
Kini Naura dilema setelah menyetujui keinginan Tama mengajaknya pindah kerumah mama. Memang Tama juga menerima syarat dari Naura jika mereka akhirnya tinggal di rumah mama.
Syarat pertama, Naura ingin agar Tama tidak pulang larut malam lagi dan Tama menyetujui itu. Syarat kedua, Tama harus mengantar jemput Naura untuk bekerja, karena Naura tidak punya motor sendiri dan Tama menyetujui. Syarat ketiga atau terakhir, Tama harus berusaha memperlakukan Naura layaknya seorang istri bukan patung atau hiasan belaka dan Tama pun juga menyetujui.
"Manusia tidak berubah semudah itu. Meski mas Tama telah berjanji, tapi aku rasa dia tidak akan menepati janjinya."
Naura memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan masih memakai mukenanya setelah sholat isa. Sementara itu kedua orangtuanya tengah berbincang tentang permasalahan yang sedang dihadapi Naura. Yani memutuskan menceritakan pada suaminya dan Naura pun juga sudah mengatakan pada ayah dan bundanya tentang keinginan Tama mengajaknya pindah kerumah mamanya.
"Apa Naura sudah bersiap?" Rudi bertanya karena tidak juga kunjung melihat Naura keluar dari kamarnya.
"Mungkin sedang bersiap."
"Tama yang menjemputnya?"
"Tidak mungkin yah. Tama sendiri mengatakan tidak akan menginjakkan kaki lagi dirumah ini. Jadi, tidak mungkin dia menjemput Naura."
"Dia akan membawa Naura tanpa berpamitan dulu padaku?" Rudi merasa kecewa dan ingin marah tapi cepat ditahannya.
"Maafkan aku, mas. Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku kira Tama akan langsung menceraikan Naura." Ujar Yani merasa menyesal karena kecerobohannya yang tidak mampu menahan emosi.
"Kamu ngomong apa sih dek. Jangan bicara yang tidak baik seperti itu, cukup doakan semoga Tama berubah dan lembut hatinya untuk menerima Naura dan memberikan Naura kasih sayang semestinya."
"Aku selalu mendoakan Naura, mas. Tapi aku tidak yakin si Tama itu bisa berubah dan menepati janjinya pada Naura."
Yani masih belum bisa melupakan kejadian tadi pagi. Dia ingat jelas bagaimana cara Tama menatapnya, menunjuk dengan tidak sopannya dan bahkan hampir memukulnya.
"Sudah sana panggil Naura. Ini sudah hampir jam sembilan malam, dia harus segera menyusul suaminya." Perintah Rudi pada istrinya yang tampak masih kesal itu.
Dengan malas Yani akhirnya menghampiri Naura ke kamarnya. Saat itu Naura sedang memasukkan baju-bajunya kedalam koper. Yani membantu tanpa berani bicara apa-apa. Dia merasa bersalah karena telah ikut campur dalam rumah tangga putrinya itu.
"Bunda, aku pamit pindah ke rumah mama ya. Aku akan sering mampir kok setiap pulang kerja. Mmh." Naura memeluk bundanya dan mereka menangis bersama.
Kemudian, setelah semuanya siap Naura langsung diantar oleh ayahnya ke rumah mama mertuanya. Ayahnya hanya mengantar sampai depan gerbang rumah mama mertuanya.
"Ayah tidak ikut masuk dulu."
__ADS_1
"Tidak usah. Ayah langsung pulang. Kamu harus menjadi istri yang baik dan berbakti pada suami. Surgamu sekarang bukan lagi pada ibumu, tapi ada pada suamimu."
"Iya ayah."
"Ingat, cobalah untuk bertahan semampu kamu. Jangan lupa terus berdoa pada Allah. Dan satu lagi, kalau bisa jangan sampai ada kata perceraian."
"Baik ayah, aku akan melakukan yang terbaik semampu yang aku bisa lakukan."
Rudi tersenyum getir saat menatap langkah Naura menarik kopernya masuk kerumah Maysaroh. Tidak ada satupun yang menyambut atau menunggu kedatangan putrinya.
Ya Allah lindungi putriku. Jagalah dia saat dia lepas dari pengawasanku.
