Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episide 38


__ADS_3

Wiranta dan Dipa, mereka akhirnya sampai subuh tidak tidur, mereka begadang sampai adzan subuh berkumandang. Besoknya kira-kira jam sembilan, Wiranta sudah ada di rumah Dipa, dia sengaja datang ke rumah Dipa, ada sesuatu yang ingin diobrolkan.


"Dip, tadinya akang akan pulang dulu menjemput istri, tapi kata adik ipar, Si Herman katanya istri dan anakku akan ke sini tapi tidak lewat laut akan lewat kendaraan darat jadi mungkin agak lama" kata Wiranta sambil memandang ke kolam.


"Kalau adik ipar Kang Wiranta kapan kesininya" Tanya Dipa


"Katanya kemarin." Jawab Wiranta."Anu Dip, akang penasaran ada sesuatu yang ingin diobrolkan."


"Tentang apa kang Wiranta?" Tanya Dipa.


"Begini Dip akang sangat Kaget ketika akang melihat gerakan Dipa. Walaupun akang belum pernah belajar ilmu itu, berhubung keburu berpisah, namun akang hapal kalau ilmu yang Dipa kuasai itu adalah ilmu bela diri Kedapraga dan Bulan Bandawasa, yang menjadi pemikiran akang adalah, apakah guru misterius yang mengajar Dipa itu apakah Ki Panji Guru akang juga, atau beda orang lagi. Maksud akang adalah saudara seperguruan guru akang, hal itu didasari oleh kesamaan-kesamaan gerakan. Maksud akang, ada gerakan yang diperagakan oleh Dipa sebenarnya akang juga sudah punya. Juga gerakan-gerakan Kedapraga yang materinya dari nada dan irama kendang, akan sebagian sudah punya namun, itu hanya warnanya saja, kalau kualitasnya belum. Menurut Dipa setuju tidak kalau pada suatu waktu kita ketempat itu, ya maksud akang ketempat waktu Dipa dirawat, maksudnya akang ingin bertemu gurunya Dipa." Tutur Wiranta


"Kang Wiranta, ketika Dipa hendak meninggalkan itu tempat, guruku berkata supaya jangan mencarinya lagi ketempat itu, percuma tidak akan ketemu! Tempat itu, katanya akan hilang. Kalau tidak percaya, bagi Dipa siap-siap saja untuk pergi kesana tapi tidak janji." Mendengar penuturan Dipa demikian Wiranta mendadak termenung.


"Iya gitu Dip? Akang bukan tidak percaya, namun terdorong oleh rasa penasaran. Makanya pada suatu waktu kita kesana tidak apa-apa, anggap saja hiburan!" Tukas Wiranta.


"Siap, pada suatu waktu kita akan kesana supaya akang yakin." Kata Dipa.


"Akang percaya, tapi masalahnya, anggap saja rekreasi sajalah." Kata Wiranta lagi sambil tertawa.


"Siap!" Seru Dipa.


Seterusnya wiranta dan Dipa masih sekitar itu yang Diperbincangkan, namun sekarang obrolanya ditambah kehal-hal yang nyerempet ketamu yang tak diundang itu. wiranta benar-benar penasaran.


"Seandainya saat itu bisa ditangkap, tentu kita bisa melihat wajahnya. Sebab saat itu wajah mereka tertutup kain." Sesal Wiranta.


"Sama, Dipa juga menyesal, tapi perlu kita ketahui bahwa mereka sangat berilmu tinggi, buktinya mereka berkali-kali terkena oleh pukulan Bulan Bandawasa tapi walaupun ada dampaknya, tapi kenyataannya mereka masih bisa kabur, padahal kata guruku jarang orang yang mampu menahan pukulan jurus Bulan Bandawasa." Ujar Dipa menjelaskan.


"Oh begitu, tapi memang, seandainya akang tidak keburu tertolong oleh Dipa saat itu, entah apa yang akan terjadi pada akang." Kenang Wiranta.

__ADS_1


"Yah itukan pertolongan yang maha kuasa." Tukas Dipa "Dipa hanya pelantara saja."


"Oh ya, ngomong-ngomong sekarang rencana Dipa kemana?" Tanya Wiranta.


