Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 14 Wisuda


__ADS_3

Selesai berbelanja, Naura diantarkan kembali ke kosnya oleh Zahra dan Baim. Kebetulan sekali saat mereka tiba di kos Naura, Tama juga baru datang. Mereka saling menyapa sebentar, lalu segera pergi meninggalkan Naura bersama suaminya.


"Belanja apa saja?"


"Hanya buah dan kue kue ini, mas." Jawab Naura sambil menunjukkan isi plastik belanjaannya.


"Kok cuma sedikit sekali sih."


Naura me-remas kuat ujung jilbabnya. Dia tersulut emosi kali ini tapi tetap berusaha ditahannya.


Dikit? Ya memang hanya sedikit, karena uangku hanya cukup membeli segini.


Naura mulai berdialog sendiri dengan pikirannya. Mending aku membeli sedikit, dari pada kamu! Memberikan aku uang saja tidak pernah. Memang sih kamu membelikan aku baju mahal. Tapi, aku tidak butuh baju mahal itu, karena baju itu tidak membuat perutku kenyang.


Dasar suami tidak bertanggung jawab. Mana tanggung jawabmu yang seharusnya menafkahi aku. Aku sungguh merasa bersalah pada Ayah. Aku sudah bersuami tapi uang belanja dan uang jajanku masih diberikan oleh ayah.


Hati Naura sangat terluka. Dia benar benar tidak habis pikir dengan cara suaminya yang seperti tidak mengerti tanggung jawabnya sebagai seorang suami terhadap istrinya, padahal dimata orang-orang sekampung Tama adalah seorang yang hampir sempurna.


Tama sudah di kamar mandi saat Naura masih terus berdialog sendiri dengan pikirannya. Lalu, tiba tiba terdengar suara mobil berhenti tepat di depan kosnya. Naura menghentikan dialognya, dia segera melangkah keluar dan ternyata benar dugaannya keluarga dari kampung yang datang.


"Bunda!"


Naura langsung memeluk bundanya, lalu berganti memeluk Mama dan adik iparnya Tania.


"Ayah."


Naura menyalami Ayahnya. Barulah kemudian, menyapa kakak iparnya dan juga tetangga yang di bayar mama mertuanya untuk menjadi sopir mereka.


"Tama mana?" Rudi bertanya karena sejak tadi tidak melihat menantunya itu.


"Mas Tama lagi mandi, ayah. Mau sholat zuhur."


Naura tidak membawa mereka masuk ke kosnya, tapi mengantar mereka ke rumah yang telah di pesannya. Dan sewa rumah itu akan dibayar oleh ayahnya, bukan suami atau mama mertuanya.


"Ma, bunda, mbak, kalian istirahat saja dulu. Aku mau memanggil mas Tama."


"Iya, pergilah. Panggil Tama, bilang sama dia mama sudah datang!"


Naura mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia bergegas menuju kamar kosnya untuk menemui Tama. Saat Naura tiba dikamar kosnya, Tama sudah selesai sholat dan sudah berpakaian rapi. Dia tersenyum manis sekali pada Naura.


"Mama sudah datang?"


"Sudah, mas. Mas duluan saja menemui mereka, aku nyusul sebentar lagi. Mau sholat dulu."

__ADS_1


"Ya sudah, mas duluan ya. Adek harus cepat nyusul."


Tama mengatakan itu dengan suara yang sangat lembut. Dan itu membuat Naura kembali terbuai. Lagi-lagi aku terbuai hanya dengan suara lembut dari suami yang tidak mencintai aku.


Kemudian Naura langsung sholat dan setelah sholat zuhur dia menyusul ke kontrakan. Setibanya dikontrakan Naura dan bundanya menyiapkan makanan untuk makan siang mereka. Makanan itu di beli oleh Naura dengan memakai uang bundanya. Hal itu kembali membuat hati Naura merasa bersalah pada kedua orangtuanya.


"Maafkan aku, bunda, ayah." Ucapnya dalam hati.


Sedangkan Yani dan Rudi merasa memaklumi. Karena memang sampai wisuda selesai, bagi mereka Naura masih tanggung jawab mereka.


"Nisa sama Ningsih nggak dapat izin ya, bunda?"


"Iya. Tapi mereka mengirimkan surat loh untuk mbak tercinta mereka."


Yani mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku gamisnya. dia memberikan surat itu pada Naura. Dengan senang hati Naura membaca surat itu. Tapi, setelah beberapa detik kemudian, air matanya menetes. Dia merasa sedih dan terharu membaca ucapan selamat dan doa dari kedua adiknya.


