Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 34 Hijrah ke kota


__ADS_3

Satu tahu kemudian.


Pandangan buruk orang orang pada Naura masih terus berlanjut meski sudah satu tahun berlalu. Kemanapun Naura pergi, ibu ibu yang mengenalnya akan selalu mengejeknya memandang rendah dirinya karena menyia nyiakan lelaki sebaik Tama. Mereka terus bicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Gara gara gosip tak benar itu, Naura sampai mengundurkan diri dari sekolah tempatnya bekerja sejak tujuh bulan lalu. Saat ini Naura tidak lagi bekerja. Dia hanya menghabiskan waktu di rumah sambil menulis novel di salah satu website menulis novel online.


Sejauh ini memang belum menghasilkan apapun dari karyanya itu. Tapi meski begitu, Naura sangat yakin dan percaya suatu saat nanti dia bisa menjadi penulis terkenal.


"Bunda, ayah. Kalau aku pindah ke kota boleh tidak. Aku mau mencari pekerjaan disana."


Saat ini mereka sedang di meja makan. Menikmati makan malam bersama.


"Kalau ayah sih sudah tentu mengizinkan. Tidak tahu kalau bunda." Sahut Rudi.


"Bunda juga mengizinkan kamu pergi ke kota mencari pekerjaan baru dan hiduplah bahagia disana, nak." Guman Yani memberi izin pada Naura sekaligus mendoakan kebahagiaan untuk putri sulungnya itu.

__ADS_1


"Insyaa Allah, bunda. Doa ayah sama bunda selalu menjadi senjata terkuat untukku." sahut Naura senang.


Benar saja, keesokan harinya Naura berangkat ke kota. Dia pergi meninggalkan kampung halaman yang memberikan banyak kenangan manis namun telah di rusak oleh lelaki jahat tak berperasaan.


Sementara, hari ini Tama menikah lagi. Pernikahannya kali ini tidak digelar semeriah saat menikah dengan Naura. Itu karena Maysaroh tidak merestui Tama menikahi wanita pilihannya. Entah apa masalah mereka, biarkan saja mereka yang tahu.


Naura sudah tidak ingin bahkan untuk sekedar mendengar tentang mereka sedikit pun lagi. Bagi Naura mereka hanya sekedar masa lalu yang tidak cukup berarti untuk di ingat ingat lagi.


Sesampainya di Kota. Naura mencari rumah kontrakan satu kamar yang sewa per bulannya jauh lebih murah dan terjangkau olehnya.


Tidak lupa Naura menelpon ayah bundanya untuk mengabari bahwa dia sudah tiba di kota dan sudah mendapat tempat tinggal.


"Iya, bunda. Ini kontrakannya ada di dekat kantor yang rencananya aku akan melamar pekerjaan disana. Besok aku akan mengantarkan surat lamaran." Tutur Naura melalui sambungan telepon.


"Mohon doanya. Doa ayah sama bunda sangat berarti untukku."

__ADS_1


Naura tersenyum mendengarkan doa yang diucapkan ayah dan bundan untuknya dari kampung sana.


Setelah merasa cukup mengabari kedua orangtuanya, Naura pun mengakhiri pembicaraan mereka.


Berhubung Naura belum sholat, dia pun sholat isa sebelum akhirnya dia tertidur lelap di atas kasur kamar rumah kontrakannya.


Sementara itu, di kampung Yani tampak gelisah. Dia tidak bisa tidur nyenyak.


"Ada apa, dek?" Tanya Rudi.


"Aku tidak bisa tidur, mas. Aku khawatir sama Naura. Dia sendirian di sana."


"Dek, tidak baik mengkhawatirkan Naura secara berlebihan. Harusnya adek doakan anak kita. Supaya dia juga bisa merasa tenang di sana. Anak anak biasanya merasakan kegelisahan seorang ibu. Nah kalau adek gelisah seperti ini, bisa jadi Naura juga merasa gelisah. Kasihan Naura kalau harus merasakan gelisah sendirian di kota." Tutur Rudi sambil merangkul mesra pundak Yani.


"Mas benar. Harusnya aku tidak boleh gelisah seperti ini."

__ADS_1


Yani dan Rudi akhirnya kembali berbaring. Mereka pun terlelap dengan nyaman. Begitu juga dengan Naura yang sudah tertidur lelap di kamar rumah kontrakannya.


__ADS_2