Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 49 Tiba tiba melamar


__ADS_3

Pukul 9:00 malam, satu jam lagi menjelang distro tutup. Lili melihat mobil mewah parkir di tempat mas Irul memarkirkan motornya setiap datang ke distro. Mobil ini baru pertama kali ke sini. Ya Lili sudah mengenali bahkan sampai kendaraan pelanggan yang sering mampir ke distro atau pun baru sekali mampir pun dia ingat. Tapi, mobil ini baru pertama kali parkir di depan distro.


Mata Lili terus menatap kearah mobil itu melalui dinding kaca distro yang tembus pandang. Seseorang turun dari mobil itu, mata Lili melotot dan mulutnya ternganga melihat sosok yang turun dari mobil itu ternyata adalah Irul.


"Mbak Naura!" Seru Lili memanggil Naura yang sedang mengecek stok pakaian di gudang.


"Ada apa, Lili?" Sahutnya yang terdengar samar oleh Lili.


Saat Lili hendak berteriak lagi untuk memberitahukan bahwa Irul datang malam ini, eh keburu Irulnya masuk duluan ke distro.


Irul tampak sangat tampan dengan stelan jas abu abunya dengan dasi senada. Malam ini dia tampak seperti seorang ceo, tidak seperti bisanya yang penampilannya sangat casual seperti seorang kurir pengantar paket online.


"Hai Lili, selamat malam." Sapanya ramah pada Lili.


"Hai mas Irul. Mas Irul rapi amat malam ini. Mau kemana mas?" Tanya Lili kesemsem dengan penampilan Irul.

__ADS_1


"Saya mau melamar di sini. Mbak Nauranya ada?" Tanya Irul yang membuat Lili bingung dengan jawabannya barusan.


"Melamar sebagai apa!" Seru Naura yang sudah kembali dari gudang.


Irul tersenyum manis saat melihat Naura. Dia pun melangkah mendekat pada Naura.


"Mau melamar.."


"Maaf mas Irul, saya tidak mempekerjakan pegawai pria. Jadi mas Irul bisa melamar pekerjaan di tempat lain." Naura memotong ucapan Irul


Naura, Lili dan semua pegawai juga pelanggan yang ada distro melotot menatap kearah Irul.


"Naura, maukah kamu menikah denganku. Aku tidak bisa menjanjikan untuk selalu membuatmu bahagia, tapi aku akan mengusahakan agar kamu selalu merasa bahagia saat bersamaku."


Irul melamar Naura. Tatapan matanya tampak tulus, apa yang diucapkannya juga terasa tulus seakan dari hati dan tidak dibuat buat, tapi ini terlalu tiba tiba hingga membuat Naura bingung dan terkejut.

__ADS_1


"Mas Irul, berdirilah." Naura tidak enak melihat posisi Irul yang berlutut dihadapannya.


Irul pun langsung berdiri, tapi tetap mengulurkan cincin itu pada Naura.


Kenapa dia? Siapa kamu sebenarnya, kenapa melamarku secara tiba tiba padahal kita tidak saling mengenal.


Naura tidak tahu harus merespon bagaimana. Tapi, dia pernah berucap jika ada pria yang melamarnya dengan tulus, dia akan menerima lamaran pria itu. Tapi, haruskah Naura menerima lamaran pria bernama Khoirul ini. Pelanggan aneh di distronya.


Tidak. Aku harus tahu dulu latar belakang keluarganya. Aku tidak boleh asal menerima saja karena ucapanku dulu. Itu konyol Naura.


"Apa mas Irul serius?" Tanya Naura pada akhirnya.


"Ya aku serius Naura. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu. Karena tentu saja kamu tidak akan percaya. Tapi, percayalah, aku tulus ingin melamarmu. Aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku." Ungkapnya dengan jujur.


"Tapi, kalau memang mas Irul serius dan benar benar tulus. Buktikan. Datanglah bersama kedua orangtua mas Irul ke rumahku untuk melamarku pada kedua orangtuaku." Ujar Naura pada akhirnya, dia hanya asal bicara.

__ADS_1


"Ya. Aku akan datang melamarmu. Aku akan datang bersama kedua orangtua-ku Naura. Tunggu aku." Jawab Irul tegas menyetujui tantangan dari Naura.


__ADS_2