
Nafas berhamburan dari dua mulut yang berbeda, seiring dengan badan-badan mereka yang rebah menimpa rerumputan. Rasa lelah yang tiada tara, dan rasa gelisah yang terus menerus memburu seolah-olah ingin memporak-porandakan hati dan pikiran mereka. Keluh kesah mereka begitu khas, mencari sasaran pelampiasan, melayang-layang. Tetapi apa dan siapa yang harus menjadi sasaran, sementara semua itu sulit untuk di pertimbangkan sebab akibatnya.
Sementara mereka baru saja berlari dan berlari, sembunyi dan sembunyi, tetapi sampai kapan keadaan itu berlangsung, samasekali belum ada kepastian atau belum tergambar di benak mereka.
__ADS_1
" Ah benar-benar sialan !! Ini...sialan siaaaalll !! " Teriakan dan ungkapan rasa kesal pak Dasim lepas melesat dengan suara yang penuh dengan kegeraman, sementara kedua tangannya meremas-remas rumput yang ada di sekitarnya tangannya.
" Jahanam ! " Hardiknya lagi dan kedua tangannya kini berubah memukul-nukul tanah, maka rumput yang baru saja acak-acakan dirusak. Kini nampak rumput-rumput itu kusut berantakan.
__ADS_1
" Pak......Pak ! " tegur Dipa si pemuda yang ada di sampingnya , Dipa berusaha menenangkan pak Dasim sahabatnya. " tenang pak....! " tambah Dipa sambil tangan nya mengguncang-guncangkan pundak pak Dasim.
" Pak kita sudak terlalu akrab dengan kehidupan yang brutal ini, kita sudah mengalami keadaan genting ini, bukan sehari dua hari, tapi, barangkali dari semenjak kita bertemu. Kita terus menerus mengalami ketidak nyamanan semua ini di alami oleh kita pak, jadi baik bapak maupun saya sudah saling mengenal. Lebih dari itu pak, bapak pernah bercerita, prinsip-prinsip hidup dan pengalaman, yang pernah bapak alami sebelum datang ke tambang emas ini. Saya mengerti pak bapak ini mengalami kekecewaan ! Karena pada dasarnya bapak ini punya tujuan hidup, namun tidak pernah mulus, gagal dan gagal. Jadi bapak ini benar-benar kecewa. Tapi pak, mari kita tamatkan cerita ini, atau riwayat hidup ini. Dan seandainya kita harus mati itu tidak masalah, tapi bukan mati konyol dan bukan mati kecewa, dan seandainya kita mati, mati dalam keadaan berjuang. Bapak mesti tahu, walaupun bagai mana, aku ini masih muda, jadi kalau urusan kecewa, di usia ini sangat renta, orang muda ini biasanya sensitif, mudah putus asa, mudah membuat kesimpulan. Dalam hal ini kekecewaan ku dikarenakan aku selalu mengalami keadaan yang ironis. " Tutur Dipa sambil menghela nafas. " Yang namanya masih muda, tentu saja pengalaman dan proses kehidupannya pun, masih sangat terbatas. Tidak seimbang dengan keberadaan ku, di seusia ku. "
__ADS_1
" Maksud nak Dipa apa ? " tanya pak Dasim sambil menatap tajam.
" Maksud ku begini pak, bapak kan tidak akan menyangka kalau aku ini sedang susah, sedih, kecewa. Seperti yang tadi bapak katakan bahwa saya tidak akan mengerti, Dugaan bapak salah. Nyatanya kita sedang susah pak, bingung dan kecewa. Perlu bapak tahu, keberadaan di sini saja, sebenarnya bukan cita-cita, tapi ketidak sengajaan. Itu di karenakan saya harus pergi dari kampung asal tempat tinggal saya." sampai di sana dulu kata. Sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya mendadak mengganggu hati dan fikirannya. " bayangkan oleh bapak betapa sedih dan kecewanya hati ku, ketika aku sedang senang-senangnya menikmati usia remaja, tiba-tiba di kagetkan dengan berita yang aku terima dari ibu tiri baru ku , yang mengatakan bahwa aku bukan anak asli pak jono dan bu mira. Mereka keduanya hanya orang tua angkat. Nah singkatnya, sejak itulah aku segera meninggalkan rumah pak jono, karena semenjak bu mira ibu angkat ku meninggal aku jadi tidak nyaman tinggal dengan pak jono. Bagiku bu mira pak, tidak seperti ibu angkat tapi sudah layaknya seperti ibu kandung ku, dan sekarang beliau sudah meninggal, untuk apa aku harus terus ada di sana........ " sampai di sana cerita Dipa. Dia tidak sanggup meneruskan
__ADS_1