
"Kalian perlu tahu, resiko yang akan kalian dapatkan, seandainya diantara kalian itu berkhianat !" Ancam Damangtirta, sementara kedua matanya nampak berbinar. "Nanti kita berkumpul untuk di ambil sumpah sebagai anggota lubang! Oleh karenanya nanti, seluruh anggota lubang harus lengkap, tidak boleh ada yang tidak hadir. Sebelum lengkap kita tidak bisa melangsungkan acara,. Nah....setelah semua sepakat dan telah di ambil sumpah, baru kita melakukan perundingan dan membuat rencana ! Mengerti.....??" Tukas damangtirta selaku ketua lubang.
"mengerti......!!" Seru semua anggota lubang serentak.
Percakapan ketua lubang dengan anggotanya, walaupun tidak seluruhnya terdengar, tetapi bagi pak Dasim dan Dipa cukup jelas, bahwa yang barusan mereka dengar itu, adalah rencana jahat yang cukup mengejutkan.
Pak Dasim nampak gugup dan geram akibat menahan emosi dan perasaan kesal yang tertahan. "Kurang ajarrr, pantas saja keadaan mendadak jadi kacau, orang-orang di buat saling curiga, saling tuding-menuding. Padahal isu lubang cair itu hanya rekayasa seseorang, yang di dalangi oleh si Damangtirta. Hal itu sengaja di kondisikan agar semua orang dibuat kacau." guman pak Dasim.
Kata-kata pak Dasim walaupun pelan tapi cukup jelas terdengar oleh Dipa.
"Benar pak, benar-benar kurang ajar mereka ini. Namun kita tidak bisa berontak sekarang. Mereka itu untuk sementara keadaannya kuat, sebab mereka memiliki anggota para jawara yang jumlahnya tidak sedikit !" Keluh Dipa.
"Betul nak, kita harus sekuat tenaga bisa menahan diri" Ucap pak Dasim setuju pada pandangan Dipa.
"Dan beberapa saat lamanya keduanya tetap diam di tempat, menunggu orang-orang tersebut yaitu para anggota lubang, menjauh dari hadapannya. Setelah segalanya berlalu dan tidak lagi nampak di mata, dan tidak terdengar lagi di telinga, keduanya segera bangkit, dan perlahan berjalan menyelusuri semak-semak yang ada di depannya.
"Nak Dipa nampaknya kita sudah aman, kita sekarang perlu cari makan !" Usul pak dasim.
"Betul pak, tapi bagai mana caranya...? saya bingung." Ujar Dipa sambil mengerutkan dahinya.
"Bapak masih ingat tempat ini nak, nanti tidak seberapa jauh dari sini kalau tidak salah ada kebun singkong miliknya teh Titin, yaitu si tukang warung yang sudah bapak kenal sebelum bapak pindah lubang, sewaktu bapak masih berkumpul dengan teman-teman bapak sekampung" Tutur pak Dasim.
__ADS_1
"Tapi apakah masih ada warung teh Titin itu pak ?" Tanya Dipa ragu.
"Entahlah...bapak juga belum tahu, sebab dari semenjak pindah lubang, bapak belum sekalipun bertemu dengan teh Titin lagi." Terang pak Dasim.
"Saya juga sebenarnya mengenal teh Titin pak, namun sama sejak pindah lubang ketempat yang terakhir itu, sayapun tak pernah lagi makan di tempatnya teh Titin !" Terang Dipa.
"Tapi mudah-mudahan kebun singkong nya masih ada, kita bisa mengambil dulu beberapa batang sekedar untuk mengganjal perut, nanti kita berterus terang kepada teh Titin setelah keadaan membaik. Bapak yakin teh Titin sangat baik." Tutur pak Dasim.
"Iya saya sangat setuju pak !" Ujar Dipa mengangguk
"Nanti setelah itu, setelah hari agak gelap baru kita menuju warung atau tempat tinggal teh Titin !" Usul pak Dasim.
beberapa saat kemudian setelah mereka berjalan, keduanya melihat kebun singkong yang di maksud.
"Cepat nak Dipa !" Seru pak Dasim sambil mempercepat langkahnya.
