Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 24 Status facebook


__ADS_3

Seharian Tama dirumah mamanya. Dia rebahan dikamarnya sambil tersenyum senang dan tangannya terus mengeser keatas di layar hp-nya.


"Tidak sia-sia aku mengupload status di facebook. Aku puas melihat respon dari kalian teman teman."


Tama mengupload status lewat facebooknya. Seperti inilah tulisannya.


(Bukankah surga istri itu ada pada suaminya. Jadi sudah sepatutnya seorang istri patuh dan nurut pada suaminya. Hah, aku tidak habis pikir ternyata ada juga istri yang tidak patuh pada suaminya dan malah mengingkari janji. Apakah istri seperti itu adalah istri yang durhaka kepada suaminya?)


Begitu banyak komentar dari teman teman Tama yang membenarkan apa yang dikatakan Tama dalam cuitan status facebooknya tersebut. Bahkan teman teman Naura pun ikut berkomentar dan menanyakan apakah cuitan Tama itu ditujukan untuk Naura. Mereka saling berbalas komen dan malah mengatakan tidak menyangka Naura memiliki sifat buruk terhadap suaminya. Padahal dimata mereka Naura adalah sosok wanita yang baik dan taat agama.


Tama tidak memberikan tanggapan apapun terhadap pertanyaan dan komentar-komentar dari orang-orang tersebut. Dia hanya menyimak sambil tersenyum puas karena bisa menjelekkan nama baik Naura yang masih berstatus sebagai istri sahnya itu.


Tama sungguh kekanak-kanakan. Harusnya dia bicara baik baik empat mata dengan Naura untuk membahas tentang pernikahan mereka, bukannya malah memposting di sosial media yang akhirnya diketahui banyak orang.


"Selamat Naura, semoga kamu betah berlama lama mempertahankan pernikahan yang sangat aku benci ini."


Wajah Tama tampak berseri-seri, dia merasa sangat bahagia dan terhibur oleh komentar dari teman-temannya dan juga teman-teman Naura.


Berbeda dengan Tama, di kantornya Rian malah menggeram kesal membaca status facebook Tama yang menjelek jelekkan Naura. Rian bahkan membalas komentar-komentar jahat yang menyudutkan Naura. Aksi Rian tersebut malah seperti menyiramkan bensin ketengah kobaran api.


Komentar Jahat semakin banyak dan semakin menyudutkan Naura. Mereka bahkan ada yang menfitnah Naura memiliki hubungan diam diam dengan Rian. Mereka mengatakan itu setelah melihat bagaimana Rian mencoba melindungi Naura.


"Astaghfirullah ya Allah. Kenapa malah jadi seperti ini sih." Rian mengusak kepalanya. Dia merasa menyesal dengan tindakannya yang berusaha melindungi Naura tapi malah menjadi bumerang untuk Naura.


"Harusnya kamu tidak usah ikut campur Rian. Ini masalah rumah tangga mereka. Dengan hadirnya kamu membela Naura, itu malah membuat mereka berpikir Naura selingkuh sama kamu. Semua orang tahu kalian saling menyukai di masa lalu."


Seorang teman menasehati Rian yang malah semakin merasa bersalah kepada Naura. "Maafkan aku Naura. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuat kamu semakin terpuruk."


Rian mengusak kepalanya. Dia benar benar menyesali keteledorannya yang akan menyebabkan masalah baru dalam kehidupan rumah tangga Naura.


"Aku harus menemui Tama. Aku akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini."


"Kamu pikir dengan begitu kamu bisa menyelesaikan masalah. Yang ada semuanya akan semakin kacau Rian. Lebih baik kamu diam saja jangan memperkeruh keadaan."


"Kalau aku diam saja apa yang akan terjadi pada Naura?"


Rian tidak peduli dengan nasehat temannya itu, dia langsung bergegeas pergi untuk menemui Tama, padahal saat itu dia masih bekerja dan belum tiba waktunya untuk pulang atau istirahat makan siang. Dia tidak peduli tentang dirinya yang bahkan nanti akan diomeli atasannya, karena saat ini dia hanya fokus untuk membersihkan nama baik Naura.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Rian, di kota Bandung tepatnya di salah satu gedung perusahaan cabang yang baru di buka beberapa hari ini, Arjune pun emosi membaca status facebook Tama dan komentar orang-orang yang menyudutkan Naura. Tapi yang lebih membuatnya kesal adalah komentar Rian yang sok-sok an mau membela Naura, malah membuat orang-orang semakin menyudutkan Naura dan menuduh Naura berselingkuh.


