
Malam itu Maysaroh menunggu Naura yang tidak juga kunjung pulang. Beruntungnya Tama yang pulang lebih dulu. Hingga dia melemparkan banyak pertanyaan pada Tama.
"Kamu dari mana? Kemana Naura, kenapa dia belum pulang juga sampai sekarang?" Tanya Maysaroh marah pada putranya itu.
"Ma, aku baru pulang. Aku capek loh ma, ini aku baru pulang kerja, bukannya di sambut dengan senyuman malah dilempari pertanyaan pertanyaan yang tidak penting." Rutuknya yang langsung masuk ke kamarnya.
"Tama!" Teriak Maysaroh sambil menggedor gedor pintu kamar.
"Aku tidak tahu dimana Naura, ma. Mungkin dia kembali ke rumah orangtuanya. Sudah aku bilang, kan sama mama, dia itu nggak betah tinggal disini." Sahut Tama berteriak dari kamarnya.
Setelah itu, dia tersenyum bahagia. Tubuhnya yang lelah dia rebahkan keatas permukaan kasur empuknya itu.
"Akhirnya kamu menyerah juga Naura."
Matanya terpejam, tapi kemudian langsung terbuka lagi saat mendengar ada panggilan masuk di handphonenya.
"Halo sayang."
__ADS_1
"Iya, aku baru pulang kerja. Capek banget. Tapi, saat mendengar suara kamu, capekku jadi hilang."
Tama bicara melalui vidio call bersama kekasihnya. Entah siapa wanita itu yang jelas terlihat dilayar dia wanita cantik berambut panjang dengan pakaian sexy nya.
"Aku kangen banget. Pokoknya bentar lagi aku akan segera melamar kamu. Si Naura sepertinya sudah menyerah menjadi istriku. Aku berhasil mengusirnya sayang."
Maysaroh mendengar pembicaraan Tama dengan pcarnya dari luar kamar Tama. Maysaroh merasa bersalah, karena memang dia yang terlalu memaksakan kehendaknya untuk menikahkan Tama dengan Naura.
Keesokan harinya Naura tidak masuk kerja. Dia memilih untuk menenangkan diri di rumah saja. Sementara kedua orangtuanya sudah pergi bekerja. Kesempatan ini dijadikan Maysaroh untuk menemui Naura dan membujuknya agar kembali menjadi menantunya.
"Mama minta maaf atas kesalahan Tama. Mama juga akan berusaha untuk menasehati Tama agar dia mau berubah." Ujar Maysaroh pada Naura.
"Kembalilah Naura. Mama mohon, nak. Kalian masih bisa memperbaiki lagi rumah tangga kalian."
Maysaroh terus memohon pada Naura.
"Maaf ma. Tapi kalau mama sama mas Tama tetap kekeh memintaku untuk kembali ke rumah mama, aku tidak bisa. Mas tama tidak akan berubah secepat itu, Ma. Seminggu aku bertahan mencoba mengalah demi mempertahankan rumah tangga ini. Seminggu aku bertahan dengan harapan mas akan memandangku, tapi nihil ma. Mas Tama tetap tidak peduli. Dia tidak menepati janjinya. Dia malah tidak pernah menganggap kehadiranku, ma."
__ADS_1
Naura bicara panjang lebar berharap mama mertuanya itu mengerti.
"Mama mohon, sekali lagi beri kesempatan pada Tama, ya?"
Maysaroh memohon sambil menggenggam kedua tangan Naura dengan erat.
"Aku akan memberi kesempatan, tapi dengan syarat, ma."
"Apa syaratnya, Naura."
"Kalau mas Tama masih ingin mempertahankan rumah tangga ini seperti yang mama katakan, suruh dia di sini. Aku akan bertahan dengan segala perlakuan cuek dan jahat mas Tama, asalkan aku masih tetap tinggal di sini, di rumah ini." Tegas Naura.
Maysaroh terdiam. Itu syarat yang tidak akan pernah disetujui Tama. Karena Tama memang tidak akan pernah mungkin bisa menginjakkan kaki lagi di rumah orangtua Naura.
Harapan Maysaroh untuk membuat Naura dan Tama pupus. Hingga akhirnya dia menyerah. Tapi ternyata dia tidak hanya sekedar menyerah. Dia malah menyebarkan gosip bahwa Naura tidak mau menerima Tama karena Tama berasal dari keluarga yang tidak berada.
Gosip itu menyebar begitu cepat. Bahkan Tama juga menambahkan, bahwa selama menjadi suami Naura, dia diperlakukan dengan buruk oleh Naura dan kedua orangtuanya. Naura juga tidak mau disentuh olehnya.
__ADS_1
Begitulah gosip gosip buruk itu menyebar. Hingga membuat Naura tersudutkan saat bertemu orang orang. Akhirnya Naura memutuskan berhenti kerja dan memilih pindah ke kota.