"Entahlah mancing melulu bosan" Sahut Dipa.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita cari sayuran, kita mencari kentang dan kaca merah." Usul Wiranta.


"Baik kita buat perkedel ikan tongkol." Kata Dipa " Tapi ngomong-ngomong ikannya mana?"


"Gampang kita ke pasar lelang saja mumpung masih siang." Tukas wiranta.


Seterusnya Dipa dan Wiranta bergegas untuk berangkat mencari sayuran dan ikan tongkol.


Tapi baru juga mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari jauh Dipa melihat Herna menuju ke arahnya. Dari kejauhan Herna sudah terlhat tersenyum.


"Yah kalau begitu Dip sekalian saja, kan kamu juga butuh sayuran, untuk masak nanti." Tukas Wiranta


"Betul." Sahut Dipa.


Akhirnya ketiganya segera bergegas menuju rumah Herna. Setibanya di rumah Herna. Dipa langsung menghampiri motor yang diparkirkan di depan rumah Herna.


Motor melaju perlahan, menelusuri jalan kampung, kemudian tembus kejalan utama kota itu.


"Kang Dipa apakah semua persaratan sudah siap?"Tanya Herna.


"Sudah Dik." Tukas Dipa.


Dipa menjalankan motornya, santai tidak dengan kecepatan maksimal, namun karena diselingi obrolan dengan sang kekasih tentu saja, segalanya jadi serba betah. Akhirnya setelah menempuh pernalanan satu jam, mereka sampai disebuah pasar khusus yang hanya menyediakan sayuran. Setibanya di sana Herna lansung saja menuju sebuah kios yang paling depan. Melihat Herna, si pemilik kios lansung menyambut Herna dengan ramah.

__ADS_1


Herna berucap salam dan langsung dibalas oleh si pemilik kios.


"Neng Herna, rupanya besok pesanan Neng Herna baru bisa diantarkan." Kata si pemilik kios, yang sebenarnya sudah mengenal Herna sebab dulunya dia orang kampung Bahari.


"Betul bang Adul, tapi ada penambahan lagi, kentang sekian kilo lagi, nanti hitungan dengan ibu disana." Kata Herna.


"Oh ya Neng itu sih gampang, tapi yang menjadi persoalan, adalah kelengkapannya, jangan sampai pada waktunya kurang. Sebab kalau mendadak, khawatir barangnya tidak ada." Jelas Bang Adul.


"Oh ya selengkapnya ada dalam tulisan yang tempo hari ibu tulis." Tegas Herna sambil larak lirik ke sekitar tempat itu. Selanjutnya setelah segalanya dianggap beres, Dipa dan Herna segera berlalu.


"Kita mencari keperluan masak hari ini saja Kang Dipa!" Kata Herna


"Iah Dik " Tukas Dipa.


Dan selanjutnya Herna dan Dipa mendatangi kios lain untuk mencari keperluan dapur. Setelah apa yang diperlukan sudah didapat, maka Herna kembali ke kiosnya Bang Adul untuk mengambil motor yang diparkirkan di sana.


"Kang Dipa katanya mau buat perkedel. apa kita cari ikan, atau apa? Untuk buat perkedel." Kata Herna.


"Oh ya, daging sapi saja sekilo." Kata Dipa. "Atau Adik tunggu disini, akang mau beli dulu daging!"


"Baik kang." Tukas Herna.


