Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 40 Nak Lutfi


__ADS_3

Saat tiba di rumah sakit itu, Yani dan Rudi langsung menanyakan keberadaan Naura. Namun pihak rumah sakit tidak tahu nama pasien yang baru masuk ke rumah sakit mereka bernama Naura.


Lutfi yang duduk menunggu pun memperhatikan Yani dan Rudi yang tampak bingung di depan suster. Segera saja dia menghampiri dan menyapa.


"Maaf ibu, saya Lutfi.."


"Kamu yang menyebabkan putri saya kecelakaan?" Tanya Rudi langsung saat mendengar nama yang memintanya datang ke rumah sakit.


"Tenang dulu, bapak. Saya bukan yang menyebabkan putri bapak kecelakaan. Tapi saya yang menemukan putri bapak tergeletak tak sadarkan diri dalam keadaan mengenaskan di jalan lintas yang masih sepi perumahan itu." Tuturnya menjelaskan.


Merasa salah menuduh Rudi pun meminta maaf pada Lutfi. Lalu Lutfi pun langsung mengajak Rudi dan Yani untuk menunggu Naura di luar ruangan operasi.


Hampir tiga jam mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi.


"Dokter bagaimana keadaan putri kami?" Tanya Rudi dan Yani langsung menghampiri dokter.


"Alhamdulillah putri bapak sama ibu bisa melewati masa kritis. Tapi, saat ini dia koma." Jawab Dokter itu.

__ADS_1


"Ya Allah, anak kita mas." Yani menangis dalam pelukan suaminya.


Sementara Lutfi hanya bisa diam ikut merasa sedih mendengar Naura dalam keadaan koma. Tapi, ada perasaan lega juga, karena wanita yang diselamatkannya itu masih bernyawa.


Naura di pindahkan ke ruangan rawat inap dan tentu saja ruangan klas satu yang memang satu ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Lutfi yang membayar tagihannya. Rudi dan Yani menolak pada awalnya, tapi Lutfi meyakinkan mereka bahwa dia melakukannya dengan tulus.


Lutfi juga bercerita, dulu dia punya seorang adik. Saat adiknya harus di rawat karena sakit parah waktu itu, tapi karena kedua orangtuanya tidak punya uang, akhirnya adiknya hanya bisa rawat jalan dan setelah satu tahun rawat jalan adiknya meninggal. Jadi, Lutfi yang sekarang sudah punya cukup uang, merasa senang jika diizinkan untuk membantu membiayai perawatan Naura.


"Terimakasih banyak nak Lutfi." Ucap Rudi dan Yani berkali kali padanya.


"Kalau saya boleh tahu, nak Lutfi tinggal dimana?" Tanya Yani.


Lutfi pun memberikan alamat rumahnya pada Yani. Lutfi juga mengatakan dia tinggal sendiri, kedua orangtuanya sudah meninggal setahun setelah adiknya meninggal dan Lutfi juga bercerita, sebenarnya hari ini adalah hari pernikahannya.


"Jadi, nak Lutfi terlambat kepernikahan karena menolong Naura?" Tanya Yani merasa bersalah.


"Tidak ibu, bukan seperti itu. Jadi, tadi saya kabur dari pernikahan.." Jelas Lutfi.

__ADS_1


"Loh kenapa?" Tanya Rudi dan Yani heran.


Sebentar Lutfi tersenyum. "Karena wanita yang tadinya mau saya nikahi itu ternyata sudah mengandung satu bulan anak dari pria lain." Jawab Lutfi menjelaskan dengan ekspesi wajah malu dan juga sendu.


Mendengar itu membuat Yani mengelus punggung tangan pria malang itu. "Yang sabar ya, nak. Sesungguhnya apa yang tidak ditakdirkan untukmu, akan mencari jalannya untuk pergi darimu. Dan apa yang ditakdirkan untukmu, akan menemukan jalannya menuju padamu." Lanjut Yani menasehati sekaligus melapangkan hati Lutfi.


"Terimakasih ibu. InsyaaAllah saya ridho dengan ketetapan ini." Jawab Lutfi dengan tenang.


Setelah perbibcangan singkat itu, Lutfi pun berpamitan untuk pulang. Dan begitu Lutfi pergi, Yani dan Rudi pun kembali masuk ke ruangan Naura.


"Nak Lutfi itu sabar, baik dan dewasa. Andai dia mau sama Naura, aku akan sangat bahagia, mas." Ujar Yani.


"Doakan saja. Siapa tahu nak Lutfi mau menerima Naura kita. Dan doa yang paling penting saat ini adalah doa untuk kesembuhan Naura, dek." Sahut Rudi.


"Iya ya mas." Sahutnya sambil mengelus lembut wajah Naura yang tampak pucat. "Berjuanglah nak. Kamu kuat, kamu pasti bisa melalui semua ini. Bunda sama ayah akan selalu menemani kamu sayang."


Rudi mengelus punggung Yani untuk memberikan kekuatan dan ke tegaran pada istrinya itu dalam menghadapi ujian ini.

__ADS_1


__ADS_2