
Lutfi akhirnya menikah. Yani, Rudi dan Naura hadir di pernikahan Lutfi sebagai pengganti keluarga Lutfi. Naura begitu tegar dan bahkan tak terlihat sama sekali raut kesedihan diwajahnya. Dia benar benar ikut bahagia dihari bahagia Lutfi.
Usai menghadiri acara pernikahan Lutfi, Naura pun ikut pulang kampung bersama kedua orangtuanya. Dia pun juga meninggalkan surat pengunduran diri dari perusahaan tanpa diketahui Lutfi sama sekali.
Naura memilih membuka toko pakaian di pasar besar di kampungnya. Tentu, Naura memanfaatkan uang tabungannya yang didapatnya dari bekerja selama ini.
Yani pun sudah tidak lagi bekerja sebagai tukang setrika keliling. Naura meminta ibunya membantunya menjaga toko saja. Sementara Rudi sudah tidak mengajar lagi, dia sudah pensiun dan juga ikut membantu Naura.
Naura tidak bermaksud meminta bantuan dari kedua orangtuanya. Tapi, jika tidak dengan seperti ini, ayah dan bunda-nya masih berencana untuk mencari pekerjaan lain. Ya dari pada mereka bekerja untuk orang lain, capek capek. Naura meminta mereka membantunya menjaga toko. Pekerjaan mereka tidak berat. Hanya menemani Naura di toko, kadang ayah dan bunda menyusun agar pakaian pakaian itu tampak menarik di mata pelanggan.
Pekerjaan seperti itu tidak setiap hari, paling seminggu sekali saja Naura memanggil mereka untuk ikut ke toko pakaiannya. Itung itung untuk membuat ayah dan bunda agar tidak merasa bosan karena hanya berdiam diri di rumah saja. Maklum saja mereka orang yang terbiasa bekerja, jadi jika dirumah saja mereka akan merasa cepat bosan.
Waktu pun terus berlalu, tidak terasa Naura sudah menjalankan toko pakaiannya hampir satu tahun. Kini tokonya sudah di sulap menjadi sebuah distro yang juga menyediakan pakaian dengan brand brand ternama asli buatan lokal. Naura juga sudah menghasilkan omset yang lumayan banyak.
__ADS_1
"Boleh bunda bicara?" Tanya Yani saat melihat Naura sedang senggang.
"Tentu boleh bunda. Memangnya bunda mau bicara apa?" Sahut Naura sambil memeriksa beberapa pakaian yang baru tiba di distronya.
"Bunda sama ayah sangat bersyukur, karena akhirnya kamu bisa punya distro. Penghasilan kamu juga sudah lumayan banyak. Bahkan sekarang kamu sudah punya lima belas karyawan. Kamu juga sudah mulai kerja sama dengan beberapa brand pakaian ternama. Bunda sangat bersyukur."
"Alhamdulillah, bunda. Ini berkat doa ayah dan bunda. Kalian yang tidak pernah berhenti mendoakan aku." Naura memeluk erat tubuh bundanya.
Naura tersenyum sambil perlahan melepas pelukannya. Dia tahu doa apa yang belum terkabul kata bundanya itu.
"Apa masih belum bisa terkabul juga akhir tahun ini, nak?"
"Aku sangat ingin membantu ayah dan bunda agar doa kalian terkabul. Tapi, aku harus menikah dengan siapa, bunda. Sampai saat ini tidak ada satupun pria yang tertarik untuk sekedar berkenalan saja denganku. Apa lagi untuk menikahi aku." tutur Naura.
__ADS_1
Memang apa yang dikatakan Naura benar adanya. Belum ada satupun pria yang mau sekedar berkenalan saja dengannya. Padahal dia sudah bertekad dihatinya akan menerima saja jika ada seorang pria yang datang untuk melamarnya. Naura sudah tidak mementingkan rasa cinta, yang penting pria itu tulus dan bisa memperlakukannya dan kedua orangtuanya dengan baik.
Yani pun hanya bisa terdiam mendengar penuturan Naura. Dia pun juga baru meyadari, hampir semua orang di kampung ini masih menilai Naura sebagai wanita buruk seperti apa yang pernah gosipkan oleh mantan suami dan mantan mertuanya dulu.
"Bunda, dengan adanya ayah sama bunda dan adik adik saja, aku sudah cukup bahagia. Tidak ada yang aku inginkan lagi dalam hidupku selain keinginanku untuk terus membuat ayah sama bunda bahagia." Naura kembali memeluk bundanya.
"Dengan aku menikah lagi, tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untukku, bunda. Tapi, aku sudah tidak trauma dengan apapun. Aku sudah tidak menutup hatiku lagi. Aku akan menerima kehadiran pria yang telah Allah tuliskan di lauhul mahfudz untukku. Saat ini, aku hanya butuh doa dan doa saja dari ayah dan bunda." Ujar Naura melanjutkan ucapannya.
Naura sudah berdamai dengan takdir. Dia sudah ikhlas dengan segala apa yang telah tertulis untuknya. Mungkin memang seperti inilah jalan takdirnya. Bisa saja kan Naura berjodoh dengan maut, bukan dengan manusia. Jadi, yang Naura siapkan saat ini adalah memperbaiki dirinya, mendekatkan diri pada Allah dan menyayangi kedua orangtuanya.
Dengan begitu Naura merasa siap jika saja jodoh itu datang padanya. Baik itu jodoh dunia yang akan mengantarkannya ke pelaminan dan menjadi pasangan hingga jannah, ataupun malah jodoh yang akan mengantarkannya ke kehidupan yang sesungguhnya yaitu alam akhirat.
Sungguh hanya Allah yang tahu tentang misteri jodoh dan kematian.
__ADS_1