
Keesokan harinya Abi dan sekeluarga datang untuk menyaksikan persidangan kasus Yasmin, dengan seragam hitam putih Yasmin berjalan bersama tongkat yang selalu menemaninya.
Dengan kondisinya yang pincang membuat Yasmin sulit untuk berjalan, dengan dikawal dua polisi Yasmin berjalan menuju meja persidangan.
Saat Mata Yasmin selalu menatap wajah Abi, hancur dan sedih itulah yang sedang Yasmin rasakan saat ini.
Setelah itu Yasmin duduk di atas kursi dengan rasa pasrah Yasmin menyerahkan semuanya kepada Allah. Saat itu juga Nayla dan Yuda ikut menyaksikan persidangan kasus Yasmin.
“Saudari Yasmin Anindya Putri apakah anda tidak ditemani oleh pengacara?” Tanya pak Hakim dengan tegas
Saat itu Damar begitu resah dia takut bahwa Aditya akan mundur dengan kasus ini.
“Kemana Aditya? Apa mungkin dia angkat tangkat tangan dengan kasus Yasmin?” Tanya Damar dalam hati lalu gelisah
Mendengar pertanyaan dari hakim Yasmin hanya terdiam, lalu merasa sedih.
Tidak lama kemudian ada seorang pemuda tampan dengan kaca mata hitam lalu tersenyum pada semua orang.
“Saya yang akan menjadi pengacara untuk saudari Yasmin,” ucap Aditya lalu berjalan menuju ke depan.
“Maafkan saya pak hakim saya datang terlambat untuk mengikuti persidangan ini,” ucap Aditya lalu menatap wajah Yasmin
Setelah pengacara Yasmin datang persidangan pun di mulai. Melihat pengacara itu datang untuk membela Yasmin, wajah Bu Shinta berubah menjadi kesal.
“Apa benar Saudari Yasmin yang menusuk Ibu Shinta Ayu pratiwi yang tidak lain adalah Ibu kandung anda sendiri?” Tanya pak hakim kepada Yasmin
“Itu Tidak benar pak sumpah demi Allah saya tidak menusk Ibu saya sendiri, saat saya datang kerumah kondiis Ibu sudah tertusuk oleh pisau tersebut, oleh sebab itu saya menolong Ibu karena saya lihat pisau itu masih menancap diperut Ibu, bukan saya pelakunya,” ucap Yasmin dengan tegas
Mendengar jawaban Yasmin membuat Bu Shinta marah karena Yasmin tidak mau mengakui kesalahannya.
“Bohong! Dia yang sudah menusuk saya pak, bahkan saya di ancam untuk dibunuh, saya mau Yasmin di hukum dengan adil,” ucap Bu Shinta lalu meneteskan air mata
“Maaf Ibu Shnta dari bukti yang saya dapatkan bukan Yasmin pelakunya, sebelum Ibu Shinta tertusuk Ibu sempat mengirim pesan singkat kepada Yasmin lewat SMS, dari waktu pengiriman itu sama saat Ibu mengirim pesan kepada Abi.”
“Tidak mungkin Yasmin melakukan penusukkan dengan kondisi Yasmin yang cacat dan sulit untuk berjalan, bukan hanya itu saya juga membawa tetangga Bu Shinta untuk menjadi saksi,” ucap Aditya lalu mempersilahkan pak Rahmat tetangga Bu Shinta untuk masuk.
“Benar pak, saat mba Yasmin datang beberapa saat kemudian pak Abi juga datang, jadi tidak mungkin Mba Yasmin pelakunya karena setahu saya Rumah Bu Shinta tidak ada kegaduhan di dalamnya,” ucap Pak Rahmat dengan menjelaskan semuanya
Aditya pun memberikan bukti SMS tersebut kepada pak hakim.
__ADS_1
“Tidak ada seseorang yang ingin dicelakai bisa mengirim pesan kepada dua penerima sekaligus dalam waktu yang sama,jadi saya rasa Yasmin tidak bersalah dan menurut saya Bu Shinta melukai dirinya sendiri,” ucap Aditya lalu tersenyum
“Mana mungkin saya bunuh diri saya ini masih waras, ini semua salah Yasmin, Abi Mamah tidak mau Yasmin bebas kamu harus bela Mamah,” ucap Bu Shinta lalu memohon
“Pak Hakim Mamah saya tidak mungkin berbohong pak saya yakin Yasmin lah pelakunya, karena saat itu saya melihat tangan Yasmin penuh dengan darah,” ucap Abi membela Ibunya
“Tidak pak bukan saya pelakunya saat itu saya menjumpai Ibu dalam kondisi sudah tertusuk, mengapa tangan saya penuh darah karena saya berusaha untuk melepaskan pisau yang masih tertantacap di perut Ibu.”
Yasmin pun sedih dengan semua tuduhan yang Bu Shinta ucapkan padanya. Hanya air mata kesedihan yang saat ini menemani Yasmin.
Pak Hakim pun berunding untuk mempertimbangkan bukti yang diberikan oleh pengacara Yasmin, setelah berunding pak Hakim memutuskan untuk membebaskan Yasmin.
“Setelah melihat bukti yang kami dapatkan dari pengacara saudari Yasmin, maka dari itu kami memutuskan untuk membebaskan saudari Yasmin karena bukti dan saksi yang kuat,” ucap pak hakim lalu mengetuk palunya
Wajah bahagia terpancar di dalam diri Damar setelah mendengar bahwa Yasmin tak bersalah dan di bebaskan, air mata kebahagiaan bercucuran di wajahnya.
