
Tadi siang Irul membawa Naura ke mall. Mereka berbelanja untuk peralatan dapur langsung dengan semua bahan bahan makanan juga. Naura yang tidak biasa berbelanja dengan menghabiskan banyak uang, merasa tidak enak hati pada suaminya. Tapi, Irul justru mengatakan bahwa apapun yang Naura inginkan akan dia ikuti. Irul meyakinkan Naura bahwa apa yang mereka beli hari ini tidak seberapa.
Kini mereka sudah tiba di rumah. Irul membantu Naura menyusun semua peralatan di dapur dan juga memasukkan bahan makanan kedalam kulkas. Sesekali Irul mengusili Naura, seperti mecium Naura saat sedang menyusun piring, atau malah memeluk Naura yang sedang menyusun telur ke dalam kulkas hingga telur telur itu pun jatuh pecah di lantai.
Naura marah dan mulai mengomel, bukannya merasa bersalah Irul malah mencontoh cara Naura mengomel sambil membersihkan sisa sisa pecahan telur di lantai.
"Sudah ah, mas kesana saja. Mas bukannya menolang malah mengacaukan dapur." Rutuknya.
"Mas bantu kok. Ini mas kan membersihkan lantai." ujar Irul sambil tersenyum pada Naura.
Senyuman itu membuat Naura tidak bisa melanjutkan marahnya. Dia pun akhirnya tersenyum pada suaminya itu.
"Maaf ya mas, aku malah mengomel hanya karena telur telur itu pecah. Habisnya, aku sangat menghargai makanan. Aku bukan dari keluarga yang berada, jadi ayah sama bunda mengajariku untuk tidak membuang buang makanan." Tutur Naura.
Mendegar penuturan itu, Irul pun berdiri menghampiri Naura. Di ciumnya kening istrinya itu. Lalu tangannya yang kotor itu sengaja menyentuh kedua belah pipi Naura hingga membuat mata Naura melotot.
"Mas… tangan mas kotor!" Rengek Naura dengan ekspresi menahan rasa kesalnya.
"Oh ya ampun." Irul malah menghapus pipi Naura menggunakan ujung jilbabnya.
"Masss…" Jerit Naura kesal.
Irul tersenyum gemas melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti itu, hingga akhirnya mereka pun main kejar kejaran di dapur hingga dapur yang tadinya hampir rapi malah kembali berantakan.
Tapi pada akhirnya Irul juga membantu Naura membereskan dapur. Lalu mereka mandi bersama dan Irul menonton video tata cara sholat selama Naura menyiapkan makan malam untuk mereka. Irul juga mengabarkan pada ayah dan bunda bahwa mereka tidak pulang malam ini. Tentu Yani dan Rudi mengizinkan. Toh Naura memang sudah menjadi milik Irul seutuhnya.
Usai memasak, Naura dan Irul pun langsung makan. Setelah itu mereka menonton tv sebentar sambil mengobrol.
"Mas penasaran dengan mantan suamimu dulu. Boleh mas mendengar tentang dia?" Tanya Irul dengan sangat hati hati.
Naura berbaring di sofa dengan menjadikan paha Irul sebagai bantalnya. Tangan Irul membelai mesra rambut panjang Istrinya yang masih agak basah.
"Mas ingin tahu tentang apa?"
__ADS_1
"Mmm, apa dia lebih hebat dariku?"
"Tidak. Dia tidak ada bagus bagusnya sama sekali." Sahut Naura terdengar judes.
"Tapi dia bisa sholat dan pandai membaca Qur'an, kan?"
"Memang. Tapi untuk apa semua itu, kalau dia tidak bisa menghargai wanita. Dia kasar dan tidak bertanggung jawab. Aku sangat membencinya."
Irul menarik tangan Naura hingga Naura pun terduduk dan Irul mendudukkan Naura di pangkuannya. Irul meletakkan kepalanya di leher Naura sementara tangannya melingkar di pinggang Naura.
"Maafkan mas, sayang. Mas tidak bermaksud mengungkit masa lalumu. Mas janji tidak akan membahas tentang dia lagi."
Mereka pun diam sejenak karena bibir mereka telah menyatu kembali.
"Katakan jika kamu rasa mas mungkin berlaku kasar padamu. Jangan sungkan untuk mengatakan apapun yang mungkin membuat kamu tidak nyaman. Mas lebih suka kita saling bicara dan terbuka. Apapun masalahnya dan semarah apapun kita, berjanjilah untuk saling bicara." Ucap Irul.
Naura mengangguk, lalu dia kembali melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Tetaplah seperti ini, mas. Jangan berubah. Sungguh aku bahagia hidup bersamamu." Ujar Naura yang direspon oleh Irul dengan memberikan Naura sentuhan sentuhan penuh kasih dan ketulusan.
