
Nilam selalu mengingat kebersamaanya dulu bersama Azhar.
“Azhar kamu yang meminangku dan memilih aku untuk menjadi seorang istri, kamu juga yang menginginkan sebuah perpisahan ini.“
“Aku pergi karena aku berharap kamu akan menjemputku dan menerima cintaku, tapi aku salah cinta kamu tidak pernah ada untuk aku.“ ucap Nilam lalu menangis kesedihan.
Setelah itu Nilam menuliskan semua kisahnya lewat buku harian nya. Bercucuran air mata Nilam menggoreskan pena nya diselembar kertas putih
“Haruskah ku sembuhkan sendiri
besarnya cintaku padamu sedikit mengubur luka yang terus menerus dan terus kau buat luka baru. Tak kering sakit batin ini kau tambah dengan rasa yang berkepanjangan
Sangat pedih rasanya mencintai kamu, setiap hari aku berharap rasa itu akan hadir didalam hati kamu. Haruskan aku hilangkan rasa ini sendiri?tapi dengan apa ?dengan siapa ?“
Nilam pun menangis setelah menuliskan isi hatinya di buku hariannya, tidak mudah bagi Nilam untuk menerima semua ini. Cinta tak sampai untuk Azhar membuat sakit dan luka didalam hatinya.
Beberapa hari kemudian kondisi Nilam drop dan harus dirawat di rumah sakit. Zidan sangat sedih melihat kondisi Nilam yang semakin memburuk.
“Nilam lebih baik kamu bicara sama suami kamu bahwa kamu sakit,“ ucap Zidan
“Tidak Zidan aku tidak ingin suamiku tahu dan sedih melihat kondisiku, sudah terlalu banyak luka didalam hidupnya.“ jawab Nilam lalu berlinang air mata.
__ADS_1
“Aku sedih melihat kamu seperti ini,“ ucap Zidan
“Aku hanya ingin pergi dipelukan terakhir suamiku dimana dia akan menciumku, memeluku meski aku tahu itu yang terakhir untukku.“ ucap Nilam lalu menangis.
Zidan merasa tak sanggup melihat kondisi Nilam yang hancur karena cinta, Sementara Shinta berusaha untuk menerima keputusan dari Azhar.
“Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk aku dan Azhar.”
“Aku sudah terlambat untuk memiliki hati nya dan aku tak pantas untuk mendapatkan cinta tulusnya. “ ucap Shinta dalam hati lalu menangis.
Shinta merasa sangat hancur dengan semua ini. Suatu hari Azhar datang menemui Shinta di Café Nilam.
“Azhar ada apa kamu kesini ?” tanya Shinta
“Aku mau pamit untuk pindah ke luar negri setelah berpisah dari Nilam aku akan pergi dari hidup kamu dan Nilam.“ ucap Azhar lalu tersenyum
“Apa kamu yakin mau pergi?” tanya Shinta lagi
“Aku yakin Shinta untuk apa aku disini?jika cinta yang aku tunggu tidak akan pernah bisa membalasnya.“
“Aku berharap kamu bisa menemukan pria yang selama ini kamu impikan, mungkin aku tidak pantas untuk jadi pendamping kamu.“ ucap Azhar lalu pergi.
__ADS_1
Hati Shinta sangat hancur mendengar ucapan Azhar.
“Rasanya aku ingin memelukmu dan melarangmu untuk pergi, tapi ini semua sudah menjadi keputusan dalam hidup kamu.“
“Disaat aku mencintai kamu, kamu memilih sebuah keputusan yang begitu menyakitkan untukku Azhar.“ ucap Shinta dalam hati lalu meneteskan air mata.
Shinta mendapat kabar bahwa Nilam masuk ke rumah sakit, Shinta datang kerumah sakit untuk menjenguk Nilam yang terbaring lemah karena kankernya.
“Mba Nilam harus sembuh,“ ucap Shinta lalu meneteskan air mata.
“Tidak Shinta aku rasa hidup aku sudah tidak lama lagi,“ jawab Nilam
“Azhar harus tahu kalau mba sakit, aku tidak mau Azhar menceraikan mba disaat mba butuh dia.“ ucap Shinta
“Jangan Shinta biarkan Azhar melakukan apa yang dia mau, mungkin ini yang terbaik untukknya. Aku hanya ingin bahagia disisa umurku,“
“Aku ingin Azhar memelukku di saat terakhirku,“ ucap Nilam lalu meneteskan air mata.
Keinginan Nilam membuat hati Shinta hancur wanita yang begitu tulus harus merasakan sakitnya dalam mencintai.
Apakah Azhar akan menyadari semua kesalahannya?
__ADS_1
Atau dia akan tetap dengan keputusannya untuk berpisah dari Nilam?
Ikuti terus kelanjutannya ya kakak.