
Hampir seharian Naura berdiam dimasjid yang ada dipasar raya. Dia menenangkan diri sambil membaca Qur'an kemudian ikut sholat zuhur berjamaah juga dan sekarang Naura baru saja selesai sholat asar berjamaah. Setelah sholat asar, saat kaki Naura melangkah keluar dari masjid itu, hp-nya bergetar. Panggilan masuk dari bang Udin.
"Assalamualaikum, bang Udin."
"Walaikumsalam, Naura. Kamu dimana sekarang?" Tanya Udin yang berbicara dari rumah Tama.
"Di perjalanan mau pulang ke rumah, bang. Ada apa?"
"Mmm, kamu bisa datang ke sini sekarang. Ada hal penting yang mau abang bahas sama kamu."
"Kemana bang?"
"Kerumah bude Maysaroh."
Mendengar itu membuat Naura diam sebentar. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin dibicarakan Udin padanya di rumah mama mertuanya.
"Naura! Apa kamu bisa datang?" Udin kembali bertanya karena tidak kunjung mendengar jawaban Naura.
"Apa disana ada mama juga?"
"Tidak. Bude sedang pergi arisan."
"Apa ada mas Tama?"
"Iya." Jawab Udin agak ragu. Dia khawatir Naura tidak mau datang karena ada Tama.
"Baiklah bang, aku kesana sekarang. Ada hal penting juga yang mau aku bicarakan sama mas Tama."
Naura langsung mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam.
Ini kesempatan bagus untuk bicara sama mas Tama. Aku harap mas Tama akan menjawab pertanyaanku dengan jujur.
Naura langsung naik angkot dan meminta diantarkan kealamat rumah mama mertuanya. Tidak berapa lama kemudian, Naura akhirnya tiba di rumah itu. Dia melangkah masuk dengan berusaha terlihat baik baik saja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Naura. Mari masuk."
__ADS_1
Udin menyambut Naura dengan ramah, sedangkan Tama hanya duduk diam di sofa ruang tamu seolah tidak melihat kedatangan Naura. Naura langsung duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Tama dan dibatasi oleh meja. Udin pun ikut duduk disamping Tama.
"Bang Udin mau membicarakan apa?" Naura langsung to the point tanpa basa-basi lagi.
"Mmm, jadi gini…"
Udin tampak mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman. Lalu sesekali dia menoleh pada Tama yang asik menatap layar hp-nya.
"Tama, Naura. Abang mau mencoba membantu meluruskan kesalah pahaman kalian. Jadi, abang harap Tama diam dulu sebelum abang izinkan untuk bicara."
"Mmm." Jawab Tama tanpa menoleh pada Udin.
Naura menggelengkan kepalanya merasa miris melihat adab suaminya terhadap sepupunya yang jauh lebih tua darinya.
"Oke, jadi gini Naura..."
Udin mulai menceritakan rangkaian kejadian yang terjadi hari ini. Yaitu tentang pertengkaran Tama dan Bundanya tadi pagi. Naura mer-em-as kuat ujung jilbabnya. Ada perasaan kesal, marah dan iba saat mendengar cerita Udin. Bahkan Naura sempat menatap sinis pada Tama yang masih fokus pada layar hp-nya seakan tidak terjadi apa-apa.
Astaghfirullahal'azim. Naura beristighfar berkali-kali dalam hatinya. Matanya bahkan tampak berkaca-kaca dan untuk menahan agar air mata itu tidak tumpah Naura mendongakkan kepalanya menatap langit langit ruang tamu.
"Sekarang abang mau Naura bicara. Biacara apa saja yang ingin Naura ungkapkan pada Tama."
"Masalah rumah tangga itu tidak seharusnya diadukan pada orangtua." Tama menyindir Naura dengan nada datar dan sangat dingin.
"Tama diam dulu."
Mulut Naura hampir saja menyumpahi Tama jika saja Udin terlambat memerintahkan agar Tama diam.
"Naura, bicaralah."
"Aku hanya ingin tahu, istri durhaka yang disebut mas Tama di akun facebooknya itu ditujukan untuk aku atau tidak."
"Iya. Karena memang kamu istri durhaka." Lagi-lagi Tama mengatakan itu dengan santai tanpa menatap kearah lawan bicaranya.
"Selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat mas Tama merasa nyaman. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh seorang istri. Bahkan, aku rela menahan rasa sakit dan kecewaku demi membuat mas Tama senang. Jadi, pada bagian mananya yang mas anggap aku durhaka?"
