Menuju Takdir Cinta Naura

Menuju Takdir Cinta Naura
Bab 9 Pengantin baru


__ADS_3

Naura membuka pintu kamar kosnya, lalu mengajak suaminya masuk.


"Tidak ada perubahan sama sekali."


Ucap Tama begitu masuk ke kamar kos itu. Terakhir dia datang ke kos Naura tiga tahun lalu, saat Naura baru pindah ke kamar kos ini.


"Namanya juga kamar kos, mas. Ya begini begini saja." Jawab Naura yang baru saja masuk membawa tas besarnya.


Tama duduk di ranjang yang dulu menjadi tempat Zahra. Dia mengibas ngibas kasur itu, lalu berbaring disana.


"Maaf, karena mas tidak pernah sempat membalas pesan dan menjawab telepon adek."


Naura yang baru mau memasukkan pakaian dari dalam tas yang dibawanya tadi ke dalam lemari, langsung menoleh kearah suaminya seketika mendengar suaminya kembali memanggilnya adek.


"Lalu sekarang, pelatihannya sudah selesai, mas?"


"Mmm."


Meski hanya dijawab dengan huruf m, Naura tersenyum senang. Setidaknya suaminya merespon.


"Apa kamu sudah makan?"


"Belum. Mas sudah makan?"


"Belum."


"Kalau begitu, aku beli makanan bentar kedepan."


Naura langsung melangkah keluar dari kamar kosnya. Ia menuju warung nasi di depan sana. Dia membeli dua bungkus nasi putih, sementara lauknya di pisah. Naura memesan, sayur bening, sambal hijau dan ayam panggang. Setelah pesanannya siap, Naura langsung kembali ke kamarnya.


Saat tiba di kamar, rupanya Tama sedang berada di kamar mandi.


"Mas, ini makanan sudah datang!" Seru Naura sambil menyusun makanan itu di piring yang memang tersedia di kos itu.


Beberapa detik kemudian, Tama keluar dari kamar mandi. Rupanya ia mencuci wajahnya.


"Makan dulu mas."


Mereka pun akhirnya menyantap makan siang itu dengan lahap. Dan Naura bahagia, karena ini kali pertama mereka makan berdua setelah menjadi suami istri.


Selesai makan, Tama langsung mencuci tangannya dengan sabun, dia juga berkumur kumur. Kemudian dia berwudu untuk melaksanakan sholat zuhur.


"Dek, mau sholat zuhur berjamaah?"

__ADS_1


Pertanyaan itu sungguh romantis menurut Naura. Dia tersenyum senang sambil mengangguk.


"Pergilah wudu. Mas tunggu."


Naura mengangguk. Dia segera berwudu. Lalu mereka pun sholat zuhur berjamaah.


Setah sholat zuhur, Tama meminta Naura mencium tangannya dan dia pun mengecup kening Naura.


Inikah kebahagiaan yang bunda katakan, ketika suami istri beribadah bersama. Hatinya berbunga bunga. Rasanya sungguh membahagiakan.


"Dek, coba pakai baju ini."


Tama yang sudah membereskan sajadah dan juga sudah menanggalkan peci dan kain sarungnya langung mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya.


"Baju apa, mas?"


Naura heran saat mengambil plastik kecil itu, yang menurut Naura tidak akan muat baju didalamnya.


"Pakailah. Mas tunggu!"


Dengan segera Naura membereskan mukena dan sajadahnya. Dia membawa plastik kecil pemberian suaminya ke kamar mandi. Naura membuka plastik itu yang didalamnya adalah baju yang sangat tipis, terawang dan lebih tepat di sebut pakaian dalam wanita untuk menggoda lelaki.


Mata Naura membola melihat gaun malam berwarna soft pink itu. "Aku tidak mau memakai baju ini."


"Dek, kok lama!" Seru Tama yang sudah menanggalkan pakaiannya. Kini dia hanya menggunakan bokser saja. Dia berbaring diatas ranjang sambil melihat lihat layar ponselnya.


"Iya, mas. Tunggu sebentar."


Naura menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat membenci baju itu. "Aku harus memakainya. Lagi pula, memakai baju ini dihadapan suami artinya menyenangkan suami..."


