
Naura baru saja selesai sholat isa. Dia langsung berbaring diatas ranjangnya dengan masih memakai mukena.
"Sungguh hari yang melelahkan."
Naura benar benar kehabisan energi, setelah seharian mengikuti perintah mama mertuanya. Dimulai dengan membeli bahan masakan di pasar. Dia diajak berkeliling pasar oleh mertuanya untuk membeli berbagai macam sayuran, ikan, ayam, daging dan juga bumbu bumbu lainnya.
Sebenarnya Naura sudah terbiasa sejak lama berbelanja sayuran ke pasar. Hanya saja, biasanya dia membeli apa yang perlu debelinya saat terlihat oleh matanya. Sementara, tadi saat bersama mama mertuanya, dia diajarkan cara memilih sayuran yang masih segar, ayam, ikan dan daging yang juga masih segar. Sehingga mereka berkeliling di pasar dan mampir hampir disetiap kedai para pedagang.
Selesai berbelanja, Naura di boyong ke rumah mama mertuanya.
"Naura, bantu mama masak ya, sayang!"
Permintak-an tolong dari mama mertuanya terdengar seperti perintah di telinga Naura.
Naura mengangguk sambil tersenyum. Padahal ia masih sangat lelah. "Iya, ma." Bukan hanya satu macam menu saja yang harus di masak, tapi ada beberapa menu yang harus dimasak hari ini juga.
Kenapa masak sebanyak ini. Apa tidak mubazir? Naura yang mulai berdialog dengan pikirannya lagi.
"Menu sebanyak ini, memangnya siapa yang mau makan…"
"Iih kalau aku sampai tinggal di rumah ini, apakah aku akan memasak sebanyak ini setiap hari!"
Tampa sadar Naura memotong sayur dengan suara ketukan mengiris yang terdengar keras.
"Naura, sayang!"
Maysaroh yang sedang mengobrol dengan ibu ibu tetangga sebelah rumahnya langsung memanggil Naura saat mendengar suara dari dapur.
"Iya, ma!"
"Apa kamu baik baik saja?"
"Iya, Ma. Ini aku lagi motong daging yang agak keras, ma…" Sahut Naura berbohong.
Maysaroh tersenyum pada ibu ibu yang mendengar teriakan menantu idamannya yang sangat pandai memasak itu.
"Wah, buk Maysaroh beruntung sekali punya menantu seperti Naura. Udah cantik, sopan santun, pintar masak lagi."
"Ah ibu ibu bisa saja. Tapi, memang benar sih aku sangat beruntung memiliki menantu seperti Naura."
Itu lah yang membuat Maysaroh terobsesi ingin menjadikan Naura menantunya. Hanya untuk sekedar dibangga banggakan pada tetangganya. Dia tidak tahu, betapa kerepotannya Naura memasak menu makanan sebanyak itu sendirian.
Untungnya, kini Naura sudah berada dirumahnya. Dia sudah terbebas dari belenggu mama mertuanya yang memperlakukannya bukan seperti menantu, tetapi lebih seperti pembantu.
"Aku sangat lelah…"
Naura yang mulai memejamkan mata yang terasa berat. Namun, sebelum matanya benar benar terpejam, panggilan masuk di ponselnya. Segera Naura meraih ponsel jadulnya dan ternyata panggilan itu dari suaminya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikumsalam." Jawab Tama yang saat ini sedang melangkah keluar dari hotel tempat dia menginap.
"Lagi ngapain, dek?"
Pertanyaan itu membuat hati Naura berbunga bunga. Dia tahu suaminya tidak mencintainya. Tapi tetap saja sebagai istri sah secara agama dan negara, Naura merasa bahagia saat ditanyakan pertanyaan itu.
"Baru selesai sholat. Mas sudah sholat?"
"Sudah. Mmm, adek sudah makan belum?"
Wajah Naura bersemu merah mendengar Tama memanggilnya dengan sebutan adek.
"Sudah. Tadi makan bersama di rumah mama."
Naura tersenyum senyum sendiri menjawab pertanyaan suaminya.
"Mas sudah makan belum?"
"Belum, tapi ini sedang di jalan mau mencari tempat makan."
Tama melambaikan tangan kearah taksi. Dia pun masuk kedalam taksi dan meminta sopir taksi mengantarnya ke restoran.
