Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua

Mimpi-Mimpi Gelandangan Tua
Episode 49


__ADS_3

Dari keterangan yang di peroleh dari Si Jaro, bahwa dia di perintah oleh Sibelo yang nama aslinya Si Dado. Maka seketika itu juga pihak keamanan segera mencari si Dado alias Si Belo. Sedangkan si Jaro dan kawan-kawan segera dibawa oleh keamanan untuk di proses secara hukum. Akhirnya dari pihak keamanan mendapatkan informasi, bahwa si belo itu adalah orang yang sedang dicari oleh yang berwajib, dia termasuk buronan yang berbahaya. Pada suatu hari Daka dan Sunan dibuat gemes oleh tindakan Belo, karena dia telah membuat kekacauan. Mungkin maksud Si belo ingin mancing supaya masarakat benar-benar resah. Dengan demikian mereka akan putus asa. Tetapi dengan keadaan seperti itu, pihak keamananpun tidak diam, dari pihak kepolisianpun segera disebar, untuk melacak jejak Si Belo. Sehingga saat itu masyarakat merasa aman.


Pada suatu hari, Daka dan sunan sedang ada dirumahnya Aria, bersama Bu Halimah, sekeluarga, juga para guru terutama Bu Siti dan suaminya yaitu Pak Wildan, juga tidak ketinggalan Neng Putri . Kurang lebih tiga minggu aria tidak bisa masuk sekolah, selama itu wajahnya terus dibalut pereban. Dan ketika sembuh, ternyata luka bakar itu jadi menimbulkan cacad.


Perkembangan pendidikan di pesantren Al-Jabar tenyata, setahap demi setahap sudah bisa terlhat hasilnya. Alat-alat yang telah dibuat menurut teori matematika, setahap- demi setahap telah bisa disosialisasiakan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mempelajarinya, termasuk para siswa. Malah dari kalangan orang tua murid sudah memberi predikat pada pesantren ini adalah pesa tren ilmiah, karena didalamnya sangat mengalakan hidup yang penuh rencana dan penataan. Banyak kalangan dari luar daerah yang berdatangan. Tentu saja bagi Bang Edi merupakan kebanggaan, karena semua ini adalah karunia dari yang maha kuasa. Pada suatu hari ketika Dipa baru saja tiba. Dipa segera memberitahukan bahwa dirinya tidak akan aktip secara rutin, karena ia diperlukan di pesantren An-Nur menggantikan ayahnya. Ayahnya sudah harus banyak istirahat kata Dipa, tapi bukan berarti dirinya akan lepas begitu saja, seadainya diperlukan Dipa bersedia untuk datang.


"Terimakasih Kang Dipa, atas segala perhatiannya, dan saya ingin menengok ayah kang Dipa. Oleh karena nanti sama sama saja." Ucap Bang Edi. "Tapi sehat kan, bapak Kang Dipa?" Tambah Bang Edi.


"Allhamdulillah sehat!" Sahut Dipa.


"Oh ya Kang Dipa beristirahat dulu saja." Kata Bang Edi.


"Terima kasih Bang" sahut Dipa sambil iapun masuk kekamar yang biasa kalau ia sedang ada disana.

__ADS_1


Sebenarnya rupa-rupa pertanyaan sudah numpuk dalam dalam benak Dipa, selama dua bulan lebih dirinya tidak ke tempat ini. Bukan tidak ingat tapi itu semua karena keadaan disana sangat perlu. Memang sebenarnya disana juga sudah banyak generasi, yang telah berhasil ditunaskan, tapi menurut Kang suganda, tetap urusan komitmen tidak boleh terputus. Artinya kedudukan yang penting dalam kepesantrenan tidak boleh dipegang oleh orang luar, hal ini dimaksudkan untuk menjaga amanah. Kalau sepintas tadi dari Bang Edi sudah mendengar beberapa kejadian yang beruntun termasuk kejadian yang menimpa Aria salah seorang murid pesantren, Dipa sebenarnya sangat kagum dan terharu oleh kepahlawanan Aria. Makanya sebenarnya Dipa ingin bertemu, tapi berhubung masih lelah, ke inginannya itu di tangguhkan.


Bang Edi memanggi pesuruh sekolah.


"Pak Komar Domba yang jantan itu biar saya beli, kan ada tiga" Kata Bang Edi pada pesuruhnya


"Oh baik pak, tapi ngomong ngomong mau dibawa kemana?" Tanya Pak Komar


"Baik pak." ucap Pak Komar.


Seterusnya, Pak komar segera pergi, maksudnya, akan menemui yang laun untuk melaksakan perintah Bang Edi. Pertama-tama Pak Komar menyurum anaknya Patron unruk mengurus keperluan menyembelih domba itu.


"Ia pak aku akan panqgil dulu Suba dan Bang Tora sebagai tukang jagalnga." Kata patron

__ADS_1


"Yah gitu saja pokoknya sampai beres saja, nati kalau sudah beres kasih tahu saja bapak si sekolah!" Ucap paka Komar. Sambil terus berlalu maksudnya hendak kembali kesekolah.


