
Saat Tama menggendong Naura keluar dari restoran itu, Zahra dan Baim turun dari taksi. Mereka mau makan malam di restoran itu juga. Tapi, begitu turun dari taksi, mata Zahra langsung melihat Tama menggendong Naura melangkah cepat keluar dari restoran.
"Kak, itu mas Tama suami Naura. Naura, kenapa itu kok digendong..."
Sebelum Baim sempat menoleh, tangannya sudah ditarik oleh Zahra untuk mengejar Tama.
"Mas Tama!"
Tama menoleh kearah Zahra yang berlari semakin mendekat padanya.
"Zahra!"
"Naura kenapa, mas?" Tanya Zahra yang sudah tiba didekat Tama, tangannya membantu membenarkan posisi kepala Naura yang terkulai lemah.
"Naura tiba tiba demam dia pingsan, kita mau mengantar Naura ke rumah sakit."
Tama langsung masuk ke mobil Arjune begitu pintu belakang mobil di buka oleh Arjune, dia mendudukkan Naura barulah dia ikut duduk disamping Naura dengan membiarkan tubuh Naura bersandar padanya.
"Aku ikut mas!" Zahra ikut masuk ke mobil, dia duduk disamping kanan Naura.
"Halo mas, saya Baim suami Zahra." Baim memperkenalkan diri pada Tama dan Arjune yang menatap padanya dari dalam mobil.
"Mas Baim, sepertinya mas Baim harus menyusul dengan naik taksi." Ujar Arjune setelah melihat kebangku belakang.
Karena mobilnya tidak muat untuk memberi tumpangan pada Baim. Di kursi belakang, sudah ada Zahra Naura dan Tama. Sedangkan di kursi depan, sudah ada Queen yang bahkan sudah memakai sabuk pengaman.
"Baiklah." Jawab Baim hanya mengangguk setuju setelah memastikan Zahra duduk nyaman disamping Naura.
Arjune lansung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sementara Baim menyusul dengan naik taksi. Dan setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Tama lansung menggendong Naura masuk ke rumah sakit dan membaringkan tubuh lemah Naura disalah satu ranjang pasien di kamar umum.
"Dokter tolong periksa, istri saya pingsan. Sepertinya dia demam." Tama terlihat sangat khawatri dan begitu perhatian pada Naura.
Zahra melihat tatapan khawatir Tama pada Naura. Hal itu membuat Zahra merasa lega karena, Naura menikahi lelaki yang begitu perhatian dan menyayanginya. Setidaknya itulah yang dilihat Zahra saat ini.
Setelah dokter tiba dan memeriksa keadaan Naura. Arjune meminta agar Naura dipindahkan ke ruangan VIP. Tama sempat menolak tapi Arjune mayakinkan bahwa dia yang akan membayar semua tagihannya.
"Kak…" Queen menghampiri Arjune. "Kita harus segera pulang Papa datang." Ujarnya sambil memberikan tas sandang milik Naura pada Zahra.
__ADS_1
"Zahra, apa Naura baik baik saja?" Tanya Tama yang baru saja tiba.
"Mmm. Naura hanya demam dan sudah dipindahkan ke ruangan khusus."
"Pak Arjune, terimakasih. Jika tidak ada bapak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada istri saya."
Tama mengucapkan terimakasih sebelum dia pergi mengikuti Naura yang dipindahkan keruangan VIP.
Arjune hanya tersenyum ramah. Kemudian dia bersama Queen juga pergi meninggalkan rumah sakit.
"Sayang, apa Naura baik baik saja?" Bisik Baim sambil merangkul bahu Zahra.
"Mmm. Naura hanya demam biasa." Jawab Zahra yang masih tampak khawatir.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita pulang, ada mas Tama juga kan, yang menjaga Naura."
"Mmh, ayo kita pulang, kak." Zahra setuju, meski rasanya dia masih ingin melihat Naura.
Sepeninggalan Arjune, Queen, Zahra dan Baim, Tama menunggu Naura yang dirawat di kamar VIP yang sudah dibayar semua tagihannya oleh Arjune.