Setelah dianggap cukup, Dipa segera menghampiri motornya, dan setelah menghidupkan mesin, motor segera melaju. Sebenarnya dalam hati Dipa ada sesuatu yang mengganjal, Dipa sangat teringat pada Bu Mira, ibu angkatnya, seandainya dia masih ada, tentu Dia akan memberitahukan, acara pernikahannya. Tapi pikirnya tidak salah juga jika ia memberi tahu pada pak Jono ayah angkatnya. Tapi juga bukan masalah, mau tidak mau, tapi apakah pak Jono masih tinggal disana? Atau sudah meninggalkan kampung itu. Ah bingung kata Dipa pikir dalam Hati. Tapi biarlah tak usah menghubungi pak Jono juga, sebab dihubungi juga belum tentu sampai. Keadaan seperti ini, oleh Dipa berkali-kali diceritakan pada keluarga Herna. Tapi itu semua tidak mengurangi sikap keluarga Herna pada diriya. Sehingga kata Dipa jangan heran bila pada waktunya nanti, keluarga Herna tidak akan melihat seorang pun dari keluarganya yang datang. Sebab kata Dipa, baik dirinya ,maupun Pak Dasim, sebatang kara tak punya keluarga. Herna sekeluarga sebenarnya sangat sedih dan terharu mendengar kesaksian Dipa yang demikian, tapi mereka, segera menghibur Dipa dengan mengatakan, kan sekarang Dipa dan Pak Dasim sudah punya keluarga, tidak sendiri lagi.


Tapi ada yang membuat hati Dipa merasa tenang dan yakin, yaitu melihat sikap Herna sekeluarga yang sama-sama akan menjalani alur hidup sesuai dengan kodrat yang sudah digariskan oleh yang mahakuasa. Mereka tidak akan berani ikut campur pada ketentuan yang mahakuasa. Ngomongnya juga kata keluarga Herna, selama itu sebuah ketentuan, mereka tidak akan berkata-kata mengapa begini mengapa begitu, seolah-olah tidak terima ketentuan yang mahakuasa. Mereka sudah siap, apa-apa yang dilakukan oleh keluarganya bukan semata-mata karena manusia, tapi semuanya karena pengabdian kepada yang mahakuasa. Dipa sudah tahu, Prinsip keluarga Herna tidak seperti umumnya masyarakat yang ada. Sehingga ketika mereka memilih atau menentukan calon suami atau istri. Pada umumnya hanya formalitas saja, misalnya ingin calon suami atau istri yang baik, yang soleh, yang beranggung jawab, dan lain-lain, itu artinya kalau sudah diomongkan, sudah cukup, mau baik atau tidak, terserah. Tapi bagi keluarga Herna tidak, hal itu dibuktikan, pada suatu hari, pernah berdiskusi dengan pak Danu sekeluarga, yang dipersoalkan adalah konsekuensi masing-masing tentang suatu prinsip. Kata keluarga Herna memilih Dipa sebagai suami Herna karena Dipa memiliki prinsip, bahwa hidup adalah pengabdian, karena pengabdian tak ada suatu yang bisa lolos dari sifat pengabdian, jadi perbuatan baik atau buruk semuanya berdasarkan keyakinan Dipa dan keluarga Herna, semuanya tidak akan bisa lolos dari pemantauan yang mahakuasa. Sehingga karena prinsip ini diantara kami tidak akan ada lagi rasa kekhawatiran atau rasa curiga mencurigai, tapi diantara kami sebaliknya akan penuh dengan rasa saling percaya. Karena masing-masing tidak merasa mengabdi pada manusia yang suka berbohong dan bisa dibohongi. Tapi kami mengabdi pada yang mahakuasa yang tak pernah berbohong dan tidak bisa dibohongi.


Singkatnya cerita, hari bersejarah yang dinanti-nantikan oleh Dipa dan Herna sekeluarga termasuk Pak Dasim, sudah tiba. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, Tidak bisa digambarkan dengan cerita bagaimana bahagianya  keluarga Herna dan Pak Dasim, menghadapi jalannya pesta pernikahan Dipa dan Herna. Tapi juga tidak bisa lepas dengan linangan airmata yang menitik keluar dari sudut kelopak mata, seperti mengandung makna berbagai lukisan keadaan hati pada masing-masing pribadi yang bersangkutan.


Pada kesempatan itu hampir seluruh keluarga Herna datang memberikan selamat pada keluarga Herna. Mereka memberikan selamat dan memberikan dia restu. Nah hal Ini pun barang kali bagi Herna dan Dipa sudah cukup menggugah hati masing-masing. Dipa dan Herna menyadari bahwa hari esok adalah hari pertama mereka untuk siap menghadapi lepas dari masa-masa jejaka dan gadis, mereka akan menjalani masa hidup berumah tangga.

__ADS_1


__ADS_2