
Untuk meyakinkan kemampuan masing- masing, maka wiranta, Daka dan Sunan, ketiganya melakukan latihan tanding bergilir. Mereka satu sama lain saling bertemu untuk melatih kemampuan dan penguasaan juru-jurus dan kelenturan tubuh masing-masimg. Dalam hal ini wiranta nampak lebih unggul karena baik pengalaman maupun jam terbamg latihannya, Wiranta yang lebih banyak dibandingkan Daka da Sunan. Namun wiranta pun mengakui kehebatan mereka berdua, buktinya ketika Wiranta harus menghadapi keduanya, wiranta nampak kewalaham.
Setelah selesai latihan, dan masakan pun sudah matang, maka Dipa segera menyuruh wiranta dan kawan-kawan untuk makan malam. Dipa mendadak teringat Pak Dasim barang kali ingin mencicipi masakan merek, untuk Dipa segera memisahkan makan untuk Pak Dasim. Dan menyuruh Herna untuk mengantarkannya. Tanpa Diperintah dua kali memang niat Herna juga begitu, maka setelah makanan disiapkan, Herna segera melangkah menuju rumah Pak Dasim yang bera disamping rumahnya. Pintu belum dikunci maka sambil mengucapkan salam Herna lang sung masuk. Setelah berada didalam rumah, Herna segera menyimpan makanan itu diatas meja makan. Tetapi pak Dasim yang masih belum tidur, katanya ingin melihat cucunya. Setelah menyimpan makanan, maka pak Dasim segera mengekuti Herna. Niat Pak Dasim ingin melihat cucunya. Pak Dasim tahu cucunya sudah tidur. Tapi itulah kebahagian Pak Dasim memandang cucunya yang sedang tidur.
"Begini saja sunan, Daka, katakan sama bang Edi, bila memang kenyataan seperti ini, biar untuk sementara diwakili dulu oleh Daka dan Sunan. Dan kalau benar-benar Bang Edi mau kembali Kesana sebaiknya kita musyawarh dulu disi." Kata Dipa.
Tentu saja, Daka dan Sunan sangat gembira mendengar kata-kata Dipa demikian. Rasanya kalau tidak terlalu malam tentunya ingin menyampaikan pada Bang Edi.
Setibanya Pak Dasim, semuanya menyambut Pak Dasim.
"Ayo Pak kita makan" Ajak Dipa pada Pak Dasim
"Yah sok, di lanjut saja bapak mau lihat si ade!" Kata Pak Dasim sambil langsung memburu rumah Dipa.
Beberpa saat setelah puas mandang wajah cucunya, Pak Dasim segera keluar dengan air berlinang membasahi pipinya.
" Tidak bangun pak?" Tanya Dipa Basa basi.
" Tidak! Si ade tidurnya nyenyak sekali hm" Jawab Pak Dasim sambil senyum.
"Ayo kita bersama-sama saja pak enak nih, biarkan yang itu untuk besok lagi" Desak Dipa sambil memberikan piring Pada Pak Dasim.
Akhirnya Pak Dasim, mengikuti tawaran makan Dipa, langsung ia mengambil nasi dan lauknya.
"Ini daging ayam atau itik?" Tanya Pak Dasim. Sambil menyantap makanan. "Nah begini, kalau masak jangan pakai di rebus-rebus segala, jadi rasanya masih utuh, mana sambelnya masih ada?"
__ADS_1
"Ada nih!" Seru Herna sambil menggeserkan rantang yang berisi sambal.
"Oh ya, Bapak tadi lupa memberi tahukan bahwa hari selasa, kalau tidak salah di yayasan akan kedatangan tamu dari pemerintahan mereka ingin meninjau kegiatan disini, nah sesuai dengan program dan rencana, seluruh aset dan potensi yang ada, yang dimiliki oleh yayasan, dari budaya berbahasa, berbudaya matematika, sampai berbudaya pemeliharaan seni budaya bangsa kita, salah satunya seni bela diri silat, Kata Kang Suganda Harus di tampilkan.." Kata Pak Dasim sambil melirik ke Dipa.
"Nah itu bagiannya Kang Wiranta" Kata Dipa. Sambil tersensenyum
"Siap lah kata wiranta nih kebetulan ada Daka dan sunan."
"Kalau peralatan kendang dan yang lainya masih bagus?" Tanya Dipa.
"Ya kita cek dulu besok" Jawab wiranta. "Sekarangkanhari minggu, nah masih ada waktu satu mimggu, kalau hari H nya, hari selasa."
