kalau dulu Zahra akan terus terusan menyelidiki Naura sampai Naura menceritakan semuanya padanya. Tapi, kini berbeda. Mereka sudah sama sama menikah dan punya kehidupan masing masing. Zahra tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya itu, begitu pula sebaliknya.


"Mas Tama kerja apa, Na?"


Zahra menyikut tangan suaminya yang malah melontarkan pertanyaan seperti itu pada Naura. Naura hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan Baim.


"Na, tidak usah di jawab. Kak Baim kadang kadang memang suka kepoin hidup orang."


Dia memberi kode pada suaminya untuk tidak menanyakan pertanyaan sensitif seperti itu.


Lagi-lagi Naura tersenyum. "Saat ini sih mas Tama belum dapat pekerjaan. Tapi, sebelumnya mas Tama kerja sebagai tenaga medis saat di kontrak oleh salah satu perusahaan kontraktor saat ada proyek baru, gitu."


Baim dan Zahra mengangguk paham. Lalu mereka saling menatap seakan mengatakan wajar saja Tama tampak sangat berkelas dengan barang barang mewahnya. Ternyata gajinya sangat besar sesuai dengan pekerjaanya.


"Wah, keren ya mas Tama."


"Kak Baim juga keren. Zahra beruntung memilik imam yang baik dan bertanggung jawab seperti kak Baim."


Naura ikut memuji suami sahabatnya itu. Dari jawaban Naura barusan, sepasang suami istri itu menyadari ada sesuatu yang mengganjal dari Naura. Mereka berpikir, mungkin Naura tidak bahagia dengan pernikahannya.


Mobil terus melaju, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah toko swalayan yang menjual berbagai macam aneka makanan, buah buahan dan juga kue kue kering lainnya.


"Sayang, kalian berdua saja ya yang belanja. Kakak tunggu di mobil aja."


Baim menyarankan agar Zahra berbelanja berdua saja dengan Naura. Dia sengaja, karena tahu istrinya ingin mengobrol lebih leluasa berduaan saja dengan Naura.


"Iya, kak. Kalau begitu kakak tunggu kita dimobil saja, ya."


"Siap nyonya Zahra."


Zahra berbelanja banyak buah dan kue kue an untuk menyambut kedatangan keluarga dari kampung. Sementara Naura hanya membeli beberapa saja, karena memang dia tidak punya banyak uang.


Dan sebenarnya, Naura hanya membawa uang yang diberikan oleh ayahnya saat dia hendak berangkat ke kota. Sementara, Tama belum sekalipun memberikan uang pada Naura selama dia menjadi suaminya.


Naura pun tidak berani meminta, karena dia memang tidak biasa meminta uang bahkan pada ayah dan bundanya. Selalunya ayah akan mengirimkan uang bulanan untuk Naura saat masih sekolah dan kuliah dulu.

__ADS_1


__ADS_2