Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 9


__ADS_3

Setelah pak Dasim mengucapkan terimakasih pada orang itu lalu keduanya melaju kearah yang dimaksud oleh orang tadi. Kira-kira kurang lebih satu jam mereka berjalan betul saja akhirnya mereka tiba disebuah rawa.


     "Ini barangkali yang dimaksud rawa Atun oleh orang tersebut."  Ujar pak Dasim sambil melirik ke arah Dipa yang ada di belakangnya.


     "Ya mungkin."  Sahut Dipa.


     Pak Dasim kemudian mencari cacing untuk umpan. Tidak sulit baginya karena tempat itu, tanahnya sangat gembur, berapapun cacing yang diinginkan bisa di dapat dengan mudah.


     Kemudian pak Dasim dan Dipa segera mempersiapkan pancingannya masing-masing. Dan setelah memasang umpan pada kailnya masing-masing lalu keduanya memilih tempat yang sekiranya pas.


Pak Dasim dan Dipa segera melemparkan umpannya. Clupp....suara air.... Kemudian beriak. Letak duduk keduanya tidak terlalu jauh, hanya sebatas jangkauan, tentu bisa mengobrol.


     "Nak Dipa, apakah nak Dipa punya rencana kedepan ?" Tanya pak Dasim membuka obrolan.


     "Ya tentu saja pak, masa begini terus."  Ujar Dipa, tapi matanya teta tertuju kearah air.


     "Bisa bapak tau, apa rencana nak Dipa kedepan ?"  Tanya pak Dasim.


     Sebelum menjawab pertanyaan pak Dasim, nampak Dipa menarik nafas dalam-dalam.


     "Pak....!"


     "Ya gimana ?"  Tanya pak Dasim penasaran.


     "Pak, sebelum dan sesudah bertemu dengan bapak, sebenarnya bisa diambil pelajaran dan bahan pemikiran. Pertemuan itu bisa diibaratkan sebuah momentum atau alasan yang bila di hubungkan dengan alasan saya mengagumi keberadaan bapak. Namun ada sesuatu yang mengganjal hati saya, keberadaan bapak itu justru sangat berbalik dengan keadaan disekelilingnya, yang berbudaya masabodoh. menurut penilain saya, keberadaan bapak dimata orang tak ubahnya seperti sampah."  Terang Dipa sambil konsentrasinya tetap tertuju ke air.


     "Lantas, selanjutnya pendiriaan nak Dipa bagaimana ?"   Tanya pak Dasim.

__ADS_1


     "Aku tentu saja punya pendiriaan pak.! Pendirian itu bukan sekedar hanya pendirian basa basi, tapi sebuah pendirian yang didukung oleh tekad ingin membantu bapak."


     "Maksud nak Dipa ?"


     "Kurang lebih sudah hampir satu tahun kita bersama-sama di lubang, kita selalu bersama-sama baik suka maupun duka. Dan yang paling menyentuh Pada saya, sikap dan prinsip bapak yang kuat, berbeda dengan prinsip-prinsip dan idiologi kebanyakan orang."  Tukas Dipa.


     "Hmmmmm.....!"  Hanya itu yang keluar, Dari hidung pak Dasim.


     "Di usia bapak yang sekarang, menurut bapak lima puluh tahun, sebenarnya boro-boro berpikir  cita-cita dan prinsip, yang jelas diusia itu dikalangan kita kebanyakan hanya bercerita tentang isi perut. Atau melakukan hal-hal yang tidak ada gunanya. Tapi lain dengan bapak, bapak tetap punya cita-cita kedepan punya prinsip-prinsip kedepan."  Sampai disana dulu kata-kata Dipa diselang melihat kearah air.


     "Iya nak Dipa."


     "Dan bapak selalu berceritera pengalaman demi pengalaman dalam setiap rencana yang bapak susun atau dipersiapkan bapak selalu gagal dan gagal sampai hari ini, aku tahu alasan bapak ingin mewujudkan suatu prinsip yaitu prinsip hakikat hidup, bahwa kita ini adalah manusia. Pak saya mengerti penilaian bapak tentang manusia, baru sekedar cangkang atau kesing. penilaiaan bapak yang dimaksud hakikat manusia harus untuk memenuhi kreteria manusia baik dipandang dari segi kesing maupun isinya atau hakikatnya, yang berupa karakter. Nah disekeliling bapak tidak mendukung sehingga terbayang oleh ku, betapa susah dan menderitanya, hidup ditengah-tengan orang yang berbudaya seperti ini !"  Ujar Dipa.


     "Nah hubungannya dengan yang bapak tanyakan apa?"  Tanya pak Dasim.


     "Ahh yang benar saja nak Dipa, jangan bercanda."  Sergah pak Dasim.


     "Saya tidak bercanda pak, itu serius !"  Tegas Dipa.


     "Coba nak Dipa jelaskan, kreteria penjabarannya ?"  Pinta pak Dasim.


     "Baik pak, Sekarang saya ingin bertanya pada bapak, Apa hakikat nikah ? Apa hakikat punya anak ?  Dan apa hakikat berumah tangga. Dan masih banyak lagi pak hal-hal yang dilakukan oleh manusia sebenarnya perlu untuk dikaji !"


