
Tujuh hari kemudian. Naura hanya menghabiskan waktu dirumah dengan membantu bunda membereskan rumah saat bunda harus pergi bekerja untuk menyetrika pakaian orang orang yang menggajinya.
Tama juga tidak pernah menelponnya lagi setelah malam itu. Sms yang dikirimkan Naura pun tidak pernah dibalasnya. Dia seperti menghilang tanpa jejak. Tapi, Naura tidak peduli, dia sudah bisa menstabilkan hati dan pikirannya kembali seperti sebelum mengenal Tama.
Drriittt...
Ponselnya bedering. Ada panggilan masuk dari bagian administrasi dekanad fakultas sastra.
Segera Naura menjawab panggilan itu. Dia mendengarkan dengan baik penjelasan dari ibu yang merupakan kepala bagian administrasi fakuktasnya.
Senyum bahagia terlihat diwajah Naura. Terlebih setelah panggilan itu berakhir.
"Bunda, ayah!"
Naura beriak sambil berlari menghampiri kedua orangtuanya yang sedang menonton televisi.
"Ada apa?"
Tanya mereka menoleh kaget kearah Naura.
"Ayah, bunda… aku akhirnya wisuda!"
"Wisuda?" Ulang Yani dan Rudi hampir bersamaan.
Naura mengangguk.
"Ya Allah, alhamdulillah…"
Yani langsung memeluk Naura. Sementara Rudi ikut menepuk punggung Naura dengan lembut. Matanya tampak berkaca kaca saat Yani dan Naura mulai menangis bahagia.
"Kamu sudah memberi kabar bahagia ini pada suamimu?" Tanya Rudi disela tangis bahagia itu.
Naura melepaskan diri dari pelukan bundanya. Dia menoleh pada ayahnya, lalu menggeleng.
"Kalau begitu kabarkan pada suamimu kabar bahagia ini."
"Iya ayah."
Naura pun kembali ke kamarnya. Dia pun langung menelpon suaminya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan Naura sudah menelpon belasan kali.
"Mungkin mas Tama sibuk. Aku kirim sms saja deh."
Naura pun mengirimkan pesan sms pada suaminya. Dia mengatakan akan wisuda tiga hari lagi. Naura juga mengabarkan, dia akan langsung ke kota besok pagi, karena harus mengikuti acara gladi bersih untuk persiapan wisudanya.
Naura juga mengabarakan pada mama mertuanya tentang kabar gembira itu. Mama mertuanya pun langsung merespon dengan baik. Dia bahkan mengatakan akan berangkat bersama ayah dan bunda Naura tepat sehari sebelum wisuda dengan menggunakan mobilnya.
Sementara itu, di kota. Di kamar hotel, Tama duduk diatas ranjangnya sambil membaca pesan sms Naura yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
"Pesan dari Naura, bro?"
"Iya. Katanya dia akan ke kota besok. Dia mau wisuda tiga hari lagi." Tutur Tama menjelaskan.
Temannya yang tadi bertanya merasa aneh melihat ekspresi wajah Tama yang tampak kurang senang. Padahal harusnya dia bahagia karena istrinya akan datang ke kota besok. Dan besok juga hari terakhir pelatihan.
Di tempat yang berbeda. Zahra dan Baim juga merasa sangat bahagia, karena akhirnya Zahra akan segera wisuda.
"Berarti besok aku harus ke kota, kak."
"Lalu, kenapa wajah kamu sedih gitu?"
Baim menyentuh kedua pipi Zahra dengan lembut.
"Kakak ikut ya!" Ajak Zahra.
"Tentu dong sayang. Mana mungkin kakak membiarkan istri kakak menjadi obat nyamuk untuk Naura dan suaminya."
Baim mengatakan itu, karena Naura baru saja menelpon mereka. Dia mengatakan suaminya di kota dan Naura berencana untuk datang lebih awal, supaya bisa bertemu dengan suaminya.
"Tapi, kita tinggal dimana, kak. Nggak mungkin di kamar kos, sudah pasti Naura yang akan menunggu kamar kos itu bersama suaminya."
Zahra tidak mau menempati kamar kos, karena memang bulan terakhir di kos dia tidak ikut membayar sewanya. Hanya Naura sendiri yang membayar. Itu juga karena Zahra sedang kehabisan uang.