" Sunan, daka kalau sudah berjalan, itu segala macam respon, peluang dan kesempatan sepontan datang sendiri, tapi awal masalahnya adalah bagaimana caranya mewujudkan kekompakan. Dan sebelumnya kami berjuang dengan titik star kekompakan, kebersamaan, saling menghormat, saling pecaya. silahkan kalian cek, tidak bisa semau gue. Saya dan bapak , tanyain sama istri saya, kami awalnya adalah pendatang, pendatang, tapi kami sepakat untuk bangun sebuah sistem program, hal ini di sebabkan kaerena pribumi dengan rendah hati menyadari, maknanya sebuah kebersamaan.maka disinilah kuncinya, kita bisa melihat hasilnya. Yang menjadi pilar disini adalah Kang Suganda yaitu kakanya kang Wiranta,telah membuktikan sikap yang ditunjukan oleh oleh sebuah kaum yang menginginkan kemajuan." Tutur Dipa.
"Betul!" Sahut sunan.
"Baik, mang kami berdua juga ingin demikian." Kata Sunan.
Besoknya pagi-pagi Daka dan Sunan segera pergi menuju rumahnya Bang Edi. Sementara Pak Dasim sebelum berangkat memberikan praktek mengajar, sekarang menyempatkan dulu mengasuh cucu angakatnya. Pak Dasim sangat Bahagia menimang nimang Padam Bara cucu anghakatnaya.
"Pak sarapan dulu saja, sinikan abarnya" kata Herna sambil menengadahkan tangannya "Ayo, putra ibu, ayo kakeknya mau sarapan dulu ayo putra ibu yang soleh dan ganteng"
Tapi Abar, yaitu nama panggil Padam Bara, nampak enggan dilepas oleh Pak Dasim. "Dengan kakek ya, Abar ganteng ya"
"Ayo kakeknya, mau sarapan dulu" Kata Herna sambil mengambil anaknya dari pangkuan Pak Dasim.
__ADS_1
"Ayo sini, kenapa siganteng, kenpa nangis, jangan nangis kan anak bapak tak pernah nangis." Suara Dipa Tiba-tiba Dipa Datang.
Abar kalau melihat ayah nya langsung kedua tangannya menengadah dan mulutnya tertawa lucu sekali.Tidak berapa lama Daka dan sunan sudah kembali disertai Bang Edi. Setelah paratamu, Duduk di teras rumah, Dipa segera menjelaskan semua prinsip, prinsipnya.
"Nah begitu Bang Edi, sebenarnya kalau menilai pribadi, Bang Edi. Saya sangat repespek, tapi berhubung dalam soal mengelola sebuah yayasan, permasalahan lain. Yang berperan bukan hanya pribadi, tapi yang berperan adalah seluruh elemen anggota yayasan karena yang tampil bukan pigur pribadi tapi pigur sitem. Oleh karena itu, dalam mengambil kebijak tidak bisa sepihak. Nah budaya sistem harus benar-benar dirasakan dalam tubuh yayasan, makanya , harus cepat di sosialisasikan di yayasan ini."
Kata Dipa.
"Baiklah Kang Dipa saya mengerti, kita sekarang ada Kang Daka, ada Kang Sunan, tentu kita akan saling bahu-membahu." Sahut Bang Edi.
"Betul, nah Bang Edi kesana lagi saja, nanti kalau semua yang ada disana sudah sepakat, dan paham apa artinya berorganisasi, baru saya siap, tapi kalau cuma semaunya saya tidak mau." Tegas Dipa.
Akhirnya untuk sementara tidak ada masalah lagi, sekarang tinggal menunggu perkembangan selanjutnya. Dipa sadar dalam menghadapi kehidupan ini, sebenarnya tidak sesederhana orang bilang, mengalir saja, jangan melawan arus, harus umum, pada kenyataanya tidak begiti, sebab pada suatu saat kita dipaksa, untuk melakukan hal-hal yang sebaliknya dalam kehidupan. Sebab dalam kehidupan ini kata Dipa, seperti yang telah Pak Dasim alami, selalu kostropesial. Sering kita dibuat kecewa, hanya dikarenakan, rencana kita digagalkan. Padahal bila kita kaji ulang kegagalan rencana yang kita alami itu, hanya karena gengsi. Sebab seluruh penduduk suatu daerah, tidak semuanya ada dalam jalur yang hukum yang sama. Juga tidak ada jaminan hukum itu berjalan, maka kita sangat khawtir dan akan susah mendapatkan keadilan.
