Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 11 Naura demam


__ADS_3

Tama merasa kesal dengan perlakuan sombong Naura yang tidak mau bersalaman dengan Arjune yang merupakan calon CEO perusahaan kontraktor terbesar di indonesia.


"Lain kali, kalau ada yang mengajak bersalaman, kamu harus mau. Jangan sok sok jual mahal gitu."


Hati Naura seakan hancur berkeping keping saat mendengar suaminya memintanya untuk menyentuh tangan lelaki lain.


Aku bukan sok jual mahal. Hanya saja pak Arjune itu bukan mahromku. Bisik Naura dalam hati.


Dia sangat ingin mengatakan itu pada Tama. Tapi, dia urungkan karena dia tahu jika sampai kalimat itu terungkap, yang ada akan terjadi pertengkaran.


Aku harus sabar. Kami menikah karena dijodohkan. Baik mas Tama maupun aku, kami masih dalam proses belajar untuk saling memahami satu sama lain.


Langkah Tama berhenti tepat di toko pakaian dalam. Dia langsung masuk ke toko dan mulai memilih beberap pakain dalam untuknya yang harga satuannya seratus ribuan.


Lagi lagi Naura menggelengkan kepala. Dia biasanya membeli pakaian dalam seharga tiga puluh ribu yang paling mahal. Selebihnya hanya seharga lima belas ribu sampai dua puluh ribuan.


Aku tidak sanggup membeli barang semahal ini hanya untuk sekedar pakaian dalam. Pikir Naura yang rakyat jelata.


"Kamu tidak memilih?"


"Tidak mas."


"Pilihlah beberapa, aku tidak suka pakaian dalam lamamu. Semuanya terlihat murahan dan nggak enak dipandang."


Dahi Naura berkerut, dia kesal dan merasa tersingung dengan ucapan suaminya barusan.


Apa? Murahan. Memang murah sih harganya. Tapi, yang penting nyaman untuk dipakai, kok. Naura berdialog sendiri menggerutu kesal pada suaminya.


Melihat Naura yang tidak juga kunjung memilih, akhirnya Tama meminta penjaga toko untuk memilihkan yang cocok dan pas di tubuh Naura. Penjaga toko memilihkan tiga set pakaian dalam dan dua gaun malam tipis yang sangat menggoda saat dipakai oleh Naura nantinya.


Tama memang baik, membayarkan semua barang yang dibelikan untuk Naura. Tapi, tetap saja sikapnya sangat dingin pada Naura.


Akhirnya, belanja pun selesai. Naura dibawa ke restoran berbintang yang hanya menyajikan steik daging tebaik.


"Mas, aku tidak biasa makan di tempat semewah ini."


"Tinggal makan saja, apa susahnya sih." Tama mulai merasa kesal pada Naura.


Saat itu juga waiter menghampiri meja mereka dan lansung memberikan buku menu. Naura hanya pura pura membuka buku menu itu. Dia tidak tahu harus memesan apa saat melihat harga makanan makanan itu sangat mahal.


Sementara, Tama akhirnya memesan untuknya dan juga untuk Naura tanpa bertanya terlebih dahulu pada Naura.


"Dokter Tama!"


Suara itu berasal dari Arjune yang baru saja masuk ke restoran itu juga.


"Pak Arjune…" Sambut Tama sedikit terkejut.


"Boleh kita duduk di sini?"


Tanya Queen yang sudah lebih dulu duduk disamping Naura.

__ADS_1


"Boleh, tentu boleh. Silahkan duduk pak Arjune."


Tama mempersilahkan Arjune duduk dikursi kosong disampingnya.


"Sayang, kita tidak boleh mengganggu acara makan malam dokter Tama sama istrinya." Berbisik Arjune pada tunangannya.


Suara Arjune terlalu keras untuk dikatakan berbisik. Dan itu membuat Naura menoleh sebentar.


"Apa kamu keberatan, Naura?"


"Tidak kok. Saya senang bisa makan bersama pak Arjune dan buk Queen."


"Naura tidak keberatan kok, dokter Tama juga tidak keberatan, kan?"


"Tidak sama sekali." Jawab Tama cepat.


Akhirnya Arjune mengalah. Mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama. Arjune dan Queen langsung memesan makanan mereka.