     "Waduh benar, bapak pernah membahas semua ini."  Tukas pak Dasim.


     "Iya, bapak pernah membahas salah satu pembagian dari materi yang pernah bapak bahas, yaitu kreteria diatas tadi, seperti menikah, berumah tangga, punya anak, dan sebagainya. Batasan kesing antara hakikat manusia dengan binatang, seperti yang pernah bapak jelaskan, bahwa kita nikah binatangpun kawin dan punya anak, Kita makan dan binatangpun makan, jadi kalau hanya mengejar dari segi lahiriahnya saja,sepertinya tidak ada bedanya antara manusia dan binatang."  Sampai disana Dipa menghentikan kata-katanya. Kini perhatianya mendadak teralihkan pada tali pancingan yang bergerak-gerak, Dan pelampung pancingan yang terbenam.

__ADS_1


     "Nak Dipa.....Disanggut !"  Teriak pak Dasim.


     "Iya pak,."  Kata Dipa seraya memungut joran itu dan kemudian dihentakkan, maka benar saja se'ekor ikan lele yang lumayan besar bergelantungan di jorannya.


     "Wah......Satu kosong nak, bapak kalah."  Kelakar pak Dasim.


     "Belum tentu pak, ini baru permulaan."  Kata Dipa.


     Dipa segera mencopot mata kail yang terkait di mulut ikan itu. Kemudian setelahnya ia kembali memasang umpan pada mata kailanya. Huppp..... mata pancing dilemparkan kembali..... Plungggg......! Suaranya terdengar.


     Sementara pak Dasim masih terlihat asyik Dengan jorannya.


     "Ayo nak Dipa teruskan obrolannya.!"  Pinta pak Dasim sambil tersenyum.


     "Sampai dimana tadi pak ??"  Tanya Dipa sambil mengerutkan dahinya, mengingat-ingat kata yang tertunda tadi.


     "Sampai tidak ada bedanya antara manusia dan binatang.!"  Ucap pak Dasim membantu mengingatkan.


     "Ohh ya.... Iya Jadi kalau manusia, nikah hanya sebatas punya anak dan punya anak sampai cuma besar, dan makan cuma sebatas kenyang dan enak, apa bedanya dengan hewan."


     "Semestinya gimana.?"  Potong pak Dasim.


     "Semestinya harus ada perbedaan yang signifikan pak."  Tegas Dipa.


     "Coba Jelaskan nak.?"  Pak Dasim tambah penasaran.


     "Nikahnya manusia dan kawinnya binatang, dari segi prosedurnya saja sudah berbeda, nikahnya manusia adalah proses manusiawi menuju bentuk lain ketingkat sosial yang disebut rumah tangga.! Yang pelaksanaannya diatur oleh hukum agama kemudian oleh negara disahkan. Sedangkan kawinnya binatang bisa bagaimana saja dan dimana saja. Dan jika hasil perkawinan itu kebetulan menghasilkan anak, maka untuk hewan yang bisa dikonsumsi, hakikat anak hewan tersebut adalah generasi yang siap disembelih untuk dikonsumsi. Dan yang tidak dikonsumsi yahhh.... generasi hewan tersebut dinamakan generasi sia-sia."  Papar Dipa berapi-api. "Nah pak Dasim, kalau manusia tidak tau hakikat anak hasil perkawinan itu harus bagaimana, sifat dan bentuknya, diakui atau tidak generasi yang terjadi, akan menjadi generasi yang sia-sia."  Tukas Dipa sambil Tanganya memungut joran, dan sebentar kemudian joran itu disimpan kembali. "Generasi manusia secara kualitas akan membentuk warna sebuah wilayah atau ekosistem sedangkan kualitas manusia dari segi jumlah atau kuantitas yang ada tersebut akan membentuk sosial budaya. Nah kita perhatikan sosial budaya sekarang dengan sosial budaya binatang, saya rasa seperti tak ada bedanya, semestinya manusia itu karena mengenyam pendidikan dan dikontrol oleh etika, aturan hukum baik yang direalisasikan oleh negara atau diisaratkan oleh agama, semestinya harus tampil beda dari mahluk yang lainya, cara makan manusia yang masih saya lihat, kan masih manual seperti binatang, cuma bedanya binatang memakan rumput, sementara manusia memakan nasi. namun cara mendapatkannya hampir sama dipertontonkan manual, hanya bergeser sedikit..... Wah pak, masih banyak lagi yang sebenarnya sangat perlu dipikirkan."

__ADS_1


     "Hmmm..... tak disangka, pemikiran nak Dipa sudah sampai disana, nah itulah nak Dipa, mengapa bapak selama bertahun-tahun berusaha mensosialisasika pemikiran bapak itu dengan berbagai usaha dan rencana, baik secara pribadi maupun lewat silaturahmi. Dan mengajak bertukar pikiran dengan media atau jembatan yang ada di masyarakat. Namun semua itu sampai kini cuma mimpi dan mimpi. Bapak sadar bahwa yang kini sedang berlangsung hanyalah dunia aksesoris.!"


__ADS_2