Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 41 Berpisah dengan Lutfi


__ADS_3

Sebulan telah berlalu dan Naura masih belum siuman juga. Keadaanya juga tidak semakin parah dan tidak kunjung membaik. Meski begitu Yani dan Rudi masih tetap sabar dan terus mendoakan kesembuhan Naura. Yani dan Rudi juga bergantian menjaga Naura dan terkadang Lutfi juga datang menjenguk Naura.


Seperti hari ini Lutfi datang dengan membawakan makan siang untuk Rudi dan Yani yang kebetulan memang sedang ada di rumah sakit.


"Nak Lutfi, terimakasih sudah membantu membayarkan biaya rumah sakit, untuk kedepannya biarkan kami yang menanggung semua biaya rumah sakit." Gumam Rudi.


"Iya, pak." sahut Lutfi tersenyum.


"Kami akan membayar uang nak Lutfi, tapi tidak sekaligus. Kami akan megansurnya." lanjut Rudi.


"Tidak usah pak. Yang sudah terlanjur biarkan saja. Doakan saja semoga kedua orangtua saya yang sudah meninggal ditempatkan disisi Allah, begitu juga dengan adik saya."


Sebentar Rudi dan Yani saling bersitatap. "Terimakasih banyak nak Lutfi. Kami akan doakan semoga kedua orangtua dan adik nak Lutfi ditempatkan ditempat terbaik di sisi Allah." ujar Rudi dan Yani hampir bersamaan.


Lutfi tersenyum senang pada mereka. Lalu dia tampak menatap kearah Naura yang masih dalam keadaan koma. Menatap Naura membuatnya teringat pada adiknya. Sekilas wajah Naura mirip dengan wajah adiknya.

__ADS_1


"Semoga mbak Naura lekas membaik dan perlahan bisa sehat kembali seperti sedia kala."


"Aamiin." Sahut Rudi dan Yani.


"Ee, sebenarnya kedatangan saya hari ini untuk mengabarkan sesuatu sama bapak sama ibu."


Yani dan Rudi menatap serius kearah Lutfi yang terlihat sendu dan tampak sedih.


"Saya senang bisa mengenal bapak sama ibu. Saya juga merasa seperti punya kedua orangtua lagi."


"Terimakasih ibu, bapak. Tapi, sebenarnya saya mau pamit. Saya dipindah tugaskan ke kantor cabang yang ada di Surabaya. Jadi, saya akan menetap dan tinggal di sana. Kemungkinan juga tidak akan kembali lagi ke Bandung." Tutur Lutfi menatap bergantian wajah sedih Yani dan Rudi.


Selama sebulan terakhir, Lutfi sudah menemani mereka, membantu mereka dan juga menghibur mereka selama menunggu kesembuhan Naura. Yani bahkan memang sangat menyukai Lutfi sejak awal dan merasa punya putra dengan kehadiran Lutfi. Tapi, kini secara tiba tiba Lutfi berpamitan untuk pindah ke Surabaya. Sungguh kabar yang membuat hati terasa hampa dan sedih.


"Kapan nak Lutfi akan berangkat ke Surabaya?" Tanya Rudi.

__ADS_1


"Insyaa Allah besok sore pak."


"Ya, meski nak Lutfi sudah jauh, bapak dan ibu masih selalu ada di Bandung. Kalau suatu saat kebetulan nak Lutfi ke Bandung, mampirlah ke rumah." Sambung Rudi.


"Insyaa Allah, pak, buk."


"Jaga kesehatan ya nak. Meski sibuk dengan pekerjaan, jangan lupa makan dan jaga kesehatan yang paling penting. Sehat itu sangat mahal harganya." Yani ikut menimpali.


"Insyaa Allah, ibu. Ibu sama bapak juga jaga kesehatan. Meski mbak Naura masih koma sekalipun, pasti yang selalu dia inginkan hanyalah kesehatan bapak dan ibu. Dia pasti ingin melihat bapak sama ibu selalu bahagia."


Rudi menepuk lembut bahu Lutfi. Ada raut kesedihan di matanya, dia merasa seakan ingin melepas putranya ke tempat yang jauh. Padahal, Lutfi hanya orang asing yang kebetulan berbaik hati menolong putrinya.


"Semoga suatu saat nanti Allah izinkan kita bertemu lagi." Ucap Rudi.


"Aamiin. Insyaa Allah kalau ada waktu libur, akan saya sempatkan ke Bandung untuk menjenguk bapak sama ibu."

__ADS_1


Begitulah perpisahan mereka siang itu. Yani dan Rudi mengantar Lutfi ke depan hingga ke mobilnya dan mereka juga menatap mobil Lutfi sampai mobil itu tak lagi tampak oleh mata barulah mereka kembali masuk ke kamar Naura.


__ADS_2