
Awal kehidupan Naura sebagai seorang istri kini benar benar baru akan dimulai.
Hari ke dua setelah kembali ke rumah. Pagi ini Naura mengawali aktivitas dengan memasak sarapan untuk suaminya. Kemudian, lanjut mencuci pakaian dan juga menyapu rumah serta halaman rumah.
"Alhamdulilah, akhirnya selesai juga." Gumam Naura saat selesai menyapu halaman rumahnya. Kemudian dia segera kembali ke dalam dan langsung membangunkan Tama yang masih terlelap.
"Mas bangun. Kita sarapan dulu, yok."
Naura menggoyangkan bahu Tama pelan pelan untuk mencoba membangunkannya. Hingga terdengar suara lenguhan Tama dan tidak berselang lama, dia akhirnya bangun.
"Kamu siapkan saja dulu sarapannya. Aku mau mandi dulu."
"Iya, mas."
Naura langsung menuju dapur dan menata makanan di meja. Dia memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Dan dia juga sudah menyiapkan sambal bawang kesukaannya, ikan goreng, tempe goreng, tahu goreng dan timun sebagai lalapan untuk makan siang nanti.
"Semoga mas Tama suka masakanku."
Naura sangat berharap Tama akan menyukai masakannya sama seperti kemarin.
"Mas!"
Naura menoleh kearah Tama yang melangkah menghampirinya.
"Mas mau sarapan apa? Nasi goreng atau mau makan nasi saja?" Tanya Naura antusias.
"Nasi goreng saja."
Meski Tama menjawab dengan nada suara cuek, Naura tetap langsung mengambilkan nasi goreng ke dalam piring untuk suaminya itu.
"Semoga mas suka."
Tama langsung saja menyendok nasi goreng itu dan memasukkan kedalam mulutnya, kemudian dia mulai mengunyah.
"Bagaimana mas? Enak…"
Sebentar Tama menelan makanan yang ada didalam mulutnya, lalu dia meraih segelas air putih yang sudah disiapkan Naura di hadapannya. Dia minum sebentar, barulah kemudian mengangguk.
"Syukurlah." Naura tersenyum lega.
Mereka pun melanjutkan sarapan hingga selesai. Dan setelah selesai, Tama lansung kembali ke kamarnya. Sedangkan Naura melanjutkan pekerjaannya untuk mencuci piring dan merapikan kembali meja makan. Setelah semua pekerjaan selesai, Naura menyusul Tama kembali ke kamar.
"Mas, mau kemana?"
Begitu Naura tiba di kamar, Tama sudah berpakaian rapi. Saat ini bahkan dia sedang menyisir rambutnya.
"Aku mau pergi sama Akmal."
__ADS_1
"Kemana mas?"
"Jalan jalan saja, main. Aku sudah lama banget nggak main bersama Akmal."
"Tapi nanti makan siang, mas pulang, kan?"
Naura melangkah mendekati Tama. Dia membantu Tama mengancing lengan kemejanya.
"Belum tentu."
Tama melihat dirinya melalui pantulan cermin dihadapannya. Penampilannya terlihat seakan dia hendak kencan saja, bukan seperti hendak bertemu dengan sahabatnya si Akmal itu.
"Ambilin tas aku!"
Tama menunjuk kearah tas sandang kecilnya yang digantung di dinding. Naura pun langsung bergegas mengambilkan tas itu dan memberikan pada suaminya.
"Aku mungkin pulang sebelum magrib. Jadi jangan menungguku untuk makan siang."
"Iya mas."
Wajah Naura tampak sendu. Kemudian dia hendak menyalami suaminya, tapi sebelum tangan Naura sempat meraih tangan suaminya untuk di salami, suaminya sudah melangkah keluar dari kamar. Naura langsung menyusul.
"Mas!"
Tama menghentikan langkahnya yang sudah tiba di depan pintu dan hendak membuka pintu.
Naura mengulurkan tangannya kearah Tama yang malah merespon dengan dengusan kesal.
"Tidak usah ah, lebay."
Tama membuka pintu dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Naura yang terdiam mematung meresapi ucapan Tama yang menolak keinginannya untuk bersalaman.
Mas Tama marah saat aku tidak mau bersalaman dengan lelaki lain yang jelas jelas bukan mahromku. Tapi, dia sendiri malah menolak menerima uluran tanganku dengan alasan lebay.
"Tapi, aku tidak akan menyerah secepat itu, mas. Aku akan terus berusaha meluluhkan hatimu, suamiku." Ucapnya penuh tekad.