Waktu terus berlalu. Kehidupan rumah tangga Naura masih harmonis dan manis seperti saat baru menikah dulu, padahal usia pernikahan mereka telah memasuki tahun ke tujuh. Ya, meski memang mereka belum memiliki anak, tapi justru cinta dan kasih mereka semakin erat. Irul tidak menjadikan kehadiran anak sebagai patokan kebahagiaan dalam berumah tangga. Baginya, bahagia itu saat dia bisa membuat Naura selau bahagia.
Sejauh ini tidak ada yang bermasalah, baik itu rahim Naura ataupun kesehatan Irul. Semuanya normal. Memang hanya karena belum rezeki mereka saja. Nyinyiran orang, tentu ada. Tapi Irul yang sangat dewasa membantu Naura untuk tidak terpengaruh dengan nyinyiran orang orang.
"Jangan terlalu didengarkan omongan mereka, sayang. Aku sangat sangat mencintaimu dan selamanya akan tetap seperti itu."
Irul tidak akan pernah goyah ataupun berubah pada Naura meski mereka memang ditakdirkan untuk tidak memiliki anak sekalipun.
Masih terlintas jelas dalam ingatan Irul, dimana saat tahun pertama pernikahan mereka dulu, Naura dengan sabarnya mengajarkan Irul sholat dan membaca Qur'an. Naura pun bukan tipikal istri yang suka marah marah atu memaksa agar suaminya rajin sholat. Tidak. Naura hanya melakukan tugasnya sebagai istri dengan sebaik mungkin.
Pernah suatu hari waktu itu, Irul sudah hafal gerakan dan bacaan sholat. Minggu pertama Irul sangat rajin sholat dan setelah sholat belajar mengaji pada Naura. Tapi kegiatan itu hanya berlansung seminggu saja. Setelahnya Irul tidak sholat lagi dengan alasan capek karena pulang kerja.
Pekerjaannya sebagai seorang pimpinan dari perusahaan kecilnya yang bergerak di bidang jasa memang membuatnya lumayan lelah. Karena otaknya harus terus bekerja gesit agar perusahaannya tidak bangkrut. Jadilah Irul mengabaikan sholat dan tidak lagi sempat belajar mengaji.
__ADS_1
Apakah Naura kecewa dan marah. Tentu tidak. Naura hanya selalu tersenyum pada suaminya dan selalu mendoakan agar suaminya mendapat hidayah. Setiap usai sholat, Naura selalu mencium tangan suaminya dan minta di kecup keningnya oleh suaminya. Hal itu yang dilakukan Naura setiap hari, tanpa pernah mengomel, ataupun merendahkan harga diri suaminya.
Karena perilaku Naura yang seperti itulah yang membuat Irul terenyuh, tersentuh hatinya. Dia pun diam diam belajar membaca qur'an dan juga sholat disela sela kesibukannya di kantor. Dia berusaha keras untuk bisa menjadi suami dan imam yang pantas bersanding dengan Naura baik di dunia maupun nanti di akhirat.
Sungguh kelembutan dan kesabaran Naura meluluhkan hati Irul. Membuatnya tidak lagi bisa menatap wanita manapun meski secantik dan semenggoda apapun. Baginya Naura lah satu satunya pujaan hatinya.
"Mas, maafkan aku ya. Aku masih belum hamil juga." Ujar Naura.
Saat ini mereka tengah duduk bersantai di tepi kolam renang dengan kaki menjuntai kedalam kolam. Naura juga menyenderkan kepalanya di bahu Irul, sementara tangan Irul merangkul bahu Naura.
"Tidak perlu minta maaf, sayang. Senuanya sudah tertulis di lauhul mahfudz. Bukankah kamu yang meyakinkan mas bahwa takdir yang ditetap Allah pada kita adalah yang terbaik menurutnya. Lagi pula anak bukan menjadi syarat sah masuk surga kok." Jawab Irul.
"Mas benar. Anak bukan satu satunya tiket untuk bisa pergi ke syurga." ulang Naura.
Rasa syukur tidak pernah hilang dari kedua pasangan itu. Mereka menikmati setiap momen kebersamaan mereka meski tanpa kehadiran buah hati sekalipun.
Sungguh bersyukur adalah kunci hidup bahagia. Syukuri segala apa yang Allah takdirkan dan gariskan untuk kehidupan sementara kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan dan perjuankan untuk bisa mencapai bahagia dunia akhirat. Maka, teruslah perbaiki diri dan teruslah berlajar menjadi lebih baik lagi setiap harinya.
...(TAMAT)...
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah memberikan dukungan untuk novel ini.
Sampai jumpa lagi di novel novel Author yang lainnya.
~List judul Novel Author yang sedang berlansung.
1. Dinikahi sang Aktor
2. Muslimah dan tuan Mafia
~List novel tamat terbaru.
1. Nikahi aku, tuan mafia
__ADS_1
2. Air mata terakhir istri pertama