"Ya pak..." angguk Dipa, melangkah mengikuti pak Dasim.
Setelah mereka berada di kebun itu, pak Dasim segera menghampiri pohon singkong yang di taksir banyak umbinya. Kemudian kedua tangannya menggenggam batang pohon singkong itu, dan setelah yakin atas tenaga yang terkumpul di kedua tangannya, kemudia pak Dasim serentak menarik peganggannya, pak Dasim berharap pohon singkong itu dapat ia cabut.
"Wah bisa nak Dipa...!" Seru pak Dasim dengan rasa gembira.
__ADS_1
"iya !" angguk Dipa.
"Wah nampaknya cukup, kalau sekedar untuk mengganjal perut !"
"iya pak ini sangat cukup,"
Setelah itu keduanya beranjak meninggalkan kebun singkong itu. "Kita istirahat dulu di sebelah sana, sambil mengurus singkong-singkong ini."
"baik pak....!" Sahut Dipa sambil tangannya mengambilalih singkong yang ada di genggaman pak Dasim.
Dan setelah keduanya berada di sebuah tempat yang cukup aman, lalu mereka segera mengurus singkong itu. Dipa segera memetik dan memisahkan singkong-singkong itu dari batangnya. Sementara pak Dasim mengupas singkong-singkong itu satu persatu kemudian di bersihkan oleh daun-daun singkong itu. Dan beberapa saat kemudian, baru keduanya langsung menyantap singkong tersebut. Mungkin karena keduanya lapar atau singkong itu sangan enak dan lezat, walaupun tidak di masak dulu, yang jelas singkongh mentah itu dalam waktu sekejap habis di lahap keduanya.
"Waduh sayang tidak ada air." Keluh Dipa.
"Tenang sebentar lagi hari gelap, mudah-mudahan kita dapat menemukan warung itu." Ujar pak Dasim meyakinkan Dipa. "Bapak pun sebenarnya sama, tahan dulu saja." Tambah pak Dasim.
Pak Dasim kemudian beranjak untuk memilih tempat yang lebih nyaman di sekitar itu. Dan setelah mendapatkan sesuai apa yang mereka harapkan keduanya segera menghampiri tempat itu. Yaitu sebuah pohon besar yang di kelilingi oleh rumput-rumput.
Kemudian pak Dasim dan Dipa bersandar di sebuah pohon yang besar itu, keduanya bersandar berdampingan. Dan untuk sementara baik pak Dasim maupun Dipa keduanya diam. Hanya terlihat keduanya seperti sedang menikmati suasananya masing-masing.
Pandangan pak Dasim mengarah pada keadaan yang ada di sekelilingnya yang rimbun oleh semak belukar dan pepohonan. Bersamaan dengan itu, di dalam hati pak Dasim mendadak ada yang bergemuruh, bergejolak. Dan tanpa disadarinya gambaran-gambaran dan pengalaman masa lalunya mendadak membayang di kelopak matanya. Bayangan masa kecil yang tidak bahagia terbayang jelas memenuhi alam fikirannya. saat itu ketika dirinya harus berpisah dengan kedua orang tuanya, padahal mereka masih ada, tapi entah mengapa hidup harus terlantar seperti itu. fakta yang ia alami sehari-hari di seusia dirinya saat itu, masa harus tidur di masjid, makan hanya mengandalkan pemberian orang. ia masih ingat masjid yang sering ia diami adalah masjid dekat rumahnya pak haji Idris di cijengkol. Ia juga masih ingat anaknya pak haji Idris yang laki-laki yang bernama Yadi sewaktu-waktu suka menemani. Pada suatu ketika, ketika dirinya diperlakukan tidak baik oleh taman sekelasnya yaitu si Iskandar, ia mengalami babakbelur karena di pukul atau dianiaya. Akibat perbuatan si Iskandar itu sangat berakibat fatal bagi dirinya. Sampai-sampai dirinya pada waktu itu tidak dapat bersekolah. berhubung keadaan darurat tidak punya keluarga dan tempat tinggal, terpaksa dirinya harus tidur di masjid itu, yaitu masjid dekat rumahnya pak Idris.
__ADS_1