Begitu juga dengan Yasmin mendengar keputusan dari pak Hakim Yasmin langsung bersujud sebagai tanda syukurnya.
Setelah itu Damar menghampiri Yasmin lalu menatapnya sambil tersenyum.
“Kamu bebas Yasmin kamu tidak bersalah,” ucap Damar dengan bahagia
“Terimkasih Mas akhirnya aku bebas, dan bukan aku pelakunya,” ucap Yasmin lalu berlinang air mata
Mendengar kebebasan Yasmin membuat Bu Shinta tidak terima,
“Ini Tidak adil pak saya tidak setuju jika Yasmin di bebas begitu saja, Yasmin itu pelakunya pak dan dia pantas untuk di hukum,” ucap Bu Shinta dengan amarahnya
Mendengar ucapan Ibunya membuat Yasmin sedih, saat dia dinyatakan bebas seharusnya adalah kebahagiaan untuk seorang Ibu tapi beda dengan Bu Shinta yang menginginkan Yasmin hancur.
“Bu, sekarang Ibu lihat aku tidak bersalah dan aku bukan pelakuanya, tidak mungkin aku melukai Ibu apalagi untuk merusak rumah tangga kak Abi.”
Yasmin pun mendekat lalu memegang tangan ibunya.
“Aku sayang sama Ibu, Kak Abi percayalah padaku bukan aku pelakunya, “ ucap Yasmin dengan menyakinkan Abi
“Cukup Yasmin! Ibu tahu kamu benci sama Ibu kamu bersikap seperti hanya untuk menarik perhatian semua orang, tapi tidak dengan saya.”
“Baiklah mungkin saat ini hukum berpihak sama kamu, tapi sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan kamu, bahkan saya menyesal karena sudah malahirkan dan membesarkan anak cacat dan kejam seperti kamu,” ucap Bu Shinta didepan semua orang
__ADS_1
Rasanya begitu sedih dan hancur mendengar seorang Ibu yang begitu mulia di mata anaknya harus mengatakan hal seperti itu.
Air mata selalu membasahi wajah cantik Yasmin. Tak sanggup Yasmin harus melihat Ibu yang sudah melahirkan bahkan membesarkan harus membencinya.
“Ibu, jangan benci aku meski Ibu benci sama aku tapi aku tetap sayang sama Ibu, karena Ibu adalah Cahaya untuk aku,” ucap Yasmin lalu memeluknya
Melihat Yasmin memeluknya Bu Shinta langsung melepaskannya dan mendorongnya hingga terjatuh.
“Tidak ada seorang anak yang membuat hidup Ibunya hancur dan kamu adalah salah satunya,” ucap Bu Shinta lalu pergi
Pak Azhar begitu sedih melihat sikap Bu Shinta yang begitu membenci Yasmin, padahal Yasmin tidak pernah bersalah di dalam hidupnya.
“Yasmin, saya akui kamu tidak bersalah di mata hukum tapi di mata saya kamu tetap berasalah, saya lebih percaya dengan Mamah wanita yang sudah melahirkan saya.”
“Saya Malu punya adik tiri yang tidak tahu diri seperti kamu, lebih baik kamu pergi dari hidup Ibu, karena sampai kapanpun kita semua tidak akan pernah bisa memaafkan semua kesalahan kamu,” ucap Abi lalu pergi bersama Nabila
Hancur itulah rasanya hati Yasmin saat ini, dia merasa semua orang membencinya melihat Yasmin terpuruk membuat Damar tak tega.
“Sudahlah Yasmin, jangan bersedih masih ada aku disini, aku janji akan selalu ada untuk kamu, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama.”
“Hapus air mata kamu dan kamu harus bangkit, aku janji setelah kita menikah nanti aku akan membawa kamu pergi,” ucap Damar lalu tersenyum dan memeluk Yasmin
Setelah itu Damar mengantar Yasmin pulang ke kontrakannya, rasa sedih masih terpancar di wajahnya.
Sebagai kekasih Damar selalu ada di sampingnya, dia tidak mau Yasmin sedih dan menanggung semua ini sendiri.
“Yasmin, kamu tidak boleh sedih aku yakin semua orang pasti akan tahu kalau kamu adalah wanita yang baik, dan aku janji apapun yang terjadi aku akan selalu ada untuk kamu,” ucap Damar lalu memegang tangan Yasmin sambil menatapnya
“Terimakasih Mas Damar karena kamu aku bisa melewati ini semua, tanpa kamu mungkin aku sudah hancur seperti keinginan Ibu,” ucap Yasmin lalu memeluk Damar dengan penuh kasih sayang
Saat malam Tiba Yasmin memandang foto Bu Shinta, rasa sedih dan kecewa itulah yang rasakan saat ini.
“Ibu, kenapa Ibu harus membenci aku? Ibu selalu menyalahkan aku padahal aku sangat sayang sama Ibu, hanya karena aku anak dari masa lalunya membuat Ibu benci sama aku, padahal aku tidak pernah tahu masa lalu Ibu,” ucap Yasmin lalu berlinang air mata
Sedih dan hancur hati Yasmin karena harus dibenci oleh ibu kandungnya sendiri, tapi meski begitu Yasmin tetap sayang kepada Ibunya.
karena bagaimanapun juga Bu Shinta adalah Ibu yang sudah melahirkan bahkan merawatnya sampai dia besar.
Maaf ya kak aku baru bisa up😊😊
__ADS_1