Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 48 Pelanggan aneh


__ADS_3

Merasa uluran tangannya tidak disambut oleh Naura, Irul pun langsung menarik kembali tangannya sambil tersenyum. Tidak ada raut kekecewaan disana, dia malah merasa malu pada Naura.


"Jadi, mas Irul mau pilih dress yang mana nih?" Tanya Naura mengalihkan atensi Irul yang terus terusan menatap padanya.


"Ee saya pilih dress yang ini. Tapi, bisa di bingkis untuk kado kan?"


"Bisa mas. Silahkan pilih juga mau motif apa untuk pembungkus kadonya?" Tanya Naura lagi menunjuk kearah deretan kertas kado yang memang sengaja disediakan di distronya.


"Mmm, adik saya usianya tujuh belas tahun. Bisa mbak Naura saja yang memilihkannya yang menurut mbak Naura cocok untuk adik saya."


"Bisa." Sahut Naura tegas namun tetap tersenyum ramah pada pelanggannya itu.


Saat Naura pergi membawa dress pilihan Irul untuk membungkusnya. Lili pun menghampiri Irul yang tampak bingung menatap kearah Naura.


"Mas Irul, bisa duduk dulu sambil menunggu mbak Naura membungkus kadonya!" Seru Lili menyarankan.


"Oh iya, terimakasih." Sahut Irul ramah. Lalu dia pun melangkah ke samping kiri sudut distro untuk duduk di sofa panjang yang tersedia disana.

__ADS_1


Sementara Lili langsung menyambut pelanggan yang baru datang.


Tidak lama kemudian Naura kembali menemui Irul dengan membawa paper bag berisi bingkisan kado.


"Ini mas Irul."


"Terimakasih banyak mbak Naura. Jadi berapa totalnya?"


"Mari ikut saya ke kasir."


"Totalnya 550,2 ribu rupiah." Ujar Naura.


Irul mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, dia pun mengeluarkan enam lembar uang seratusan, lalu memberikannya pada Naura.


"Totalnya 600 ribu." Lalu Naura pun memasukkan uang itu kedalam laci meja kasir. Kemudian dia mengambil uang kembalian. "Kembaliannya 48 ribu rupiah. Terimakasih mas Irul, sampai bertemu kembali."


Irul mengambil uang kembalian itu, lalu dia pun tersenyum sekali lagi pada Naura. Barulah setelah itu dia benar benar meninggalkan distro.

__ADS_1


Sungguh pelanggan yang aneh. Itulah yang terlintas dipikiran Naura saat pertama melihat Irul. Ya, dia satu satunya pelanggan yang memperkenalkan diri pada Naura. Biasanya pelanggan hanya membeli lalu membayar dan pulang saat pertama kali berbelanja di distronya. Nah kalau sudah berbelanja berkali kali, barulah Naura atau pegawainya menanyakan nama pelanggan itu untuk setidaknya mengenali siapa pelanggan setia di distronya.


Hari hari berikutnya, Irul selalu datang. Dia datang di jam dan waktu yang sama seperti sebelumnya. Kadang dia bisa bertemu Naura kadang juga tidak. Tapi Irul tetap berbelanja. Belanjaannya beragam, bukan untuk dirinya tapi beralasan membeli untuk ponakannya, mamanya dan adiknyalah. Ya begitulah alasan saat dia berbelanja.


"Tumben mas Irul tidak datang hari ini." Gumam Lili.


"Kenapa? Kamu rindu ya sama mamas Irul itu?" Goda Naura pada pegawainya itu.


"Iih bukan gitu mbak Naura. Hanya saja aku merasa kehilangan karena biasanya mas Irul sudah datang jam segini setiap harinya selama hampir seminggu terakhir." Tutur Lili.


"O ya? Dia datang setiap hari ke distro untuk belanja?" Tanya Naura tidak yakin.


"Iya, mbak. Hari ini hari ke enam kalau mas Irul datang lagi." oceh Lili.


Naura menatap kearah parkir tempat pertama kali dia bertemu dengan pria aneh itu. Tapi, tidak ada tanda tanda pria itu akan datang.


Mungkin dia sibuk. Ya semoga saja dia sibuk, bukan karena hal buruk terjadi padanya. Aku lihat sih dia pria yang baik dan hanya saja terlihat agak polos sih.

__ADS_1


__ADS_2