Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 21 Harga diri


__ADS_3

Hari ini, Naura melamun. Dia duduk sendirian di kursi teras rumahnya. Dia memilih untuk berhenti kerja sejak tiga hari yang lalu karena suasana hatinya yang semakin sedih dan tidak menentu.


Haruskah aku menyerah?


Setiap kali mengingat sikap dingin suaminya dan sikap egois mama mertuanya membuat Naura ingin menyerah. Tapi, setiap kali mendapat perlakuan baik dari suaminya di depan ayah dan bundanya, membuat Naura merasa memiliki sedikit harapan.


"Assalamualaikum, Naura!"


Seseorang menghentikan motornya di depan rumah Naura. Mendengar ucapan salam dan namanya di sebut, membuat Naura menoleh.


"Bang Udin! Waalaikumsalam…"


"Pagi pagi sudah melamun saja."


Udin berbicara dari atas motornya. Dia tidak turun ataupun mendekati Naura.


"Suamimu ada?"


"Ada, bang. Sebentar saya panggilkan."


Naura langsung masuk ke rumahnya dan menuju kamar. Begitu pintur kamar dia buka, rupanya suaminya masih tertidur nyenyak.


Bagaiman ini? Kalau aku bangunkan, nanti malah dibilang menganggu.


"Mas, bangun. Ada bang Udin di depan." Naura membangunkan tanpa menyentuh tubuh suaminya sedikitpun.


"Mas, bangun!"


Yang di bangunkan hanya melengus kesal dan malah membelakangi Naura.


"Mas, ada bang Udin di depan."


"Apaan sih berisik. Aku ngantuk tau nggak. Ngerti bahasa manusia nggak sih."


Tama menutup telinganya dengan bantal. Dia tidak berniat untuk bangun sama sekali.


Baiklah, aku tidak akan mengganggu.


Naura kembali ke depan dan tersenyum pada Udin. "Maaf bang Udin, mas Tama masih tidur."


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau dia sudah bangun, bilang sama dia nanti sore abang datang lagi."


"Insya Allah saya sampaikan, bang."


Setelah mengucapkan salam, Udin langsung pergi meninggalkan Naura. Dan tanpa Naura sadari, satu kalimat yang barusan dia sampaikan pada Udin di dengar oleh Tama dari dalam kamar. Dia mengepal erat jari jemarinya dan menggeram penuh amarah.

__ADS_1


"Naura!"


Naura menoleh saat mendengar panggilan dari suaminya yang berteriak dari dalam kamar. Segera Naura menghampiri suaminya ke kamar.


"Ada apa mas?"


"Ada apa? Kamu tanya ada apa!" Bentak Tama yang melangkah mendekati Naura.


"Mas kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"


Tama mendengus kesal mendengar pertanyaan Naura. Dia melangkah semakin dekat pada Naura hingga Naura tersudut di tembok dinding kamar.


"Bagus sekali aduan mu pada bang Udin." Tama menatap Naura dengan tatapan penuh kebencian.


"Maksud mas apa? Aku tidak paham..."


Tama mengangkat tangannya hendak memukul Naura, hingga Naura tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dia memejamkan erat matanya saat melihat tangan itu akan melayang di wajahnya.


"Kamu sama saja menginjak injak harga diriku dengan mengatakan aku masih tidur pada bang Udin."


Tangan Tama tidak jadi memukul wajah Naura. Dia menjauhkan diri dari Naura.


Aku salah lagi.


Air mata menetes dari pelupuk mata Naura. Tapi, kali ini dia tidak akan berlutut di kaki suaminya seperti sebelumnya. Karena memang suaminya sudah keluar dari kamar itu dengan membanting kuat pintu kamar.


"Ya Allah, kali ini memang salahku. Aku tidak tahu, dengan mengatakan bahwa suamiku masih tidur pada orang lain, adalah kesalahan yang fatal. Aku tidak tahu kalimat itu ternyata membuat harga diri suamiku jatuh."


Tangis Naura pecah. Dia merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan hingga membuat suaminya merasa harga dirinya telah diinjak injak olehnya.


"Ya Allah ampuni aku. Mas Tama, maafkan aku…" Naura sangat menyesali perbuatannya.


.


.


.


