
2 Bulan Shinta dan Azhar saling mengenal. Shinta merasa jatuh cinta dengan Azhar.
Malam ini Azhar berniat untuk melamar Shinta di taman, di depan Shinta Azhar bertekuk lutut.
“Shinta malam ini adalah malam yang sangat indah bagiku, baru kali aku merasa bahagia disampingmu. Wanita yang selalu aku tunggu disetiap waktu,“ ucap Azhar dengan romantis.
Shinta hanya tersenyum manis padanya.
“Shinta aku mencintai kamu,” ucap Azhar lalu mengeluarkan sebuah cincin emas untuknya.
“Sampai detik ini kamu selalu ada dihati aku, ku mohon Shinta terimalah aku untuk menjadi pelabuhan cinta terakhirmu dan menjadi ayah untuk anakmu,“ ucap Azhar.
Shinta merasa tidak pantas untuk menjadi istri Azhar, dia teringat Nilam yang juga mencintai Azhar.
“Maaf Azhar rasanya aku tidak pantas untuk menjadi istrimu, lebih baik kamu lupakan aku,” jawab Shinta lalu berlinang air mata. Azhar mencoba untuk menyakinkan hati Shinta.
“Kenapa Shinta? aku tidak peduli dengan status kamu, perlu kamu tahu aku ingin kita bersama sampai maut memisahkan kita. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Shinta,“ ucap Azhar lalu menatap Shinta.
Shinta merasa dilema dengan perasaanya, dia ingin menerima Azhar tapi dia juga tidak ingin menyakiti hati Nilam.
“Bagaimana dengan hati Nilam? dia juga sangat mencintaimu Azhar,“ ucap Shinta, Azhar hanya terdiam lalu memegang tangan Shinta.
“Aku tidak pernah mencintai Nilam aku hanya mencintai kamu,“ jawab Azhar.
Shinta langsung melepaskan tangannya dari Azhar.
“Aku tidak pantas untuk kamu cintai. Nilam juga menunggumu sampai saat ini, tidak ada pria lain yang dia cintai selain kamu,“ ucap Shinta lalu menangis.
“Lalu bagaimana dengan hatiku yang selama ini menunggumu juga Shinta? aku juga tersiksa dengan rasa ini. Aku tidak ingin menyakiti hatinya tapi cinta tidak bisa dipaksakan,” jawab Azhar lalu berlinang air mata.
__ADS_1
“Lebih baik kita lupakan cinta ini, aku memang sudah mulai mencintai kamu, Azhar. Tapi aku bukan wanita yang baik untukmu. Lebih baik kamu lepaskan aku dan belajar mencintai Nilam, wanita yang sangat mencintai kamu,“ ucap Shinta lalu pergi membawa luka dihatinya.
“Azhar aku sangat mencintai kamu, tapi Nilam jauh lebih pantas untuk kamu. Sementara aku hanya wanita kotor yang pernah menyakiti hati kamu,“ ucap Shinta lalu menangis.
Dimalam yang dingin Nilam merasa sangat pusing kepalanya lalu dia pingsan. Salah satu karyawannya membawa dia ke rumah sakit, menurut hasil lab Nilam mengidap kanker otak stadium akhir. Menurut hasil medis usianya sudah tidak lama lagi.
Begitu terpukul hati Nilam mendengar diagnosa dari dokter. Nilam hidup seorang diri karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal dunia.
“Kepada siapa aku mengadu? sebentar lagi hidupku akan berakhir,“ ucap Nilam dalam hatinya lalu pergi.
Di rumah Nilam masih saja memikirkan penyakitnya, dia merasa kesepian di dalam hidupnya. Memandang foto Azhar membuat Nilam semakin sedih.
“Mungkin hidupku akan berakhir Azhar. Ingin rasa nya di sisa umurku bisa pergi di pelukan terakhirmu, tapi selama ini kamu tidak pernah mencintaiku,“ ucap Nilam lalu menangis memeluk foto Azhar.
Begitu besar cinta Nilam kepada Azhar, baginya hanya Azhar pria yang sangat dia cintai. Dia ingin pergi dipelukan Azhar.
Keesokan harinya Nilam menemui Shinta di taman lalu memberikan hasil lab nya dari Dokter. Terkejut Shinta mendengar kondisi kesehatan Shinta yang sangat memburuk.