.
.
.
Naura disambut baik oleh Maysaroh dan Tania. Bahkan Maysaroh meminta Tania mengantar Naura kekamar Tama. Sedangkan Tama tidak ada dirumah, dia pergi main bersama teman-temannya.
"Terimakasih Tania."
Tania tersenyum senang. Dia sangat baik dan tampak tulus pada Naura. Berbeda dengan Maysaroh yang terobsesi menjadikannya menantu tapi selalu membela putranya yang menelantarkan istrinya.
Setidaknya ada Tania yang bisa diajak bicara.
Naura hendak menyusun pakaiannya kedalam lemari pakaian Tama. Tapi, lemari itu penuh dengan pakaian Tama semua. Akhirnya Naura membiarkan pakaiannya didalam koper.
"Mataku perih, aku ngantuk dan sangat lelah hari ini. Aku ingin tidur nyenyak malam ini. Jadi aku mohon kerjasama yang baik ya malam ini, mataku."
Naura merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk itu, dia memejamkan matanya dan berharap akan segera tidur. Tapi ternyata mata itu tidak mau diajak tidur.
"Jam berapa sekarang?" Naura melirik jam dilayar hp-nya yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit dan Tama masih belum pulang.
"Ma, kenapa mas Tama belum pulang juga. Padahal dia sudah berjanji akan pulang lebih cepat kalau mbak Naura tinggal disini." Ujar Tania.
__ADS_1
Naura mendengar suara Tania yang sepertinya melangkah menuju ruang depan untuk menunggu kedatangan Tama.
"Mas mu itu semakin dilarang akan semakin dilakukannya. Mas mu memang seperti itu dari dulu, jadi sulit untuk merubah kebiasaannya."
Naura bersungut kesal mendengar ocehan mama mertuanya itu yang lagi-lagi membela putra kesayangannya itu.
Lima menit…
Sepuluh menit…
tiga puluh menit…
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi dan Tama masih belum pulang. Tania bahkan tertidur di sofa sangking lamanya menunggu Tama pulang. Sementara Mama sudah tidur nyenyak di kamarnya. Mama meninggalkan Tania sendiri diruang tamu karena Tania bersikeras akan menunggu sampai Tama pulang.
Naura melihat Tania tampak kedinginan tidur di sofa, dia pun membawa selimutnya dan menyelimuti tubuh Tania.
"Mmm whoam… mbak!"
"Karena sudah bangun, sebaiknya kamu pindah ke kamar gih. Biar mbak saja yang menunggu mas Tama."
"Mbak masih belum tidur? Ini sudah larut loh mbak, besok kan mbak harus berangkat kerja pagi-pagi." Tania tampak khawatir pada Naura.
"Kamu juga besok harus sekolah dan berangkat pagi. Jadi, kamu harus tidur ke kamar."
"Ya sudah kalau begitu mbak juga kembali ke kamar, aku juga kembali. Biarkan saja mas Tama, mau pulang atau enggak terserah dia." Tania menarik tangan Naura, dia mengantar Naura kembali ke kamar, barulah kemudian dia kembali ke kamarnya.
Saat Naura hampir terpejam, dia mendengar suara motor Tama. Naura tidak ingin melihat wajah Tama malam ini. Dia pun langsung memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Dia yang tidak pernah menepati janji, tapi malah mengatai aku yang tidak menepati janji. Dasar Tama tidak punya hati nurani. Satu-satunya yang dia punya hanya harga dirinya itu.
Tama memasuki kamar dengan perlahan. Dia mengganti pakaian dan ikut berbaring disebelah Naura. Kali ini dia tidak meletakkan guling diantara dirinya dan Naura, tapi dia meletakkan kabel panjang yang ada tempat colokan dan dia mencharger hp-nya.
"Kalau tidak mau kesetrum jangan cob-coba bergerak." Gumam Tama sambil menatap sinis pada wajah lelap Naura.
Suka-suka hatimu saja mas. Aku hanya akan tinggal dirumah ini selama seminggu. Jika dalam waktu seminggu kedepan kamu tidak berubah, maka aku akan kembali kerumah orangtuaku.
__ADS_1