"Ternyata seperti ini ruangan VIP rumah sakit." Gumam Tama. Dia merebahkan punggunya diatas sofa dengan nyaman, lalu tertidur pulas setelah Naura mendapat perawatan dari dokter. Lagi pula dokter bilang Naura hanya demam, besok juga sudah boleh pulang.
Sedangkan Zahra dan Baim sudah kembali ke penginapan mereka. Mereka memutuskan memesan makanan cepat saji dan memakannya di rumah. Dan akhirnya mereka selesai menyantap makan malam mereka yang harusnya menjadi makan malam romantis, malah berubah menjadi makan malam yang terasa hambar. Karena pikiran Zahra teringat pada Naura.
"Tidak usah minta maaf, sayang. Kita bisa makan malam romantisnya lain kali."
"Aku khawatir terjadi sesuatu pada Naura."
"Kita doakan saja supaya Naura baik baik saja dan segera diberi kesembuhan." Baim memeluk Zahra untuk membuat hatinya lebih tenang.
Sebentar Zahra menghela napas, lalu dia merebahkan kepalanya didada bidang suaminya. "Besok harusnya Naura ikut gladi bersih untuk kelancaran wisuda."
"Doakan saja, semoga besok Naura sudah membaik dan bisa ikut gladi bersih."
"Semoga saja." Gumam Zahra penuh harap.
.
.
__ADS_1
.
Pukul empat subuh. Naura terbangun. Dia terkejut mengetahui dirinya berada di rumah sakit.
"Mas!"
Naura belum memiliki cukup tenaga untuk berteriak.
"Mas!"
Panggilan kali ini didengar oleh Tama. Dia pun bangun meski matanya terasa sangat mengantuk.
"Kita pulang ke kos saja. Aku juga harus siap siap mau ke kampus untuk ikut gladi bersih."
"Dek, ini baru jam empat subuh. Kita mau pulang naik apa?"
"Taksi."
Tama menghela napas dalam. Meski malas karena masih mengantuk, dia terpaksa bangkit dari posisi baringnya yang nyaman. "Biklah, ayok pulang."
Dia membantu Naura melepas selang infus. Lalu memapah Naura keluar dari ruangan itu. Mereka berhasil keluar dari rumah sakit dan mendapatkan taksi yang mau mengantar mereka ke alamat kos Naura. Dan akhirnya mereka tiba di kos pukul lima subuh. Naura lansung mandi dan sholat subuh. Sedangkan Tama kembali tidur nyenyak.
Naura menelpon Zahra. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah bersiap untuk ke kampus.
"Na, kamu dimana sekarang!" Tanya Zahra heran.
"Aku di kos, Ra. Memangnya kenapa?"
Zahra tampak bingung. Tapi, dia memilih untuk pura pura tidak tahu dari pada harus menceritakan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Tidak apa apa kok, Na. Aku juga sudah mau bersiap. Ya sudah ya, kalau begitu sampai ketemu sebentar lagi, sayangku."
Panggilan berakhir. Naura langsung berganti pakaian dan memoles wajahnya dengan sedikit make up.
"Hah, ternyata aku sangat kuno da kampungan." Hal yang masih teringat olehnya adalah saat Queen memintanya menghapus keringat di dahi yang membuatnya merasa tidak nyaman. "Aku sangat tidak cocok dengan gaya hidup mas Tama dan teman temannya."
Bagaimana kalau akhirnya aku membuat mas Tama malu dihadapan teman temannya atau rekan kerjanya? Harusnya aku belajar berdandan dan sedikit mengatur gaya berpakaianku agar tidak membuat mas Tama malu saat mengenalkan aku pada teman temannya.
Naura terus berdialog dalam pikirannya. Hanya dengan begitu dia merasa lebih nyaman dan tentunya tidak menyinggung perasaan orang lain.
__ADS_1
Mas Tama sudah menghabiskan begitu banyak uang untukku. Mas tama membelikan baju yang mahal, mas Tama juga menempatkan aku di ruang VIP rumah sakit. Pasti biayanya sangat mahal.
"Sudah seharusnya aku belajar merawat diri dan memperbaiki penampilanku, agar tidak membuat mas Tama malu saat bersamaku."