Kira-kira ba,da magrib dilingkungam pesantren sangat ramai, bang Edi mengudang semua santri santrinya untuk acara makan- makan. Dalam kesempatan itu Dipa sengaja ingin betemu dengan Aria. Wajah Aria yang cacat akibat luka bakar, membuat hati Dipa terharu, dan dalam hati Dipa memuji, bahwa Aria bukan anak sembarangan, tetapi anak yang memiliki budi pekert tinggi sangat peduli sesama. Dipa dalam hati berdoa, agar kelak Aria menjadi orang cukup, bukan jadi pengemis, dan jangan sekali-kali mengharap belas kasihan.


Setelah ba,da isaya obrolan dlanjutkan di rumahnya bang Edi dalam kesempatan itu, terjadi tanya jawab, yang utamanya menanyakan kejadian kejadian yang pernah terjadi. Oleh BangEdi segera di jelaskan duduk perkaranya. Pokoknya untuk sementara kampung Teluk Jambal khususnya hampir setiap malam diadakan siskamling, untuk menjaga keamanan daerah. Dan Edi tidak lupa menyu ggung peraran Sunan dan Daka yang sangat membatu, terciptanya ktertuban. Dipa mengerti, bahwa semua ini tidak lepas dari peranan Sunan dan Daka muridnya yang rajin mempelajari ilmu silat dan ilmu dasar-dasar matematika. Padahal kalau dipikir sepintas lalu, apa hubungannya pelajaran matematika dengan ilmu silat. Tapi bukan masalah hubungan mata pelajarannya, tapi sumbangan orang yang mempelajarinya bagi kepentingan pendidikan. Cob, kalau tidak ada yang mau belajar silat seperti Daka dan sunan tentu tidak ada yang mengajar silat di pesantren itu, juga seadanya Daka dan Sunan tidak mempelajari silat, tentu ketika menghadapi gangguan Si Jaro dan kawan -kawannya mungkin akan Kewalahan kalau tidak ada Sunan dan Daka. Maka bagi Dipa wajar kalau dirinya sangat kagum pada pribadi Daka dan Sunan, malah kalau di sangkut pautkan, bisanya Aria silat dan memiliki kepribadian itu, ini sebenarnyatidak bisa dilepaskan dengan peranan Daka dan Sunan selaku gurunya Aria. Peranan Daka dan aria, diakui atau tidak, sebenarnya sudah menyambung matarantai perjuangan ayahnya Pak Dasum dan Dirunya. Juga mudah-mudahan dengan adanya Aria, bisa menjadi mata rantai bagi Sunan dan Daka di pesantten Al-Jabar. Seterusnya Dipa menanyakan, tentang para pengajar yang ada terutama u tuk pelajaran praktek matematika. Kata Bang Edi masih tetap malah sekarang istrinya dan adik iparnya sudah bisa di bantukan. Kata bang Edi kalau yang dulu hasil dari pelatihan seprti Pak Yanto dan Pak Moris mereka masih eksis.


Seperti biasa ketika Dipa ada di sana, Daka dan sunan selalu memanpaatkan kesempatan untuk


memunta saran atou mu ta masukan tentang hal-hal yan ada kaitanya dengan ilmu. Tentu saja Dipa tidak keberatan, utamanya bagi Dipa merasa setuju memang seharusnya begitu seperti yang ia inginkan ,memperlihatkan kesemangatan. Namun yaitu berhubung keadaan nya seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa dirinya sudah tidak leluasa lagi, maka Dipa menyarankan, agar nanti apabila suanan dan Daka ada kerlua sebaiknya datang saja sewaktu waktu ke kampung Bahari untuk mempelajarinya lebih lanjut. Tapi untuk sekedar mengisi waktu dan ajang perpisahan, Dipa tidak keberatan bilamalam itu untuk memberikan contoh-contoh beberapa bentuk baru, gerakan yang harus di hapal oleh Sunan dan Daka.


Beberapa bulan kemudian, perkembamgan pesantren Al-Jabar makin melambung. Walaupun akibatnya bagi Bang Edi kini harus memikirkan penambahan. Saran bangunan. Hal ini untuk mengatasi jumlah santri yang bertambah.


Pada suatu hari pesantren Aljabar menerima santri titipan, maksudnya santri-santri itu adalah kader kader salah satu pesantren di suatu kota, mereka senganja dikirim suatu pesantren untuk dujadikan kader disananya. Para kader itu sengaja dikirim untuk mepelajari seluk beluk mengenai imu matematika yang kaitannya dengan,kepesantrenan. Aria yang kini sudah kelas tiga di Alliyah, dan di pesantrennya sebagai lurah santri. Ia dipercaya sebagai penata acara bagi para kader, Ia di percaya sebagai pembimbing para kader yang jumlahnya sembilan orang. Namun peranan Aria demikian tidak lepas dari pengawasan, Sunan Dan Daka atas Ijin Bang Edi selaku pimpinan pesantren.

__ADS_1


__ADS_2