
Semalam, Tama pulang tengah malam. Dia masuk dengan mengendap-ngendap seperti maling. Kebetulan memang pintu belum dikunci oleh Naura, karena dia yakin suaminya akan pulang meski larut malam.
"Mas, baru pulang?" Naura menyambut kepulangan suaminya dengan tersenyum manis.
Tama yang membuka pintu kamar secara perlahan terkejut mendengar suara Naura. Dia melanjutkan menutup pintu kamar tanpa harus pelan pelan lagi.
"Kamu belum tidur?"
"Belum. Aku menunggu mas pulang."
Naura menghampiri Tama. Dia membantu Tama menggantung kembali tas sandangnya. Lalu, Naura juga membantu melepaskan kancing kemeja Tama.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Tama menepis tangan Naura. Dan Naura masih terus tersenyum.
"Mas mau mandi?"
"Iyalah. Gerah." Tama mengambil handuknya dan langsung menuju kamar mandi.
"Airnya masih panas nggak mas!" Seru Naura bertanya dari luar kamar mandi.
Tama menatap air yang tergenang didalam baskom besar yang masih mengeluarkan asap. Perlahan dia menyentuh air itu dan terdiam sesaat.
"Apa kamu memasak air sebanyak ini untuk aku mandi?"
"Iya, mas. Apa masih terlalu panas?"
"Tidak kok. Ini sudah pas di tubuhku!" Sahutnya dari dalam kamar mandi.
Tama mulai mandi dengan air yang disiapkan Naura. Beruntungnya dia tidak perlu merasa kedinginan mandi di tengah malam.
Kamu terlalu baik Naura. Tapi maaf, sekuat apapun kamu berusaha untuk mendapatkan hatiku, itu usaha yang percuma. Aku tidak akan memberikan sedikitpun hatiku untukmu.
Sementara itu, Naura sudah menyiapkan piyama untuk dipakai suaminya nanti setelah mandi. Kemudian, barulah dia berbaring di ranjangnya dan memejamkan mata untuk segera tidur.
Sekarang mas Tama sudah pulang. Aku harus segera tidur.
Saat Naura sudah memejamkan matanya, Tama keluar dari kamar mandi. Dia menghela napas saat melihat piyama tergeletak dipinggir ranjang. Meski berat hati, Tama memilih untuk memakai piyama yang sudah disiapkan oleh Naura.
"Oh sungguh aku lelah."
__ADS_1
Tama membaringkan tubuhnya diranjang yang sama dengan Naura. Hanya saja, malam ini dia meletakkan dua guling sekaligus diantara Naura dan dirinya. Guling-guling itu adalah batasan antara mereka.
Naura merasakan kehadiran dua guling itu disampingnya. Dia bahkan membuka matanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi. Saat matanya terbuka, dia melihat Tama berbaring di tepi ranjang sangat pinggir. Jika Naura menggeser guling guling itu, sudah dipastikan Tama akan jatuh kelantai.
Karena matanya yang sudah sangat mengantuk, akhirnya Naura memilih untuk mengabaikan hal itu. Dia kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Tama sendiri, bukannya tidur, dia malah memasang earphone di kedua telinganya. Lalu dia mulai memutar video drama Turki di hp-nya. Dia menonton drama itu bahkan sampai azan subuh berkumandang.
Saat adzan subuh berkumandang, cepat-cepat Tama berpura pura tidur. Dan Naura pun terbangun. Aku tahu kamu pura pura tidur, mas. Bisik Naura dalam hatinya.
Naura memilih untuk tidak meghiraukan suaminya. Dia langsung ke kamar mandi untuk berwudu. Kemdian, sholat subuh dan dilanjutkan dengan membaca Qur'an sebentar.
Setelah itu, Naura langsung ke dapur untuk membantu bunda yang sudah sibuk menyiapkan sarapan.
"Bunda masak apa?"
"Eh sayang sudah bangun!" Seru Yani melirik pada Naura yang melangkah kearahnya.
"Sudah, bunda." Naura langsung membantu Yani menyiapkan bahan masakan.
"Biar bunda saja yang masak. Kamu sana, bantu bunda jemur pakain."
"Loh bunda sudah nyuci pakaian?"
"Sudah dong, sayang."