"Kita bisa cari kamar kos lain atau langsung cari penginapan yang bisa di sewa sebentar menjelang wisuda, sayang."
"Kakak…" Dua jempol Zahra acungkan pada suaminya itu. Senyuman manis terlukis indah di wajah Baim. Dia pun langsung menarik tubuh Zahra masuk dalam pelukan hangatnya.
.
.
.
Pukul tujuh pagi, Naura sudah berangkat ke kota dengan menaiki bis antar kota. Dia diantar oleh ayah dan bunda ke terminal tepat setelah sholat subuh tadi.
Kini Naura sudah berada di dalam bis yang sudah mulai melaju menuju kota.
"Aku coba telpon mas Tama sekali lagi."
Sudah berkali kali Naura menelpon dan juga mengirimkan sms pada suaminya sebelum dia berangkat tadi, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dan sekarang Naura mencoba untuk menelpon suaminya lagi.
"Masih tidak di angkat."
Ada sedikit perasaan sedih, kecewa dan rasa sesak saat telpon dan sms nya tidak pernah sekalipun dihiraukan oleh suaminya.
"Ternyata seperti ini rasanya mencintai sendiri."
__ADS_1
Naura menyimpan ponselnya kembali kedalam tas kecilnya. Lalu dia menyenderkan kepala di sandaran kursi bis sambil memejamkan mata.
Untuk tiba di kota butuh waktu sekitar lima sampai enam jam perjalanan menggunakan bis antar kota. Jadi, Naura memanfaatkan waktu ber jam jam itu untuk beristirahat mengisi energinya yang terkuras karena terus berpikir tentang suaminya hampir semalaman.
Hingga tidak terasa, akhirnya bis tiba di terminal pasar di kota. Naura pun turun dari bis dengan menenteng tas besar bawannya. Ponselnya bergetar, segera dia melangkah duduk di kursi samping terminal. Barulah kemudian Naura mengambil ponsel dari dalam tas kecil yang disandangnya.
"Mas Tama!"
Segera Naura menekan tombol hijau di keyboard ponselnya saat mengetahui Tama yang memanggilnya.
"Mas…"
"Kamu sudah sampai?" Tanya Tama yang baru kembali ke hotel setelah pelatihan
"Sudah mas, ini baru turun dari bis. Masih di terminal."
Bibir Naura terangkat, ia tersenyum senang.
"Ya sudah kalau gitu, aku tunggu di depan kos kamu aja, ya."
Senyum Naura berubah menjadi sendu. Dia kecewa untuk kesekian kalinya.
"Iya mas."
Panggilan berakhir.
"Berharaplah hanya kepada Allah, Naura. Jangan menggantungkan harapan pada manusia, bahkan pada suami sekalipun."
Beberapa detik lalu Naura berharap Tama akan menjemputnya ke terminal. Ternyata tidak sama sekali. Setelah merasa sedikit lega, Naura melangkah menuju angkot yang sedang menunggu penumpang. Dan tidak lama kemudian, angkotpun langsung melaju mengantar penumpang ke tujuan mereka masing masing.
Setelah melaju hampir dua puluh lima menit, akhirnya Naura tiba di depan kosnya.
"Alhamdulilah, akhirnya tiba juga." Ucapnya bersyukur.
Naura tidak menyadari sepasang mata milik suaminya menatap kearahnya yang melangkah menenteng tas besar yang lumayan berat. Tas itu berisi pakaian dan juga perlengkapan lainnya untuk wisuda besok.
Bukannya membantu membawakan tas, Tama hanya menatap dengan tatapan sedikit mengejek melihat tampilan Naura yang selalu memakai gamis besar dan jilbab yang terlalu panjang. Menurutnya itu terlihat tidak modis sama sekali.
"Mas!"
Naura baru melihat suaminya itu yang sejak tadi duduk di kursi depan kamar kos menunggu kedatangannya.
"Mas sudah lama sampai?"
Naura meletakkan tasnya diatas kursi, lalu mengambil kunci kamar di dalam tas sandangnya.
"Sekitar lima belas menit yang lalu."
__ADS_1
Naura menghela napas dengan sangat pelan, agar tidak terdengar oleh suaminya. Dia merasa tidak suka dengan cara bicara suaminya itu yang selalu acuh saat mereka hanya berdua saja.