
Kini Irul dan Naura berada di kamar Naura. Mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Namun mereka masih sangat canggung. Tentu saja karena mereka memang tidak saling kenal sebelumnya. Ya, mereka hanya sekedar mengenal nama saja.
"Naura, bolehkah aku melihat wajahmu?" Tanya Irul pada akhirnya.
"Boleh." Jawab Naura. Dia pun mengalihkan cara duduknya untuk menghadap langsung pada Irul yang duduk di sampingnya.
Irul menatap penuh kekaguman wajah Naura. "Boleh aku menyentuh pipimu?"
Naura mengangguk.
Perlahan kedua tangan Irul pun akhirnya menyentuh pipi Naura yang sedikit cuby.
"Kamu menggemaskan, sayang." Ucap Irul ragu saat menyebut Naura dengan panggilan sayang.
"Mas Irul pernah pacaran sebelumnya?" Tanya Naura sebelum mereka melangkah pada tahap yang lebih lanjut.
"Pernah. Maafkan aku Naura."
__ADS_1
"Kenapa meminta maaf?"
"Karena aku bukan laki laki yang menjaga pergaulan dengan perempuan. Sementara kamu tidak pernah pacaran." Ujarnya.
Naura tersenyum, lalu Naura merebahkan tubuhnya didada Irul. Hal itu membuat Irul bingung dan terkejut. Dia tidak menyangka Naura akan langsung masuk dalam pelukannya.
"Aku juga pernah pacaran kok, mas." Sahut Naura.
Deru napas Naura tepat mengenai ceruk leher Irul. Tentu itu membuat Irul berkeringat dingin.
"Apa itu mantan suamimu dulu?" Tanya Irul ragu takut salah tanya.
"Aku juga. Hanya berpacaran sebentar, dan dia sudah menikah dengan temanku."
Mereka pun mengobrol berbagi kisah masa lalu yang masih dalam konteks wajar untuk dibicarakan untuk sekalian mereka saling mengenal satu sama lain. Dan Naura benar benar merasa nyaman bersandar di bahu Irul. Bahkan perlahan Irul pun merangkul bahu Naura dan sesekali mengusak puncak kepala Naura.
Sungguh Naura baru pertama kali diperlakukan seperti ini. Irul memanjakannya, memberikan kasih sayangnya. Berbeda jauh dengan perlakuan mantan suaminya yang terdahulu.
__ADS_1
"Mas, maukah mas memelukku?" Tanya Naura.
Tanpa ditanyapun tentu Irul mau memeluknya. Dengan lembut Irul memeluk tubuh Naura dan mengelus punggungnya lembut. Sungguh Naura terharu mendapat perlakuan seperti ini. Dia tidak menyangka pria asing seperti Irul mampu meluluhkan hatinya dan memberikannya kasih sayang sepenuh hati.
"Terimakasih karena sudah mau menerimaku, sayang." Ucap Irul lembut.
"Aku yang harusnya berterimakasih, mas. Karena mas mau menikahi janda sepertiku, padahal mas masih bujang."
"Bujang tua sepertiku? Banyak yang mencibirku. Mereka bilang aku bujang tua yang tak akan pernah laku bahkan oleh janda sekalipun."
"Tapi, mas akhirnya benar benar menikahi janda." Sahut Naura sambil melepaskan diri dari pelukan Irul.
Keduanya saling bertatapan saling mengagumi wajah pasangan mereka. Lalu tiba tiba saja Naura menempelkan bibirnya di bibir suaminya. Mata Irul melotot mendapat perlakuan seperti itu dari Naura.
Sungguh Irul benar benar masih polos. Dia pernah berpacaran saat masih SMP dulu dan hanya berpacaran sebatas status saja. Dia belum pernah sekalipun mencium bibir wanita. Hanya pernah mencium punggung tangan dan juga pipi beberapa wanita yang mendekatinya untuk memoroti uangnya saja.
"Boleh aku mencium bibirmu lagi?" Tanya Irul ragu saat Naura sudah menarik bibirnya dari bibir suaminya itu.
__ADS_1
Naura tersenyum senang dan mempoutkan bibirnya, dia pun menutup matanya dan membiarkan Irul melakukan apa yang dia mau. Tentu saja hal pertama dilakukan Irul yaitu menempelkan bibirnya di bibir Naura. Dia pun mulai mencium Naura dengan ciuman yang acak. Naura tersenyum merasakan betapa buruknya suaminya itu dalam berciuman. Tapi, yang lebih membuat Naura senang, karena ternyata dia adalah wanita pertama yang dicium oleh suaminya.