“Iya aku sakit kanker dan usiaku sudah tidak lama lagi,” jawab Nilam lalu menangis.
“Aku yakin Mba Nilam pasti sembuh, aku janji akan selalu di samping Mba sampai Mba sembuh,“ ucap Shinta
“Terimakasih Shinta aku percaya kamu wanita yang baik, tapi bukan itu keinginan terakhirku,“ jawab Nilam lalu meneteskan air mata.
“Lalu apa keinginan mba?” tanya Shinta.
“Aku ingin pergi dipelukan terakhir Azhar. Aku ingin disisa umurku Azhar bersamaku Shinta, tapi aku tahu hati dia hanya untuk kamu,“ ucap Nilam lalu berlinang air mata.
“Tapi aku minta sama kamu rahasiakan penyakitku dari Azhar. Aku tidak mau dia tahu dan sedih tentang kondisiku,” ucap Nilam memegang tangan Shinta.
__ADS_1
Shinta merasa sangat sedih melihat kondisi Nilam yang sedang sakit, setelah itu Shinta mengajak Azhar ke sebuah tempat. Begitu bahagianya Azhar melihat Shinta yang sudah mulai membuka hatinya.
“Shinta aku bahagia sekali hari ini akhirnya kamu mau membuka hatimu untukku,“ ucap Azhar lalu memegang tangannya. Shinta langsung melepaskan tangannya dari tangan Azhar.
“Kamu benar aku sudah membuka hati untuk kamu, tapi aku juga sadar kalau aku bukan perempuan terbaik untuk kamu,“ ucap Shinta lalu menatap Azhar.
“Maksud kamu apa, Shinta? aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Aku mau kita bukan lembaran baru,“ jawab Azhar.
“Lebih baik kamu lupakan aku Azhar. Aku mau kamu belajar mencintai Nilam, wanita yang selama ini sudah menunggu kamu. Menikahlah dengan dia Azhar,“ ucap Shinta lalu hendak pergi.
“Tidak Shinta aku tidak pernah mencintai Nilam. Wanita yang selama ini aku tunggu adalah kamu bukan Nilam,” Jawab Azhar lalu memegang tangan Shinta, air mata membahasahi pipi Shinta.
“Aku mohon Azhar lupakan aku. Aku masih belum bisa membuka hatiku untuk kamu, lebih baik kamu mencintai Nilam. Wanita yang sangat baik dan setia sama kamu,“ ucap Shinta melepaskan tangannya.
“Baiklah Shinta jika memang cinta harus memilih. Aku akan menikahi Nilam dan melakukan semua ini karena aku sangat mencintai kamu, mungkin benar sudah tidak ada cinta dihatimu lagi untuk aku. Penantianku untuk kamu hanya bayangan semu,“ ucap Azhar lalu pergi membawa luka dihatinya.
Shinta merasa sangat hancur melepaskan Azhar.
“Maafkan aku Azhar. Disaat aku mulai mencintai kamu ada hati wanita lain yang lebih membutuhkan kamu, maafkan aku sudah membuat pilihan yang sangat sulit dalam hidup kamu,“ ucap Shinta lalu menangis dan menyesali semuanya.
Azhar merasa sangat kecewa dengan Shinta yang sudah menolak cintanya lagi.
“Dulu kamu menolakku karena derajat sekarang kamu melepaskan aku untuk wanita lain. Seandainya kamu tahu Shinta hanya kamu di hatiku,“ ucap Azhar
“Jika memang Nilam jodohku maka aku akan menikahi Nilam. Wanita yang bernasib sama sepertiku. Menunggu sebuah cinta di jalan takdirnya,“ ucap Azhar lalu merobek foto Shinta berlinang air mata.
Azhar memutuskan membuka hati Nilam wanita yang bernasib sama seperti dirinya, mencintai tanpa dicinta. Menunggu cinta dijalan takdirnya. Sedangkan Shinta merasa sangat berat untuk melepaskan Azhar yang begitu mencintainya.
“Azhar aku sangat mencintai kamu tapi Mba Nilam jauh lebih pantas untuk kamu, mungkin aku harus merasakan apa yang kamu rasakan dulu,“ ucap Shinta lalu menangis.
__ADS_1
Mau tahu kelanjutan ceritanya?
jangan lupa like, koment dan vote ya Readers agar aku semangat dalam melanjutkan bab berikutnya.