
Masih terbayang oleh pak Dasim saat itu, betapa kaget dan herannya orang-orang melihat keadaan dirinya. Mereka kaget atau heran, mengapa ada bocah yang tinggal di masjid. Kemana orang tuanya, di mana tinggalnya. termasuk pak haji Idris, ketua DKM masjid itu, rupanya Yadi teman masakecilnya pak Dasim, belum bercerita apa-apa pada ayahnya yaitu pak haji Idris, tentang keadaan dirinya. Akhirnya pak dasim kecil di rawat oleh pak haji Idris, dan setelah beberapa hari kemudian, entah bagaimana prosesnya pak Dasim bisa kembali bertemu dengan orang tuanya.
Pak Dasim kecil bisa berkumpul dengan orang tuanya hanya sampai kelas enam, karena ayah pak Dasim saat itu, keburu meninggal. dan sebulan setelah ayah pak Dasim meninggal, ibunya malah menitipkan pak Dasim kecil pada orang lain, walaupun masih saudara. tentu saja pak Dasim sangat sedih, mengapa ia harus berpisah lagi dengan orang tuanya, ia harus hidup berpetualang lagi.
Walaupun bagaimana, hidup dengan orang tua itu, sangat berbeda rasanya, sulit untuk digambarkan, juga susah untuk di bandingkan. Kebahagiaan hidup bersama orang tua tidak tergantikan atau di kira-kira dengan suasana apapun. Tetapi apa yang ia harus terima begitulah kenyataannya.
Dan ketika dirinya sudah tamat SMA, penderitaan dan kesusahan sepertinya tak pernah padam. Bentuk cobaan dan godaan seperti selalu rindu pada dirinya. Kegagalan dan kegagalan untuk mencapai segala harapan seperti sudah menjadi ciri khas dalam kehidupannya. Padahal dirinya selalu tegar dan berusaha melawan segala bentuk rintangan apapun. Tapi lagi-lagi gagal. Termasuk cita-citanya ingin menjadi seorang pengajar atau pendidik, itupun gagal, karena dirinya tidak mampu menamatkan atau melanjutkan study sebagai persyaratan.
Dan ketika berumah tanggapun, dirinya lagi-lagi gagal karena sulit mencari nafkah, dan berakhir dengan perceraian. ahh pokonya suratan gelap dan pahit sudah jelas selalu menimpa dirinya. Sampai harus mengalami hidup sengsara yang tiada akhir. Dia harus mengalami menjadi gelandangan, tidur dimana saja, makan seketemunya, layaknya gelandangan. tetapi anehnya, harapan dan mimpi-mimpi menggapai cita-cita itu tidak pernah padam, dan malah semakin menjadi-jadi, dan ketika segalanya sudah tak berdaya apa-apa, hatinya menjerit, mengapa mimpi-mimpi itu harus mengahantui dirinya selaku gelandangan tua. mengapa mimpi-mimpi itu tidak di berikan pada orang-orang yang mampu, baik di pandang dari segi materi atau dari segi formalitas. ada sesuatu yang menganjal di hatinya, orang-orang yang di anggap mampu malah kebanyakan mereka bersifat apriori, dan cenderung hanya berhura-hura, sehingga tidak jarang menimbulkan rasa cemburu sosial.
Entah kesabaran atau ketololan, sehingga dirinya tak pernah jera dan kapok bercita-cita. Buktinya ketika mimpi-mimpinya terbangkitkan oleh niat mengubah nasib melalui ajakan taman-temannya bekerja sebagai kuli bangunan serentak menyalakan lagi semangat dan timbul lagi harapan. Namun ternyata setelah di jalani harapan itu hanyalah harapan palsu. Karena si pemborong proyek itu, meninggalkan tanpa bertangung jawab kepada para pekerja. Termasuk upah mereka tidak di berikan sebagaimana layaknya. Akhirnya kami sepakat untuk kabur dari pada kelaparan terus-menerus.
Dan ketika kami dalam keadaan di perjalanan, kami di pertemukan dengan orang-orang yang bekerja di tambang emas. Dan ketika mereka menawarkan untuk bergabung bagi kami tidak ada pilihan dan pertimbangan, langsung saja tawaran tersebut diterima, dengan harapan bisa mencapai apa yang di katakan mereka, bisa kaya mendadak, bisa merubah kehidupan dengan sekejap.