"Mmhh…"


Arjune meletakkan kembali hp-nya, kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tok, tok, tok…


"Pak Arjune."


"Ada apa Hendri."


"Ini proposal dari dokter Tama."


"Proposal apa?" Arjune mengambil alih file proposal dari tangan Hendri.


"Dokter Tama membentuk kelompok Tani. Untuk mewujudkan kelompok Tani yang sukses, mereka meminta bantuan dana kepada beberapa perusahaan termasuk perusahaan ini."


Arjune tidak menanggapi, dia langsung membuka proposal itu dan memeriksa apa tujuan serta visi dan misi dari kelompok tani yang dibentuk oleh Tama.


"Pak, maaf sebelumnya tapi saya rasa perlu untuk menyampaikan berita ini."


"Tentang istri dari dokter Tama yang ternyata berselingkuh."


"Kamu tahu dari mana?"


"Sepupu saya kebetulan berteman dengan dokter Tama."


"Lalu, kenapa kamu mengatakan pada saya?"


"Mmm saya berharap pak Arjune bisa mempertimbangkan proposal dokter Tama." Ungkap Hendri.


"Mengapa saya harus mempertimbangkan kembali proposal yang ini. Saya rasa tidak perlu dipertimbangkan lagi."


Arjune langsung menutup proposal yang baru saja dibukanya beberapa lembar saja.


"Maksud bapak?" Tanya Hendri heran.

__ADS_1


"Tranfer segera dana sesuai permintaan dokter Tama. Saya suka visi misi mereka membentuk kelompok tani demi menciftakan lapangan kerja baru untuk warga kampung mereka."


Hendri tersenyum lega mendengar yang baru saja dikatakan Arjune.


"Terimakasih pak Arjune."


Arjune hanya tersenyum. "Mmm, sebenarnya Tama bukan seorang dokter, dia hanya perawat."


Hendri yang tadinya mau melangkah pamit dari ruangan Arjune, mendadak menghentikan langkahnya mendengar kalimat yang barusan diucapkan Arjune dengan tegas. Hendri bahkan membalikkan kembali badannya untuk menatap Arjune.


"Satu lagi yang perlu kamu tahu Hendri. Istrinya tidak berselingkuh, saya yakin itu."


Mendengar pernyataan Arjune barusan membuat Hendri terperangah, dia tidak mengerti mengapa atasannya itu begitu yakin bahwa istri Tama tidak berselingkuh.


"Baik pak Arjune. Kalau begitu saya permisi."


Begitu Hendri keluar dari ruangannya, Arjune langsung melihat kembali hp-nya.


"Haruskah aku ikut berkomentar untuk membela Naura?"


Saat Arjune tengah mempertimbangkan niat baiknya untuk membela Naura, nama Queen tertera dilayar hp-nya. Tunangannya itu menelpon.


"Halo Queen, ada apa?"


"Kak Arjune ada pertemuan penting tidak hari ini dengan klien?" Suara Queen dari seberang sana.


"Tidak. Ada apa?"


"Papa meminta kak Arjune untuk segera ke Kalimantan sekarang juga. Ada hal penting yang mau dibicarakan."


"Oh baiklah. Aku akan memesan tiket penerbangan sekarang."


"Mmm, sampai bertemu di Kalimantan kak Arjune. I miss you so much."


"Ya. I miss you too my Queen."


Pembicaraan itu selesai. Arjune langsung memesan tiket penerbangan ke Kalimantan.

__ADS_1


"Aku sudah punya Queen. Lagi pula Naura juga sudah punya suami. Jadi, aku harus berhenti mempedulikan dia."


Sebenarnya bukan aku yang tidak bisa melupakan Naura. Tapi, Naura itu ada dalam ingatan dan hatiku. Aku sangat ingin mengusirnya, tapi semakin aku berusaha mengusirnya malah semakin aku merindukan dan memikirkannya.


__ADS_2