"Mmm, sebenarnya mas tinggal dimana selama pelatihan?"
"Sendiri sendiri gitu kamarnya?"
Tanya Naura yang jadi lebih banyak tanya.
"Satu kamar berempat."
Naura mengangguk paham. Senyum bahagia tidak pudar dari wajahnya. Rasanya dia mulai menyukai suaminya.
"Dek, sudah dulu ya. Nanti mas telpon lagi."
Tama langsung mengakhiri pembicaraan itu sebelum mendapat persetujuan Naura. Hal itu membuat raut wajah bahagia Naura berubah menjadi sendu. Tapi, kemudian dia kembali tersenyum, karena berharap akan di telpon lagi oleh suaminya.
Sementara itu, Tama baru saja tiba di depan restoran berbintang tempat dia biasa makan saat masih kuliah dulu. Dia pun masuk ke restoran dan disambut oleh teman temannya yang sudah menunggu sejak tadi.
"Bro… wuih pengantin baru."
"Weh gi la, lama banget gue nggak ngumpul lagi sama kalian, bro." Ujar Tama merasa senang.
"Loe sih sibuk kerja."
Kemudian mereka memesan makan dan minuman. Lalu kembali mengobrol sambil menyantap makan malam mereka. Dan sesekali mereka juga menggoda Tama yang baru menjadi pengantin baru.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya malam pertama, bro?"
Teman teman yang lain ikut mendongak kearah Tama menunggu jawaban darinya. Sebentar Tama mereguk minumnya, lalu dia mulai mengatur napas dan tersenyum.
"Luar biasa sem pit, bro." Jawab Tama berbisik.
"Uuu..."
Mereka semua mengangguk sambil tersenyum senyum kembali menggoda Tama. Mereka terus mengobrol dan bercanda. Gelak tawa mereka terkadang membuat pengunjung lain merasa terganggu. Tapi tidak ada yang berani menegur mereka, karena salah satu teman Tama adalah anak dari pemilik restoran ini.
Tidak terasa ternyata kini sudah hampir tengah malam, dan Naura masih menunggu Tama menelpon.
"Katanya mau nelpon, kenapa masih belum juga menelpon?"
"Aakh, ini yang membuat aku kesal. Saat mulai menyukai seseorang, sudah pasti akan membuat hatiku tidak tenang dan istirahatku terusik." Ungkap Naura.
Dia mondar mandir di kamarnya sambil memegangi ponsel jadulnya yang masih telepon seluler, sementara orang orang sudah menggunakan adroid.
"Apa aku sms saja kali, ya."
Naura pun akhinya nekad mengirim sms pada suaminya. Sms yang dikirm Naura masuk ke ponsel Tama itu membuat Tama diledekin teman temannya.
Tama tidak membuka pesan itu. Dia malah menonaktifkan ponselnya. Dia tidak suka diganggu saat masih bersama teman temannya. Sedangkan Naura, menunggu balasan sms dari suaminya yang tidak juga kunjung datang ke ponselnya.
"Apa susahnya sih, tinggal ketik balasan tidak jadi menelpon. Gitu aja sudah cukup." Rutuk Naura semakin bertambah kesal.
"Hhiikkss, aku lelah, ngantuk. Aku ingin istirahat…"
Dia mencoba memejamkan matanya. Tapi entah mengapa hatinya menolak untuk diajak beristirahat. Dia malah menjadi overthingking, membayangkan hal hal negatif yang mungkin dilakukan suaminya.
"Oh pikiran, hati… aku mohon kerja samanya ya. Aku sangat lelah. Aku butuh istirahat!"
Tok, tok, tok...
Tiba tiba pintu kamar Naura di ketuk oleh bundanya.
"Naura!" Serunya dari luar kamar.
"Apa kamu sudah tidur?"
Naura sengaja tidak menjawab, berharap bundanya menganggap dia sudah tertidur. Suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, dia tidak ingin bundanya tahu itu.
"Sepertinya Naura sangat lelah." Gumam Yani.
"Ya sudah tidurlah. Selamat malam sayang."
Yani pergi menuju kamarnya. Dia juga akan segera tidur lelap malam ini, setelah seharian berberes rumah membersihkan sisa sisa pesta kemarin.
__ADS_1