
Hari ke enam Naura tinggal di rumah Mama mertua. Masih tidak ada yang berubah dari Tama. Maysaroh mengetahui tentang Tama yang selalu pulang malam, tidak pernah memberi Naura uang nafkah, namun dia tidak memarahi Tama. Dia hanya menasehati sekedarnya kemudian meminta Nuara berusaha agar Tama mau berubah.
"Ya Allah, rasanya aku sudah sangat lelah. Aku ingin menyerah!"
Bahkan selama hampir seminggu di rumah mertua, perlakuan suaminya menjadi sangat asing. Tidak pernah sekalipun Tama menanyakan apakah Naura sudah makan, ataukah Naura lelah setelah pulang kerja masih harus beberes rumah, masak dan harus mengerjakan lagi pekerjaannya sebagai staff TU.
"Mas, apa mas pernah menganggap kehadiranku dalam hidup mas meski hanya sedetik saja?" Tanya Naura saat mereka sama sama masih di kamar.
"Apaan sih, mulai lagi deh. Malas tau nggak sih."
Tama malah meninggalkan Naura sendirian di kamar. Dia menuju dapur untuk makan malam.
"Naura, suami kamu mau makan tuh. Temani sana!" Panggil Maysaroh dari luar kamar.
"Iya, ma."
Naura langsung keluar kamar. "Mama sudah makan?"
"Sudah." Jawabnya datar.
"Ya sudah, kalau begitu aku makan dulu ya, ma."
"Iya sana temani suamimu."
Naura pun menuju dapur. Dilihatnya Tama duduk anteng menikmati makan malamnya di meja makan.
__ADS_1
"Mas kok nggak ngajak ngajak sih mau makan." Celetuk Naura sambil menyendok nasi kedalam piringnya.
"Manja."
Setelah mengatakan satu kata itu, Tama malah mencari tempat lain untuk menikmati makan malamnya. Melihat itu, Naura pun ingin menjahilinya dengan ikut duduk di sebelah Tama. Benar saja, Tama kemabli ke meja makan. Naura menghampirinya lagi.
"Apaan sih, bisa nggak sih nggak usah dekat dekat. Males banget." Rutuk Tama yang kembali pindah tempat.
"Aku istrimu, mas. Aku hanya ingin makan bersama suamiku." Naura mendekat lagi.
"Jijik aku makan sama kamu. Kenapa sih kamu itu nggak mau mengalah juga. Aku tu nggak cinta sama kamu, lebih baik kamu pulang saja ke rumah orangtuamu sana." Bisik Tama sambil menggertakkan giginya geram.
"Mas menceraikan aku?"
"Astahfirullah, ya Allah…" Hati Naura sakit. Sangat sakit. Sampai dia tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini.
.
.
.
Naura baru pulang kerja, dia mampir di rumah bunda untuk istirahat sebentar di kamarnya yang hampir seminggu dia tinggalkan. Naura bahkan sampai ketiduran sampai lupa bahwa dia harus segera pulang kerumah mama mertua. Tapi, kemudian dia ingat bahwa suaminya telah menjatuhkan talak padanya jikalau dia pulang kerumah orang tuanya.
Rudi dan Yani tahu Naura ada di rumah mereka. Tadinya Rudi ingin memaksa Naura untuk segera pulang ke rumah mama mertuanya, tapi melihat Naura menangis sambil berdoa membuat hatinya merasa iba dan memutuskan membiarkan saja putri sulungnya itu.
__ADS_1
"Mas, bagaimana kalau akhirnya Naura benar benar memilih untuk bercerai?"
"Berdoa saja semoga semuanya baik baik saja, dek. Mas percaya, Naura sudah cukup matang untuk mengambil keputusan yang tepat."
Yani mengangguk resah menanggapi ucapan suaminya. Jujur, dia ingin segera Naura bercerai dengan Tama. Tapi, mengingat putrinya akan menjadi janda, membuatnya merasa sedikit khawatir. Menjadi janda di usia muda, sungguh malang jika itu yang pada akhirnya akan terjadi ada Naura.
Waktu terus berlalu. Dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Naura sudah selesai berdoa dan sepertinya dia juga sudah mendapatkan jawaban apa yang akan dia berikan saat nanti kedua orangtuanya bertanya.
"Maafkan aku, bunda, ayah. Tapi, ini keputusan terbaik menurutku. Aku kalah, aku lemah, aku karam. Aku tidak bisa melanjutkan lagi pernikahan ini. Mas Tama sudah mengatakan yang sejujurnya, bahwa dia hanya terpaksa menikah dengan ku demi mama. Dan hampir empat bulan usia pernikahan ini, mas Tama masih tetap tidak bisa menerimaku. Biarlah aku yang mengalah. Aku tidak ingin bertahan demi seseorang yang tidak menginginkan kehadiranku." Gumamnya bicara pada dirinya sendiri.
Naura memilih menyerah dalam mempertahankan rumah tangga ini. Biarlah, dia menanggung malu karena harus menyandang status janda di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun. Usia dimana teman temannya masih asik bermain dan tertawa bebas menikmati masa muda mereka.
Tok…
Tok…
Suara ketukan pintu itu terdengar, Naura yakin itu bunda dan ayahnya. Dengan pelan dia bangkit dari kasurnya untuk membuka pintu.
"Bunda…" Naura langsung memeluk erat bundanya saat pintu kamarnya terbuka.
Yani dan Rudi mengerti, sepertinya Naura sudah memutuskan sesuatu yang mungkin membuat hati mereka sedikit kecewa.
"Naura mohon, jangan suruh Naura pulang ke rumah mama. Ayah, Naura mohon, jangan paksa Naura kali ini. Naura punya alasan yang kuat untuk tidak kembali ke sana." Naura mengatakan itu sambil berlutut dikaki kedua orangtuanya sambil menangis.
Dia tidak sanggup untuk mengatakan bahwa Tama telah memasang talak padanya dengan menjadikan alasan kepulangannya kembali kerumah menjadi syarat sah nya jatuh talak satu kepadanya.
__ADS_1