Tetapi apa yang terjadi harapan dan mimpi itu pun, cuma fatamorgana, semuanya sirna ditelan dusta. Malah kini dirinya jadi terperangkap di lahan tambang emas yang penuh dengan pertikaiaan.
Akibat dari pertikaiaan ini dirinya karus rela mengalami berpisah dengan teman-temannya. Maka yang terpikir di benaknya sekarang, dia ingin lolos atau keluar dari daerah itu.
"Pak sudah hampir gelap !" Tegur Dipa membuyarkan lamunan pak Dasim.
"Aduh iya" Kilah pak Dasim seraya bangkit.
"Kita ketempatnya teh Titin pak ?" Tanya Dipa sambil menatap.
"Iya" Jawab singkat pak Dasim. Lalu ia berjalan perlahan, sementara Dipa mengikutinya.
Keduanya berjalan mengikuti jalan setapak di samping kebun singkong tersebut. Dan setelah habis melewati jalan kebun itu, mereka masih harus terus berjalan, sedangkan warung yang di maksud belum terlihat.
__ADS_1
"Apakan sudah pindah, atau kemana ya ? Perasaan bapak dulu Warung itu di sekitar sini !" Terang pak Dasim.
"Mungkin sudah pindah pak, atau kita salah !" Terka Dipa sambil melirik kesana kemari.
Pak Dasim tidak menjawab, tapi dia terus melangkah, dia merasa penasaran dan khawatir. Tapi beberapa saat kemudia keduanya terkejut, sebab mereka melihat remang-remang sebua gubuk.
"Pak, lihat sepertinya itu" Teriak Dipa.
"Ya, mudah-mudahan" Harap pak Dasim. Dan keduanya segera mempercepat langkahnya.
"Betul pak!" Sorak Dipa.
"Nak Dipa, diam dulu di sini ! bapak akan meyakinkan dulu." Perintah pak Dasim pada Dipa
"Baik pak." Sahut Dipa serentak menahan langkahnya.
Kemudian pak Dasim segera melaju mendekati gubuk itu. Dan setelah sampai pak Dasim lebih mendekatkan tubuhnya pada bilik warung itu. Dia mencari lubang bilik yang sekiranya bisa melihat ke dalam. Ternyata benar, dari sela lubang-lubang itu, pak Dasim melihat sosok wanita sedang bekerja. Pak Dasim hafal benar siapa wanita itu. kemudia pak Dasim segera mengetuk pintu warung tersebut berkali-kali.
"Aku mang Dasim, yang dulu suka makan di sini." Jawab pak Dasim.
"Mang Dasim...?"
"Betul teh ini mang Dasim." Tegas pak Dasim gembira karena itu jelas suara teh Titin
"Sebentar...!"
Dan tidak berapa lama pintu di buka, ternyata seorang wanita yang sedang memegang sesuatu.
__ADS_1
"Aku mang Dasim teh!" Jelas pak Dasim, ia paham kalau si wanita itu meragukan.
"Ohh mamang, ayo mang masuk!" Ajak teh Titin.
"Sebentar, teh Titin mamang tidak sendiri, tapi dengan teman, sama-sama dari lubang yaitu Dipa." Jelas pak Dasim.
"Cepat bawa ke sini mang, di luar bahaya." tukas teh Titin.
"Suami teteh ada ?" Tanya pak Dasim.
"Tidak ada, tapi ada adiknya sedang tidur." sok aja masuk.
"Sebentar lagi juga suami teteh kang Kardi datang!" terang teh Titin sambil membalikan badannya.
"Iyaa, tapi mamang pun mau mengajak teman dulu." Ucap pak Dasim.
beberapa saat kemudian pak Dasim dan Dipa sudah berada di dalam warung.
"Teh mamang ini sebelumnya minta maaf, mamang dan teman mamang ini dalam keadaan lapar dan haus, barangkali teteh bisa menolong bisa memberi nasi atau makanan apa saja yang bisa menghilangkan rasa lapar."
"Ohh sebentar, kalau air silahkan ambil saja di dalam teko! sementara nasi ada sih ada, tapi dingin, biar ? tuh di wajan plastik, lauknya pun ada di sana!" Kata teh Titin sambil menatap wajah pak Dasim.
"Terimakasih teh!" Ucap pak Dasim gembira.
"Sama-sama mamang!"
Selanjutnya pak Dasim dan Dipa mendekati tempat nasi yang di tunjuk oleh teh Titin.
__ADS_1
"Itu...piringnya ada di rak"
"Iya teh" Kata pak Dasim.