
Naura membangunkan Irul setelah dia selesai mandi lebih dulu.
"Mas, bangun. Kita sholat subuh yuk." Bisik Naura di telinga Irul yang berhasil membuat Irul membuka matanya dan langsung menarik Naura untuk dipeluknya. Akhirnya Naura pun kembali berbaring di samping suaminya.
"Iiih mas asam." Rengek Naura saat hidungnya mengendus bau keringat di ceruk leher suaminya.
"Ini keringat hasil perjuanganku tadi malam, sayang." Ucap Irul yang membuat Naura malu sendiri karena bayangan kejadian tadi malam berputar di kepalanya.
"Mau mengulanginya lagi?" Irul mulai memasukkan tangannya kedalam daster yang dipakai Naura.
"Iih jangan mas. Kita sholat subuh dulu." Protes Naura mencoba berontak.
"Iya deh. Kalau gitu mas mandi dulu ya."
Cup
Satu ciuman di bibir Naura dari suaminya sebelum melangkah ke kamar mandi. Tentu itu membuat Naura bersemu merah. Dia merona dan merasakan indahnya pengantin baru yang orang orang pernah ceritakan.
__ADS_1
Setelah mandi, Irul malah menyuruh Naura sholat subuh sendiri. Tentu hal itu membuat Naura sedikit kecewa, tapi dia mencoba untuk terlihat baik baik saja. Naura pun akhirnya sholat subuh sendiri.
Usai Naura sholat subuh, Irul mendekati Naura. Dipeluknya Naura dari belakang. Hal itu membuat Naura kembali merasa tenang dan nyaman. Rasa kecewa yang tadi pun perlahan menghilang berganti dengan kebahagiaan.
"Maafkan aku, Naura. Sebenarnya aku malu mau mengatakan ini, tapi aku tidak ingin membohongimu." Bisik Irul yang mengusik ketenangan yang dirasa Naura beberapa saat yang lalu.
"Ada apa, mas?" Tanya Naura tanpa mengalih posisinya yang masih dipeluk oleh suaminya itu.
Huh
"Sebenarnya aku tidak hafal bacaan dan gerakan sholat, aku juga tidak bisa membaca Qur'an.." Ungkapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Hati Naura berkecamuk mendengar pengakuan Irul barusan. Sungguh dia tidak menyangka masih ada orang yang tidak bisa sholat dan baca Qur'an seperti Irul.
Astaghfirullah, ya Allah tenangkan hatiku. Aku tidak boleh merendahkan suamiku. Dia juga hambamu. Mudah bagimu untuk menitipkan hidayah padanya.
"Maafkan aku Naura. Sungguh aku tidak bermaksud membohongimu dengan tidak mengatakan hal ini di awal."
__ADS_1
Naura melepaskan diri dari pelukan Irul. Dia membalik badannya untuk bisa menatap wajah sendu suaminya itu. Begitu Nuara menatap wajah itu, dia pun tersenyum manis pada suaminya. Naura bahkan memberikan ciuman di bibir suaminya itu, lalu kembali memeluknya.
"Tidak apa, mas. Tapi, mas mau kan belajar sholat dan ngaji? Aku akan membantu mas."
Irul mengangguk cepat dan kembali melingkarkan kedua tangannya di tubuh Naura.
"Ajari aku, sayang. Tolong jangan tinggalkan aku, tapi ajari aku sholat dan mengaji."
"Kita belajar bersama mas. Kita akan belajar bersama."
Naura menangis, air matanya menetes begitu saja. Sedangkan Irul, matanya hanya berair tapi tidak sampai menetes.
"Terimakasih, Naura. Terimakasih, sayang. Terimakasih karena kamu sudi menerima aku yang banyak kekurangan ini."
Sebenarnya inilah salah satu alasan mengapa Irul sering ditolak wanita saat berencana untuk menikah. Irul selalu jujur dan berkata bahwa dia punya kekurangan yang ternyata sulit untuk diterima oleh wanita yang akan dinikahinya dan juga tentu saja calon mertua. Ya, orangtua mana yang mau menikahkan anaknya dengan laki laki yang tidak bisa sholat dan mengaji.
Tapi, kini Irul berhasil menikah. Dia tidak bermaksud membohongi Naura dan kedua orangtua Naura tentang kekurangannya itu. Tapi, semalam mereka tidak menanyakan perihal itu dan Irul pun tidak punya kesempatan menjelaskan karena Naura yang langsung mengajukan syarat agar mereka menikah saat itu juga.
__ADS_1