"Kamu berjanji mau pindah kerumah mama, kan? Lihat sampai sekarang kamu masih belum menepati janji itu!" Teriak Tama. Dia mulai menatap kearah Naura setelah meletakkan hp-nya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berjanji mas. Aku hanya mengatakan akan pindah ke rumah mama saat aku sudah merasa siap."
"Ya sama saja kan. Kamu hanya mementingkan kenyamanan sendiri. Kamu tidak pernah berpikir bagaimana tidak nyamannya aku tinggal di rumah orangtua kamu."
"Orangtua aku? Mas keterlaluan. Bunda sama ayah selalu berusaha membuat mas Tama nyaman. Masnya saja yang membuat diri mas tidak nyaman dirumah orangtuaku."
"Cukup Naura. Cukup Tama!" Teriak Udin sambil menepuk kuat permukaan meja. Tindakannya berhasil membuat Tama dan Naura berhenti sahut menyahut.
"Sekarang abang tanya, kenapa Naura belum siap pindah ke sini?"
"Ya karena aku harus bekerja bang. Aku harus bangun pagi dan harus mengerjakan banyak tugas..."
"Kamu bisa mengerjakannya di sini kan?" Udin memotong ucapan Naura.
"Abang dengar dulu ceritaku. Selama ini mas Tama selalu pulang larut malam bahkan kadang pulang pagi. Sebagai seorang istri, aku tidak bisa tidur nyenyak saat suamiku tidak ada di sampingku, bang. Aku seorang istri yang seperti itu."
"Ya abang paham itu."
"Aku pulang malam karena malas melihat tatapan sinis bunda sama ayah kamu." Ujar Tama membela diri.
"Hah, kamu juga pulang larut bahkan saat kita menginap dirumah ini mas. Jangan lupa itu. Saat itu kita menginap dirumah ini aku demam, aku sakit perut dan mas Tama malah pergi keluar dan pulang jam dua pagi. Aku masih ingat itu mas."
"Halah kamunya saja yang terlalu manja."
Tama benar-benar keterlaluan. Harusnya dia menolak perjodohan ini sejak awal, dari pada menyiksa Naura seperti ini. Batin Udin menatap kasihan pada Naura.
"Aku bisa merawat diriku sendiri di rumah bunda. Tapi, di sini di rumah Mama, aku tidak bisa merawat diriku dengan baik mas. Aku diperlakukan bahkan seperti anak angkat, eh tidak. Aku merasa saat dirumah ini dianggap sebagai pembantu. Aku harus melayani mas meski aku sedang sakit sekalipun."
"Itulah tugas istri. Ya kalau kamu keberatan berarti aku benar dong, kamu itu istri durhaka."
Ini kali pertama Naura bisa bicara sebanyak ini pada Tama. Jadi dia tidak ingin melewatkan satupun uneg-uneg yang selama ini dia simpan sendiri dalam hatinya karena Tama tidak pernah bisa diajak bicara. Tapi kalimat barusan yang keluar dari mulut Tama, kembali membuatnya bungkam.
"Tama, sepertinya kamu yang keterlaluan." Udin menatap kearah Tama yang mulai diam saat Naura hampir membuka semua perlakuan burukannya selama ini.
"Ya, tapi aku tidak bisa kembali ke rumah itu lagi, bang. Rasanya sangat sakit dan malu. Harga diriku seperti diinjak-injak kalau sampai aku kembali ke rumah itu lagi."
Naura tertunduk sendu. Hanya karena mama memarahimu dan marah itu juga karena ulahmu sendiri, kamu malah membenci mama, mas? Asal kamu tahu mas, andai aku adalah kamu sudah lama kita bercerai. Aku bertahan bukan karena aku mencintaimu, tapi karena aku berharap kamu akan menjadi suamiku satu-satunya hingga jannah. Bagiku menikah cukup sekali seumur hidup. Aku bertahan karena yakin kamu akan berubah. Ternyata…
__ADS_1
Air mata Naura akhirnya tumpah. Dia menegakkan pandangannya untuk menatap kearah Tama. Ya Allah semoga sabarku suatu saat nanti Engkau ganti dengan kebahagiaan.
"Jadi apa yang mas Tama ingin aku lakukan untuk mempertahankan rumah tangga kita, mas?"