Malam ini Naura menginap di rumah mama mertuanya lagi. Tama mengirim pesan padanya untuk menyusul ke rumah mamanya setelah pertengkaran tadi siang. Kini Naura sedang membaca Qur'an setelah sholat isa. Sedangkan Tama menyantap makan malam kesukaannya semur ayam yang sengaja dimasak oleh mamanya untuk menyambut kepulangannya.


"Tania, panggil mbak Naura. Bilang sama dia, mama nunggu untuk makan malam bersama." Maysaroh memerintahkan Tania untuk memanggil Naura.


Dengan senang hati Tania langsung menuju kamar Tama dan Naura. Saat tiba di depan kamar dia mendengar Naura mengucapkan doa akhir setelah membaca Qur'an. Tania langsung membuka pintu kamar itu dan tersenyum pada Naura yang sedang membereskan mukenanya.


"Mbak, udah selesai sholat-nya?"

__ADS_1


"Sudah. Ada apa, dek?"


"Mama nunggu mbak Naura untuk makan malam bersama."


"Ya, sebantar lagi mbak langsung menyusul."


"Kalau begitu aku duluan ya mbak."


Naura mengangguk, Tania pun langsung melagkah kembali ke dapur untuk menyampaikan pesan Naura pada mamanya. Dan tidak berselang lama Naura tiba di meja makan. Mereka pun melanjutkan makan malam bersama. Maysaroh dan kedua anaknya mengobrol sambil menyantap makan malam. Sedangkan Naura hanya diam mendengarkan obrolan mereka yang tidak dimengertinya membahas tentang apa sama sekali.


Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv. Pada saat itu, tiba tiba Tama menyetrika bajunya sendiri dihadapan mamanya. Seakan dia sengaja untuk membuat mamanya berpikir bahwa selama ini Naura bahkan tidak menyetrika pakaian Tama.


"Sayang, kok malah suamimu menyetrika pakaian sendiri?" Maysaroh menatap heran pada Naura yang tampak diam saja.


Salahkan anak mama sendiri. Mengapa dia tiba tiba menyetrika baju yang sudah tidak pernah dipakainya lagi. Padahal baju yang sudah aku setrika masih banyak kok.


"Mas, bukankah baju itu sudah tidak pernah mas pakai lagi, kan? Kok malah disterika sih. Masih banyak baju mas yang lain yang sudah aku setrika loh?"


Naura menghampiri Tama dan hendak mengambil alih setrikaan dari tangan Tama.


"Eh iya, itukan baju pemberian Imel. Bukankah sudah lama kamu tidak memakainya." Maysaroh berucap begitu saja tanpa memikirkan perasaan Naura.


Oh ini baju pemberian mantan kekasih mas Tama. Sepertinya mas Tama merindukan Imel. Mas Tama pasti sedih karena Imel akan menikah dua hari lagi dengan pria lain.


Niat Naura untuk membantu Tama menyetrika baju itu dia urungkan saat mengetahui rahasia dibalik baju yang telah lama tidak dipakai oleh suaminya itu.


"Sudah, tidak usah memakai baju ini." Maysaroh membuang baju itu begitu saja di lantai.


"Naura sayang, ambilkan baju yang lain yang sudah kamu setrika untuk suamimu."


"Iya, ma."


Naura langsung menuju kamar untuk mengambil baju lain yang sudah rapi.


"Ma, kenapa mama malah membuang bajuku. Mama tahu, baju itu sangat spesial untukku."


"Mama tahu itu spesial, tapi dulu. Sekarang yang paling spesial dalam hidup kamu hanya satu Naura."


"Tapi, ma…"


"Tidak ada tapi tapi. Kamu sendiri yang menyetujui pernikahan kamu dengan Naura. Jadi, kamu harus bertanggung jawab pada Naura lahir dan batin."


"Mama yang memaksa aku untuk menikahi Naura Ma!" Teriak Tama tidak kalah lantang dari suara mamanya.


Maysaroh marah, dia terkejut karena ini kali pertama Tama berteriak seperti itu padanya. Suara Tama bahkan terdengar hingga oleh Naura dari dalam kamar.

__ADS_1


Ternyata benar mas Tama sejak awal tidak pernah menyukaiku seperti yang dulu Mama katakan. Mas Tama hanya terpak menikah denganku untuk mengikuti kemauan Mama.


Naura menatap diam diam ekspresi wajah marah dan kecewa mama mertuanya dari balik pintu kamar. Wajah itu tampak merah padam dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2