"Mbak juga rindu kalian."


Bunda menepuk-nepuk lembut punggung Naura untuk menenagkannya. Dan setelah Naura merasa lebih baik, barulah mereka mengantarkan makanan ke hadapan keluarga yang mengobrol asik di depan.


.


.


.


Naura sangat bahagia. Di hari wisudanya, dia didampingi oleh kedua orangtuanya dan juga suaminya. Naura tampak cantik memakai pakaian wisuda dan dengan make up wajahnya yang tampak natural. Tama bahkan merasa jantungnya bergetar melihat betapa cantik istrinya hari ini.


Dia akui Naura memang terkadang bisa membuat jantungnya berdegup kencang. Tapi, entah mengapa hatinya terlalu berat untuk mengatakan bahwa dia telah jatuh pada Naura.


Acara wisuda berlangsung dengan sangat khidmat dan penuh kebahagiaan. Naura keluar dari gedung tempat wisuda bersama teman teman satu fakultasnya. Mereka pun membuat perayaan sendiri dengan melempar toga bersamaan. Zahra pun melakukan hal yang sama bersama teman teman satu fakultasnya.


Setelah acara itu selesai, Naura dan Zahra berfoto bersama. Lalu mereka juga berfoto berempat dengan suami mereka. Dan kemudian, tibalah saatnya dua sahabat itu berpisah.


"Na, aku akan sangat merindukanmu."


"Aku juga Ra."


Keduanya berpelukan sambil menangis. Kemudian mereka menemui keluarga masing masing untuk melanjutkan acara foto foto bersama.


Setelah puas berfoto foto. Mereka akhirnya membawa rombogan keluarga untuk jalan jalan ke kebun binatang. Mereka juga diajak jalan jalan ke mall, untuk melihat lihat berbagai macam hal disana.


Naura masih dengan dandanan dan pakaian wisudanya. Sebenarnya ia ingin berganti, tapi belum ada kesempatan, karena keluarganya mengajak kesana kemari untuk menikmati keindahan kota Bandung.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya Naura sendiri yang masih memakai pakaian wisudanya. Ada juga teman satu jurusannya yang berjalan jalan di mall bersama keluarganya dengan masih memakai pakaian wisudanya.


"Pak Arjune!"


Suara Tama memanggil nama itu membuat Naura menoleh kearah yang sama dengan Tama.


"Dokter Tama."


Arjune melangkah mendekat pada Tama. Kali ini Arjune bersama sekretarisnya dan juga seorang klien, bukan tunangannya seperti pertemuan sebelumnya.


Keluarga Tama dan Naura ikut berhenti dan melirik kearah pria yang dipanggil pak Arjune oleh Tama.


"Oh iya, ini mama saya, pak Arjune."


Tama menggandeng tangan mamanya untuk diperkenalkan pada Arjune. Dan Arjune menyapa dengan sopan, kemudian dia melirik kerah Naura yang berdiri disamping Tama.


"Istri dokter Tama, wisuda hari ini?" Arjune menebak karena melihat Naura masih memakai baju wisudanya.


"Iya, pak." Jawab Tama bangga.


Sebentar Arjune berbisik pada pria yang berdiri dibelakanngnya. Pria itu adalah sekretarisnya.


"Baik pak." Pria itu mengangguk, kemudian dia mengajak klien Arjune berjalan melewati keluarga Tama dan Naura.


"Wah kalau begitu, selamat mbak Naura atas disahkannya gelar sarjana." Arjune mengucapkan selamat pada Naura sambil tersenyum senang.


"Terimakasih, pak Arjune."


Naura mengatakan itu sambil terus menundukkan pandangannya dan belum sekalipun dia melihat jelas wajah pria yang dipanggil pak Arjune itu.


"Ibu, sama bapak, pasti orangtuanya mbak Naura?" Tebak Arjune sambil menatap pada Yani dan Rudi yang sejak tadi hanya diam menahan senyum bahagia mereka.


"Ah iya, pak Arjune. Ini bunda sama ayah mertua saya."


Tama menjawab dengan cepat tanpa memberi kesempatan pada Yani dan Rudi untuk menjawab sendiri.


"Selamat pak, atas wisudanya putri bapak."


Tama mengulurkan tangannya pada Rudi. Meski ragu, Rudi menyambut uluran tangan tulus Arjune padanya.


"Terimakasih pak Arjune."


Melihat interaksi ayah mertuanya dan Arjune, entah mengapa Tama merasa sedikit kesal. Mungkin, karena Arjune tidak menyalami mamanya, tapi malah mau bersalaman dengan ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2