"Pak Arjune kapan tiba di Bandung?"


Tanya Tama memecah sunyi.


"Sudah hampir dua minggu."


"Pasti mau mengerjakan proyek baru lagi?"


"Ya, kira kira seperti itulah."


Saat Tama dan Arjune mengobrol, Queen memperhatikan wajah Naura yang tampak pucat dan keringat dingin didahinya.


Pertanyaan Queen membuat Arjune dan Tama menatap kearah Naura.


"Ya, saya baik baik saja."


Naura menjawab sambil tersenyum untuk menyembunyikan perasaan tidak enak yang mulai membuatnya khawatir.


"Sepertinya tidak."


Queen mengulurkan saputangan pada Naura. "Ini, hapus keringat di dahimu, Naura."


Naura langsung mengambil saputangan dari tangan Queen untuk mengelap keringat didahinya seperti yang disadarkan Queen, saat yang bersamaan Waiters datang mengantarkan makanan mereka.


"Mari makan, pak Arjune, mbak Queen."


Tama bahkan tidak memperdulikan Naura yang memang sudah merasa tidak enak badan.


"Naura, sebaiknya kamu ke toilet dulu deh. Aku tidak nyaman makan dengan melihat keringatmu."


Ucap Queen menatap ji jik pada Naura.


"Queen!" Seru Arjune.

__ADS_1


Dia tidak suka mendengar kalimat yang keluar dari mulut tunangannya itu. Itu bisa saja menyinggung perasaan Naura.


"Maaf, mbak Queen. Saya akan mengantar istri saya ke toilet."


Tama menarik paksa tangan Naura. Langkah Nuara tampak berat, dia bahkan seperti menyeret sebelah kakinya untuk mengikuti langkah suaminya.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu pada Naura." Arjune menasehati tunangannya itu.


"Bukankah kamu sebentar lagi menjadi sarjana hukum? Apakah pantas bersikap seperti itu pada orang lain?"


Queen mendengarkan nasihat Arjune. Bukan karena dia suka, tapi karena tidak ingin bertengkar dengan lelaki yang sangat digilainya itu.


"Aku tahu, maafkan aku." Ucap Queen menyesal.


Arjune sudah tidak selera makan. Terlebih saat Tama dan Naura tidak juga kunjung kembali dari toilet.


Sementara itu, di toilet. Naura merasa kepalanya sangat pusing. Dia juga merasakan rasa nyilu yang semakin terasa menyiksanya.


"Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini…" Batin Naura.


Dia tidak lagi sanggup berdiri, hingga akhirnya dia duduk dilantai toilet dengan meluruskan kedua kakinya.


"Dek, lama banget sih. Kamu kenapa?"


Tama terlihat mulai khawatir.


"Mas, aku rasa aku akan pingsan."


Mendengar jawaban Naura, membuat Tama langsung menerobos masuk kedalam toilet cewek.


Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan Naura yang sangat pucat dan tampak lemas.


"Kamu kenapa?"


Tama memeriksa kening Naura yang terasa sangat panas. Dia langsung mengangkat tubuh Naura membawanya keluar dari toilet.


"Naura… kamu jangan pingsan dulu."


Tama benar benar merasa khawatir. Dia berusaha melangkah cepat membawa tubuh Naura dalam gendongannya.


"Mas rasanya sangat sakit…" Ucap Naura terbata, dan berakhir tidak sadarkan diri.


"Dokter Tama, istri anda kenapa?" Tanya Arjune saat melihat Tama tergopoh gopoh menggendong Naura mendekat kearah meja mereka.


"Sepertinya istri saya sakit, pak Arjune. Maaf saya harus segera membawa istri saya kerumah sakit."


Tama masih sempat merogoh sakunya mengambil sejumlah uang lalu meletakkan di atas nota tagihan yang ada di meja makan.


"Dokter Tama bawa mobil?" Tanya Arjune.


"Tidak. Saya bisa naik taksi."

__ADS_1


"Kalau begitu mari saya antar ke rumah sakit."


Arjune pun langsung keluar dari resto menuju mobilnya. Sedangkan Queen mengekor dibelakang Arjune setelah membayar makanan mereka. Queen bahkan tidak lupa membawakan tas sandang milik Naura.


__ADS_2