Seterusnya Bang Edi diberi tahu bawa hari selasa yang akan datang, akan ada tamu yang ingin melihat suasana dan kegiatan di kampung bahari. Kata sunan dan Daka Bang Edi bisa mengambil pelajaran daru sana. Sebenarnya hal yang harus di perbaiki adalah, keadaan sitem disana, sebab Bang Edipun tahu asal usul majunya pesantren An-Nur itu, awalnya dari kedatangan Dipa dan Pak Sasim, tetapi tetap kuncinya ada di Kang Suganda sekeluarga sebagai keluarga yayasan. Nah sikap keluarga kang Sugandalah merupakan kunci kesuksessan. Tanpa sambutan dan kerendahan hati Kang Sugada, jelas yayasan itu tidak akan maju. Oleh karena itu hal yang paling utama yang akan di perbaiki oleh Bang Edi nanti, adalah sistem dulu, makanya benar kata Dipa, bila sistem nya bokbrok, program akan ngawur kemana-mana. Kebijakan akan seenaknnya diberlakukan tan pa melihat aturan atau keadaan. Kalau demikian yang menjadi korban adalah anak didik.
Hari itu suasana pesantren sangat ramai. Bangunan pesantren dihias, bahkan sebelumnya telah dicat dulu. Baru setelah dihias oleh pernik-pernik rangkaian janur kuning yang bertengger disetiap gerbang penyambutan. Halaman sektar pesantren nampak bersih. berseri. Sementara anak-anak pesantren nampak hilir mudik menambah sibuk dan makmurnya kegiatan.
Bang Edi, Sunan dan Daka yang sedang berkumpul disebuah ruangan perpustakaan sengaja mereka mengamati keadaan untuk dijadikan pelajaran.
"Memang dipikir-pikir saya terlalu ceroboh, pantas kang Dipa marahnya bukan kepalang, karena seperti yang pernah diceritakan bagaimana sikap kang suganda sekeluarga. Tapi yang terjadi didaerahnya malah sebaliknya, makanya sejak kejadia itu saya pun lansung pergi. Sebenarnya saya pun sedih dan kecewa. Sebab perkembangannya sudah bagus. Misalnya saja yang belajar silat sudah banyak , anak-anak yang mau belajar matematika sudah lumayan ada, tapi yah dasar harus terhenti" kata bang Edi mengungkapkan kekesalanya.
"Tapi Bang Edi yang sudah terjadi, yah sudah lah gimana lagi, yang penting sekarang, dari saat ini kedepan kita harus meng evaluasi, dimana kesalahannya, dan harus bagaimana perbaikannya" kata Daka.
Dan ketika para tamu sudah pada datang. Meraka mulai di sambut oleh para guru. Dan kemudian berbincang bincang dengan kepala sekolah Kang Suganda.
__ADS_1
Dan ketika para tamu mendatangi ruang kreasi anak, yaitu sebuah ruangan yang menyajikan tipe potensi bentuk percontohan prodak matematika. Dalam porum itu pengunjung bisa menyaksikan bagaimana konstribusi matematika dalam mewujudkan terjadinya sebuah prodak. Dalam ajang itu dilukiskan perjalan seseorang dari semenjak melihat sebuah benda sampai akhirnya membuat konsekuensi. Misalnya sebab akibat adanya kendaraan, sebab akibat adanya baju, sebab akibat adanya buku, sampai dalam porum itu digambarkan pula sebab akibat adanya teknologi. Akibatnya Banyak dari kalangan tamu yang penasaran ingin lebih tahu banyak, tentang bentuk alternativ dari sebuah rumus matematika. Karenanya banyak dari para tamu yang ingin megadakan tindak lanjut. Diantara para tamu, ingin mengundang Kang Suganda untuk mengadakan pembicaraan. Tentu saja kang suganda merasa bangga dan bersukur. Selain Itu anak-anak dari program bahasa . diantaranya ada yang berpidato, pidato bahasa Ingris, pidato bahasa arab, dan pidato bahasa Indonesia. Dan yang terakhir yang tidak kurang menarik nya dan mengudang decak kagum adalah pementasan pencak silat. Pencak silat yang diperagakan adalah pencak silat aliran sabda alam dimana gerakan itu tercipta oleh gerak alam yang pada pementasanya di iringi oleh irama kendang sehingga setiap nada suara kendang itu merupakan wakil wujud sebuah gerakan. Acara terus belangsung sampai selesai. sehingga membuahkan kesan yang luarbiasa bagi setiap orang yang menyaksikan.