Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 43 Berangkat ke Surabaya


__ADS_3

Setelah menghubungi Lutfi semalam, Rudi dan Yani pun akhirnya menceritakan siapa Lutfi dan apa kaitan Lutfi dengan mereka. Naura mendengarkan tanpa memberikan komentar apapun.


Lalu Rudi juga memberikan nomor telepon Lutfi, dan dia juga mengatakan telah memberikan nomor telepon Naura pada Lutfi, agar nanti saat tiba di terminal, Naura dan Lutfi bisa saling berkomunikasi melalui telepon sebelum benar benar bertemu.


Sudah saatnya Naura berangkat ke Surabaya. Dia naik bus. Rudi dan Yani mengantarnya ke terminal.


"Hati hati ya, nak. Jaga diri, jaga kesehatan." Yani memeluk dan mencium kedua pipi putri sulungnya itu.


"Bunda juga, jaga kesehatan. Nanti aku akan lebih sering menghubungi kalian." sahut Naura.


"Pergilah. Jangan lupa untuk mengabari Lutfi. Dia sudah seperti putra ayah sama bunda loh Naura. Nak Lutfi itu sangat baik. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan padanya." tutur Rudi.


"Iya ayah. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."


Naura pun akhirnya masuk ke dalam bus besar itu. Lalu bus itu pun melaju meninggalkan terminal. Rudi dan Yani menatap dan melambaikan tangan mereka sampai akhirnya bus itu menghilang dari padangan mereka.


Setelah menempuh perjalanan ber jam jam, akhirnya bus yang ditumpangi Naura tiba di terminal Surabaya.

__ADS_1


Saat Naura turun dari bus, dia melihat seorang pria tinggi berwajah teduh dan tatapan mata yang sendu berdiri di terminal sambil memegang kertas bertulisan namanya lengkap dengan nama kedua orangtuanya.


Naura tersenyum melihat itu. Perlahan dia pun melangkah mendekati pria bernama Lutfi yang sering diceritakan ayah dan bundanya selama ini.


"Assalamualaikum, mas Lutfi." Sapa Naura begitu tiba di samping Lutfi. Sementara Lutfi masih menatap kedepan kearah orang orang yang turun dari Bus. Ya, dia mencoba menemukan Naura.


"Naura!" Seru Lutfi ragu. Dia tidak begitu hafal wajah Naura. Saat pertemuannya dengan Naura waktu itu pun wajah Naura penuh luka, jadi tidak terlalu jelas bagaimana bentuk wajah itu.


"Iya, saya Naura." Sahut Naura tersenyum ramah.


Lutfi segera melipat kembali kertas bertulisan nama Naura.


"Terimakasih." Sahut Naura senang.


"Ee, kamu mau makan dulu atau langsung ke perumahan?" Tanya Lutfi grogi.


Tentu Lutfi grogi, wajah lembut Naura membuatnya salah tingkah. Dan entah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, sebab Lutfi merasa jatuh hati pada Naura saat melihat senyuman dan mendengar suaranya untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"Jika mas Lutfi tidak keberatan, boleh mengantar saya ke tempat makan dulu. Saya merasa lapar."


"Baiklah. Mari saya antar."


Lutfi mengajak Naura untuk menuju mobilnya. Dia juga langsung membukakan pintu mobil untuk Naura. Itu spontan saja tanpa di rencanakan sama sekali.


"Terimakasih."


Lutfi hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasih dari Naura. Lalu Lutfi pun menaruh tas barang bawaan Naura kebagasi belakang. Lalu dia pun masuk ke mobil.


"Mau makan apa, Naura?"


"Apa saja yang penting ada nasinya. Maklum saya indonesia banget, kalau makan harus ada nasi."


"Baiklah."


Mobil Lutfi melaju memecah jalanan kota Surabaya. Naura pun menikmati keindahan kota Surabaya dari balik kaca mobil. Dan tidak ada obrolan lagi diantara mereka sampai akhirnya mobil Lutfi berhenti di salah satu rumah makan yang terkenal dan ramai pengunjung.

__ADS_1


"Kita makan disini saja ya. Makanan disini paling enak loh menurut saya kalau di kota Surabaya." Tutur Lutfi.


Naura mengangguk setuju saja. Lalu, setelah masuk ke rumah makan itu, Naura pun menghubungi ayah dan bunda mengabarkan bahwa dia sudah tiba di Surabaya dan sudah bersama Lutfi.


__ADS_2