.
.
.
Saat ini Tama sedang bepergian dengan temannya ke tempat wisata air terjun yang tidak jauh dari kampung mereka. Dia benar benar bersenang senang. Tama tidak hanya bersama Akmal saja. Mereka ditemani oleh dua orang cewek yang merupakan teman seangkatan mereka saat masih kuliah dulu.
"Loe jahat, Tama. Nikah nggak ngundang ngundang." Celetuk seorang cewek yang berpenampilan modis dan sangat cantik.
"Sory, Mel. Gue nikah juga karena terpaksa dan sangat mendadak."
__ADS_1
Akmal hanya tersenyum menanggapi ucapan Tama. Sebagai sahabat, Akmal tahu pasti tentang Tama sekecil apapun.
"Bukannya loe juga mau nikah, Mel?" Kali ini Akmal yang bertanya.
"Ya, begitulah. Habisnya aku sudah menunggu cukup lama untuk dilamar oleh Tama. Eh malah tiba tiba dapat kabar dia sudah nikah."
"Sorry Mel. Gue benar benar tidak bisa menolak perjodohan ini."
Akmal mulai malas melihat adegan selanjutnya yang sudah bisa ditebak olehnya. Dia pun mengajak Lastri teman Imel untuk menjauh dari kedua manusia aneh itu.
"Apakah Tama benar benar tidak mencintai istrinya?" Tanya Lastri sambil melangkah mengikuti Akmal.
"Begitulah."
"Kenapa sih laki laki selalu egois. Harusnya jika tidak suka maka bilang tidak suka dong."
"Tidak semua lelaki seperti itu, Lastri."
"Aku tahu. Tapi, kebanyakan laki-laki itu plin plan seperti Tama. Sudah jelas tidak suka sama istrinya, kenapa mau dipaksa menikah."
Akmal hanya tersenyum menanggapi ocehan kesal Lastri.
"Sebagai laki-laki, Tama harusnya bisa lebih tegas dan berani untuk menolak perjodohan jika memang tidak suka."
"Perempuan juga harusnya bisa menolak dong, jika tidak suka." Imbuh Akmal.
"Berbeda, Akmal."
"Apa bedanya. Toh yang aku tahu istrinya Tama juga sebenarnya tidak menyukai perjodohan mereka. Nah kenapa dia tidak menolak saja sejak awal."
"Perempuan itu lebih mengikuti kata hatinya. Perempuan itu selalunya sangat penurut terlebih pada kedua orangtuanya. Bagaimana mungkin mereka bisa menentang saran dari kedua orangtuanya yang mungkin terlihat bahagia jika mereka mematuhi keinginan kedua orangtuanya itu."
"Selamanya laki-laki itu milik ibunya, Lastri. Jangan lupa itu. Jadi, sekuat apapun laki-laki mencoba membantah ibunya, mereka tidak akan menang." Protes Akmal yang merasa tidak setuju dengan pendapat Lastri tentang laki-laki.
"Kamu benar, laki-laki milik ibunya dan harus patuh pada ibunya..."
Sebentar Lastri menghentikan ucapannya. Lalu dia menatap tajam kedua mata Akmal.
"Jika memang kalian laki-laki akhirnya mengalah dan memutuskan untuk mematuhi keinginan ibu kalian, maka tindakan yang tepat untuk kalian lakukan harusnya, kalian belajar menerima dan mencoba memberikan hati kalian untuk wanita yang dipilihkan oleh ibu kalian." Sambung Lastri.
"Bukan malah menyakiti hati seorang wanita dengan mengabaikan mereka dan malah bercinta dengan wanita lain secara diam diam seperti sahabat kamu itu." Lastri menunjuk kearah Tama dan Imel yang sedang ber-cu-m-bu di bahwah pohon dan disaksikan oleh air terjun dan angin.
Akmal terdiam. Dia merasa apa yang dikatakan Lastri kali ini benar. Tapi, apa boleh buat. Meski dia mengatakan hal itu pada Tama, tetap saja Tama tidak akan peduli. Karena Akmal tahu sekeras apa hati seorang Adi Tama.
"Bukankah ibu kita adalah seorang wanita. Jadi, menurutku jika menyakiti hati seorang wanita sama saja dengan menyakiti hati ibu kita. Iya, kan?" Tanya Lastri pada Akmal.
Hanya senyum yang terlihat dibibir Akmal sebagai respon darinya untuk menjawab pertanyaan Lastri.
__ADS_1