"Bukankah menyenangkan suami akan bernilai ibadah untuk seorang istri. Ya, aku memakai baju ini hanya semata untuk membuat suamiku senang."


Setelah memakai baju itu Naura memejamkan matanya, dia tidak ingin melihat pantulan dirinya dengan baju kecil terawang itu di cermin.


"Dek!" Tama memanggil lagi. Wajahnya tampak kesal karena terlalu lama menunggu.


"Iya mas."


Naura akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia tampak tidak nyaman memakai baju itu.


Mata Tama melotot seakan hendak keluar dari tempatnya saat menatap betapa menggodanya Naura saat memakai baju itu. Kemudian Tama menepuk nepuk kasur di dekatnya. Dia memberi kode agar Naura menghampirinya.


Ini masih siang loh, mas. Apa harus sekarang?

__ADS_1


Naura melangkah sambil berusaha menutupi bagian bagian tubuh pentingnya yang tercetak jelas kerena baju itu sangat tipis menerawang.


"Cepatan!"


Tama menarik tangan Naura, hingga Naura jatuh dalam pelukannya.


Naura kira, Tama akan memperlakukannya dengan penuh cinta. Seperti mengawali dengan memujinya, atau mengecup keningnya, dan membelainya. Seperti tata cara suami istri yang pernah dibacanya disalah satu buku yang mengajarkan cara berhubungan suami istri.


Ternyata Naura salah. Dia tidak diberi aba aba sama sekali. Tama langsung saja ke intinya dan tidak memperdulikan sama sekali perasaan Naura. Dia melakukan berkali kali dengan berbagai posisi yang disukainya meski tidak nyaman bagi Naura.


Setelah merasa terpuaskan, Tama langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Dia meninggalkan Naura yang masih terbaring lemas bak boneka tidak bernyawa.


Hati Naura hancur. Dia merasa seakan hanya dijadikan pe mu as naf su bagi suaminya. Air matanya menetes seketika, dia pun membenamkan wajahnya di bantal menangis sampai ketiduran.


Tama keluar dari kamar mandi. Dia mendengus ji jik menatap Naura yang sudah tidur tanpa menyelimuti dirinya.


"Aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu Naura." Bisiknya.


Lalu, Tama pun berbaring di ranjang yang berbeda. Dia juga tertidur karena merasa lelah setelah melakukan aktivitas yang hanya disukainya sendiri.


Saat Naura dan Tama tertidur. Zahra dan Baim baru saja tiba di penginapan yang sudah mereka sewa sebelumnya.


"Kak aku mau menelpon Naura."


Zahra membiarkan Baim berberes sendiran. Dan Baim tidak masalah dengan itu. Dia memang dengan senang hati melakukan pekerjaan rumah tangga membantu Zahra saat Zahra belum sempat atau ada urusan lain.


"Kenapa Naura tidak menjawab panggilanku…"


"Nanti saja telpon lagi. Naura itu pengantin baru yang terpisah setelah hari pernikahan, sekarang mereka baru kembali bertemu. Kamu pikir, apa yang akan mereka lakukan?"


Baim menjelaskan pada istrinya yang tampak kesal karena tidak bisa menghubungi sahabatnya.


"Begitukah?"


"Iya sayang. Buktinya kita." Baim langsung memeluk Zahra dari belakang.


"Menjadi pengantin Baru itu, rasanya ingin terus terusan berpelukan, bergandengan tangan, berciu…"


Belum selesai Baim bicara, Zahra sudah lebih dulu mencium pipi suaminya itu.


"Sayang yang mulai duluan ya. Jangan sampai menyesal…"


Baim menggendong Zahra, lalu membaringkannya di tempat tidur. Selanjutnya, pasti tahu kan apa yang akan dilakukan sepasang pengantin baru yang saling mencintai dan sedang dimabuk cinta.

__ADS_1


Zahra sangat beruntung karena menikah dengan Baim, lelaki yang sudah dipacarinya selama lima tahun terakhir. Sementara Naura, harus merasakan pahitnya menjadi pengantin baru, karena menikah dengan lelaki yang ternyata tidak memiliki rasa cinta sedikitpun padanya.


__ADS_2