Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 38 Dani menghilang?!


__ADS_3

Sejak kemarin Naura tidak bisa menghubungi Dani. Namun, dia berusaha untuk berpikir yang baik baik tentang Dani. Sampai akhirnya, pagi ini Naura di panggil oleh Arjune untuk menemuinya di ruangannya.


Naura merasa was was, dia tidak merasa melakukan kesalahan, tapi mengapa Arjune memanggilnya untuk ke ruangannya.


"Ya Allah, semoga semuanya baik baik saja." Ucapnya sebelum mengetuk pintu ruangan Arjune.


Tok...


Tok...


Meski ragu Naura akhirnya tetap mengetuk pintu itu.


"Masuk!" Seru Arjune dari dalam ruangannya.


Naura pun masuk. Dia menatap sekilas pada Arjune yang tampak fokus menatap layar komputernya.


"Silahkan duduk, Naura."


Naura duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Arjune. Matanya menatap tepat ke samping komputer Arjune. Tepat di atas meja itu mata Naura melihat dengan jelas sebuah amplop putih bertulisan surat pengunduran diri.


Apa aku dipaksa untuk mengundurkan diri? Ya Allah kesalahan apa yang sudah aku lakukan, sampai pak Arjune menyiapkan surat pengunduran diri untukku..


Naura semakin khawatir. Dia pikir Arjune akan memecatnya secara sepihak, dengan cara seakan dia mengundurkan diri. Padahal itu surat pengunduran diri Dani.


"Naura, kamu tahu kenapa Dani tiba tiba mengundurkan diri?" Tanya Arjune.

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Naura terkejut dan terdiam seketika. Dia paham sekarang mengapa dia dipanggil dan surat pengunduran diri itu bukan untuknya melainkan surat pengunduran diri Dani.


Mas Dani.. kenapa mas Dani tidak bisa di hubungi sama sekali sejak kemarin dan sekarang malah mengundurkan diri?


"Saya menanyakan ini sama kamu, karena saya pikir kalian punya hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja. Jadi, saya pikir kamu pasti tahu mengapa Dani tiba tiba mengundurkan diri." Arjune menjelaskan panjang lebar.


Naura menghela napas, lalu dia mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman. "Saya tidak tahu sama sekali, pak." sahut Naura berkata jujur.


Arjune mengangguk mendengar jawaban dari Naura. Dia juga memahami mimik wajah Naura yang tampak kecewa.


Aku rasa, Naura sama terkejutnya denganku mendengar Dani mengundurkan diri. Apa mereka sudah tidak berhubungan lagi, atau malah Dani kecewa karena mungkin Naura menolak cintanya kali ya..


Arjune menerka nerka kemungkinan yang terjadi antara Dani dan Naura hingga membuat Dani ketua tim perencanaan yang sangat telaten dan juga paling disukai di kantor tiba tiba mengundukan diri.


"Ya sudah Naura, kalau kamu tidak tahu tentang alasan Dani mengundurkan diri, silahkan kamu kembali ke ruangan kamu lagi." Ujar Arjune kemudian.


Segera Naura keluar dari ruangan Arjune. Dia tidak langsung kembali ke ruangannya, tapi dia pergi ke toilet. Mencoba menghubungi Dani tapi tetap saja tidak tersambung. Bahkan operator mengatakan nomor yang Naura hubungi sudah tidak terpakai lagi.


"Kemana kamu mas Dani? Kenapa tiba tiba menghilang setelah kamu melamar aku.."


"Apa sesuatu yang buruk terjadi sama mas Dani?"


Naura benar benar mengkhawatirkan Dani. Dia sampai bolos dari kantor untuk mencari Dani dan menanyakan apa yang terjadi.


Naura mendatangi alamat rumah orangtua Dani yang pernah diberikan Dani padanya.

__ADS_1


Setibanya di depan rumah itu, Naura mengucap salam dan mengetuk pintu rumah itu. Cukup lama Naura menunggu di depan rumah. Dia duduk di kursi yang ada di teras.


Lalu setelah hampir dua puluh menit, seorang ibu ibu datang mendekat ke rumah itu. Ibu ibu itu menatap heran pada Naura yang tampak sedang menunggu di teras rumahnya.


"Mau cari siapa, neng?" Sapa ibu itu pada Naura.


"Bu, ee.. maaf saya mau mencari mas Dani." sahut Naura.


Naura meraih tangan ibu itu, mencium punggung tangannya dan tersenyum ramah. Hal itu tentu saja membuat wanita separuh baya itu terperangah heran.


"Dani siapa ya? Ini rumah saya. Tidak ada nama Dani tinggal disini." Ujar ibu itu menatap curiga pada Naura.


Merasa dicurigai, Naura segera mengeluarkan secarik kertas yang bertulisan alamat rumah yang diberikan Dani padanya waktu itu.


"Ini memang alamat rumah saya. Tapi saya tidak kenal siapa Dani yang neng maksud. Saya tinggal sendiri di rumah ini. Suami saya sudah meninggal setahun yang lalu dan saya tidak punya anak atau pun saudara." Ibu itu menegaskan pada Naura.


Mendengar penjelasan itu, tentu membuat Naura terkejut. Tapi dia belum menyerah. Dia pun memperlihatkan foto Dani pada ibu itu.


"Maaf neng, tapi sungguh saya tidak mengenal siapa mas mas ini sama sekali."


Jawaban ibu itu membuat hati Naura bergemuruh tak menentu. Dia pun pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada ibu itu.


"Mas Dani menghilang! Sepertinya dia sengaja menipuku." Gumam Naura. Hatinya terasa sakit, napasnya pun terasa mulai sesak.


"Sabar Naura. Kamu harus tetap tenang.." Mengingatkan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun, hatinya tidak bisa berbohong. Naura terluka, dia merasa sakit karena ditipu oleh pria yang sudah dipercayainya. Air mata itu pun akhirnya menetes deras dari kedua pelupuk matanya.


__ADS_2