Naura merasa tidak enak. Dia tahu ini rumah bundanya, orangtua kandungnya. Tapi, tetap saja dia sadar diri hanya menumpang dirumah kedua orangtuanya. Itu semua karena Naura sudah menikah, sudah punya suami yang sudah seharusnya makan minumnya ditanggung oleh suami.
Semenjak menjadi istri, belum sekalipun Tama memberikan uang belanja pada Naura. Tama juga tidak pernah bertanya apakah Naura butuh uang untuk membeli sesuatu pun juga tidak pernah.
"O iya, nanti bunda pulangnya agak sorean. Soalnya bunda dapat pelanggan baru."
"Iya bunda. Alhamdulillah. Mmm, boleh nggak kalau aku ikut membantu bunda?"
"Membantu bagaimana?"
"Ya, membantu bunda menyetrika."
Yani menoleh kearah Naura yang mulai melangkah membawa cucian yang akan di jemurnya.
"Kenapa? Apa kamu butuh uang?"
__ADS_1
Yani sangat mengenal putri sulungnya itu. Saat membutuhkan uang, Naura tidak akan meminta, tapi menawarkan diri untuk mengerjakan sesuatu yang bisa menghasilkan uang meski jumlahnya hanya sedikit.
"Tidak bunda. Bukan begitu. Aku hanya bosan diam di rumah saja seharian. Jadi sebelum mendapat pekerjaan, aku bisa bantu bunda untuk menghilangkan rasa bosan."
Naura membohongi bundanya agar tidak dicurigai dan tidak ditanyakan tentang hubungannya dengan suaminya.
"Apa salahnya hanya diam di rumah. Lagi pula, kamu kan punya suami yang bisa diandalkan."
Dari pandangan Yani dan Rudi, Tama sangat perhatian dan memberikan Naura cukup uang. Padahal, kenyataanya Naura sengaja jajan dan membeli lauk pauk untuk membuat kedua orangtuanya tidak mencurigai bahwa ternyata suaminya tidak pernah memberikan uang belanja atau uang jajan padanya sama sekali.
Naura membeli jajan dan ini itu menggunakan uang tabungannya yang dia kumpulkan selama dua tahun terakhir sebelum menikah dengan Tama. Dan kini, uang tabungannya sudah menipis. Naura ingin segera bekerja agar bisa menghasilkan uang.
"Mas Tama belum mendapat pekerjaan lagi, bunda. Jadi, kalau aku terus terusan bergantung padanya, takutnya malah memberatkan mas Tama."
"Kamu tidak usah khawatir. Dari kaca mata penglihatan bunda, Tama itu suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Jadi tidak mungkin dia merasa terbebani oleh istri tercintanya ini."
Naura tersenyum menanggapi ocehan bundannya yang tidak tahu menahu perihal rumah tangganya. Senyuman manis itulah yang membuat Yani tertipu oleh putri sulungnya itu.
Andai bunda tahu apa yang aku alami selama pernikahan ini, apakah bunda akan tetap memuji mas Tama dan memintaku untuk bertahan dengan kehidupan rumah tangga yang berbeda dengan kehidupan rumah tangga semestinya?
"Eh nak Tama!"
Yani memanggil Tama yang baru saja keluar dari kamar dengan tampilannya yang acak acakan dan tampak masih mengantuk.
"Bunda. Belum pergi kerja?" Tama kaget karena ternyata mertuanya masih berada dirumah.
Salah timing gue. Jatuh nih harga diri gue dimata mertua gara-gara bangun kesiangan.
"Bentar lagi bunda berangkat. Ini baru selesai memasak nasi goreng untuk sarapan menantu bunda."
Yani tersenyum senang sambil menghampiri Tama. "Yuk sini sarapan dulu."
"Nanti saja bunda. Aku belum gosok gigi nih."
"Loh belum gosok gigi ya menantu bunda." Yani tertawa sebentar.
"Iya bunda. Baru bangun soalnya."
"Ya sudah kalau begitu mandi dulu sana. Nanti sarapan bareng Naura saja ya. Bunda sudah mau berangkat kerja."
__ADS_1
"Iya bunda. Hati hati di jalan bunda."
Yani tersenyum senang dengan perhatian menantunya. Tama memang keponakannya sebelum menjadi menantunya. Tapi, kini setelah Tama menjadi menantunya, Yani justru merasa Tama adalah putra kandungnya.