Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 15 Berpisah


__ADS_3

Pertemuan Arjune dengan Tama dan keluarganya secara kebutulan di hari bahagia itu, membuat Arjune menawarkan diri untuk mentraktir mereka makan malam.


Awalnya Tama menolak, tapi kemudian dia menyetujui tawaran itu. Dia merasa ini kesempatan untuk mendekati Arjune, mana tahu bisa ditawarkan untuk bekerja di perusahaan cabang yang sedang dibangun di Bandung.


Dan disinilah Arjune dan keluarga besar Tama berada. Di restoran yang ada di mall. Tama duduk bersebelahan dengan Arjune. Sementara Naura tepat berhadapan dengan Arjune dan disampingnya adik iparnya Tania. Sedangkan ayah, bunda, mama dan kakak iparnya juga duduk saling berhadapan dan bersebelahan.


"Wah terimakasih banyak loh pak Arjune, kita ditraktir makan sebanyak dan seenak ini."


"Tidak usah sungkan dokter Tama. Lagi pula, dokter Tama sudah bekerja cukup lama dengan perusahaan kami."


"Nak Arjune sudah menikah?"


Tiba tiba Maysaroh menanyakan pertanyaan yang terdengar tidak sopan ditelinga Arjune. Tapi, dia mencoba untuk bersikap biasa saja dan tetap nyaman.


"Mama!" Seru Tama mendelik kearah mamanya.


"Belum, bu. Tapi saya sudah bertunangan."


"O walah, sudah punya tunangan."


"Iya, bu."


Naura dan kedua orangtuanya hanya diam dan menyantap makanan di hadapan mereka tanpa memperdulikan obrolan Tama dengan Arjune yang sesekali di sela oleh Maysaroh.


Setelah acara makan malam itu selesai, Arjune langsung berpamitan. Kemudian, kekuarga Tama dan Naura pun juga langsung pulang. Mereka tiba di kontrakan dan langsung istirahat, karena besok pagi pagi sudah harus kembali ke kampung. Mereka sudah membeli beberapa barang, makanan dan juga pakaian untuk dibawa pulang dan sebagai oleh oleh juga untuk keluarga yang tidak bisa ikut.


Naura juga sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia benar benar lelah setelah seharian berkeliling dan berinteraksi dengan banyak orang.


Bagi seorang yang introvert seperti Naura, berada di tengah banyak orang dan berinteraksi dengan banyak orang seharian, adalah kegiatan yang sangat melelahkan dan membuat energinya terkuras.


"Dek, kita tidur di kamar ini saja ya. Nggak nyaman rasanya tidur di sana bersama mereka."


"Iya mas. Aku juga terlalu lelah. Aku butuh ruang yang sepi."


Ucapan Naura barusan disalah artikan oleh Tama. Dia mengira Naura butuh ruangan yang sepi itu artinya menginginkan sentuhannya. Padahal Naura benar benar ingin sendirian beristirahat untuk mengisi kembali energinya.


Tama tersenyum menyeringai. Dia langsung mematikan lampu kamar dan mendekati Naura yang sudah berbaring di ranjangnya.


"Ada apa mas?"

__ADS_1


"Bukankah kamu butuh ruangan yanga sepi dan gelap. Aku akan mengabulkannya sayang."


Sungguh Naura terkejut dan tidak habis pikir, ternyata suaminya mengartikan hal lain dari ucapannya beberapa detik yang lalu.


Naura menahan kuat emosinya yang meluap dan juga menahan perasaan terpaksa untuk melayani suaminya itu yang menggi la dan tanpa peduli dengan kondisi Naura yang sudah sangat kelelahan.


.


.


.


Pagi datang. Naura baru terbangun. Dia bahkan melewatkan subuh sangking lelahnya dan tubuhnya yang terasa remuk. Begitu juga dengan Tama yang terlihat masih sangat lelap di ranjang lain.


Apa yang harus aku lakukan, ya Allah.


Naura melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap membantu bundanya dan mama yang saat ini sudah sibuk berkemas dan memasukkan beberapa barang bawaan mereka kedalam mobil.


Selesai mandi dan bersiap, Naura lansung menyusul ke tempat bunda dan mama mertuanya.


"Ma, sudah mau pulang?" Tanya Naura saat melihat Maysaroh memasukkan barang barangnya kedalam mobil.


"Tapi kan kalian belum sarapan."


"Nanti sarapannya di jalan saja." Sela Rudi yang membawa beberapa tas keluar dari rumah.


Naura mengangguk paham. Dia pun akhinya ikut membantu ayahnya memasukkan tas dan barang lainnya kedalam mobil.


"Suamimu belum bangun?" Tanya Maysaroh.


"Sudah, ma. Mas Tama lagi mandi sekarang."


"Itu tuh yang harus kamu tahu, Naura. Mas mu itu suka bangun kesiangan dan tidurnya selalu larut malam." Celoteh Maysaroh menjelaskan.


"Itu kan dulu, mbak. Sekarang kan nak Tama sudah beristri, sudah pasti dia akan berubah."


"Susah, Yani." Sebentar Maysaroh memperbaiki jilbabnya. "Tapi, semoga saja Tama bisa merubah kebiasaan buruknya itu demi kamu, sayang."


Naura membalas dengan tersenyum. Semoga saja mas Tama bisa berubah dan bisa menerima aku sebagai istrinya.

__ADS_1


Setelah mereka semua siap, barang bawaanpun sudah masuk ke dalam mobil, barulah Tama datang. "Ma, sudah mau pulang?"


"Iya. Kamu sih kelamaan bangunnya siang terus." Rutuknya agak kesal pada putranya itu.


"Maaf, ma. Habisnya capek sih."


Rudi menghampiri Tama. "Nak, kamu pulangnya sama Naura, kan?"


"Iya ayah. Kita pulang hari ini juga, cuma agak siang karena aku masih ada urusan."


"Ya sudah, kalau begitu kami pulang duluan."


"Mmm. Hati hati."


Yani mencium kedua pipi Naura, lalu dia segera masuk ke mobil diikuti oleh yang lain.


"Jaga Naura, Tama." Teriak Mayasaroh dari dalam mobil yang mulai melaju.


"Iya, ma. Naura aman kok selama ada aku."


Kalimat yang keluar dari mulut Tama barusan, sungguh membuat Naura ilfeel.


Aman apanya. Yang ada aku akan selalu tersiksa. Baik batin maupun fisikku.


Setelah mobil itu menjauh, Tama langsung kembali ke kamar. dia melanjutkan tidurnya yang tertunda. Dan sebenarnya Alasan Tama mengajak Naura pulang agak siangan, bukan karena masih ada urusan. Tapi, karena dia masih ingin tidur nyaman di atas rajang bukan tidur di mobil.


Naura pun mengemas semua pakaiannya. Dia memasukkan semua barang miliknya kedalam koper besar dan juga tas besar yang dibawanya kemarin. Selesai memasukkan semua barangnya kedalam koper dan tas, Naura langsung menemui pemilik kos dan kontrakan. Dia membayar sewa kos dan kontrakan sesuai yang disepakati pemilik kos itu. Dan uang yang dibayarkan Naura adalah pemberian ayahnya.


Kini Naura duduk melamun di kursi depan kamar kosnya. Dia baru saja mendapat telpon dari Zahra, yang mengabarkan mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju kampung halamannya.


Rasanya sedih sekali, kali ini mungkin dia benar benar berpisah dengan Zahra.


"Aku akan sangat merindukan kamu, Ra."


Matanya melihat sekeliling kamar kosnya itu yang menyisakan kenangan saat-saat masih berjuang bersama sahabatnya.


Tidak terasa, air mata menetes dari pelupuk matanya. "Kenapa terasa sangat sedih, Ra. Padahal jika mau kita masih bisa bertemu kok. Tapi, kenapa aku merasa seakan kita tidak akan pernah bertemu lagi."


Naura menangis, dia mengeluarkan segala rasa sedih dan sakit saat menyadari kemarin adalah hari terakhirnya bersama Zahra sahabat terbaiknya.

__ADS_1


__ADS_2